Kisah Seram Gunung Ungaran

Pengalaman ini terjadi ketika saya masih remaja, kira-kira saat berumur 17 tahun. Ketika itu, rasa penasaran saya pada dunia makhluk gaib masih sangat besar. Di mana ada kabar tentang tempat angker pasti akan saya sambangi. Suatu malam bersama beberapa teman, kami menyambangi ke salah satu daerah yang masih merupakan kawasan kaki Gunung Ungaran. Letak Gunung Ungaran berada di Kabupaten Kota Semarang.

Di tengah gelapnya malam, dengan penerangan senter seadanya, kami bersembilan mulai menembus ilalang dan pepohonan. Sampai di sebuah sisi lembah, kami berhenti dan menggelar tikar. Bersembilan kami duduk di atas tikar dengan posisi saling berhimpitan. Jujur, ada rasa was-was menghantui pada saat itu. Beberapa pikiran konyol mulai muncul. Bagaimana kalau tiba-tiba muncul ular berbisa? Bagaimana kalau ada macan liar yang sedang lapar?.

loading...

Sembari menepis pikiran-pikiran itu, kami sepakat untuk diam, tenang, dan melatih kepekaan terhadap gejala alam yang siapa tahu akan menampakkan keganjilan. Benar, beberapa menit setelah kami tenang, terdengar sayup-sayup suara perempuan meminta tolong. Kami semua terkejut. Berdiskusi satu sama lain. Benarkah itu suara perempuan meminta tolong?.

Akhirnya, kami sepakat untuk tidak menghiraukan suara tersebut. Suasana kembali tenang sesaat. Tiba-tiba kami dikejutkan lagi oleh seorang perempuan berbaju putih panjang yang terbang melintas di atas kami. Tidak hanya terbang melayang, makhluk itu mengeluarkan suara perempuan yang sedang tertawa. Tanpa komando, kami bersembilan segera berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan.

Tak lama kemudian, perempuan bergaun panjang tersebut menghilang entah ke mana. Setelah kejadian itu, saya dan semua teman sepakat untuk segera pulang. Namun, belum sempat berdiri, kami dikejutkan oleh pemandangan yang janggal. Dari sudut lembah di kaki gunung, kami semua melihat serombongan pasukan berpakaian lengkap seperti pada zaman kerajaan sambil membawa obor. Lengkap dengan pedang di pinggang dan ada yang memegang tombak.

Beberapa tampak menunggang kuda. Jaraknya hanya 50 meter di depan kami. Kami semua bengong, takjub, dan berdiri mematung. Setelah rombongan pasukan kerajaan tersebut lewat dan hilang ditelan rimbunnya pohon dan kegelapan malam, kami pun meninggalkan kaki Gunung Ungaran. Jeritan minta tolong, ringkikan tawa perempuan berjubah putih, dan serombongan pasukan kerajaan adalah pengalaman yang pernah saya temukan di kaki Gunung Ungaran. Mungkin Anda juga pernah mendengar kisah itu, terutama warga sekitar.

Perjalanan pulang kami tergolong lancar. Kebetulan kami memilih pulang lewat jalur hutan karet di daerah Boja. Pada tahun itu, daerah tersebut belum seramai sekarang. Sepanjang jalan yang ada hanya hutan karet yang terkenal angker. Kami mengendarai lima motor. Karena bersembilan, salah satu dari kami, sebut saja Wahyu, mengendarai motor sendiri. Secara beriringan, motor-motor kami menembus dinginnya malam. Saling salip di antara kami pun sesekali terjadi.

Saat hendak melewati ujung hutan karet, Wahyu menyalip kami hingga dia berada paling depan dalam konvoi motor. Karena dia berada paling depan, kami bisa melihat secara jelas sosok Wahyu dan motornya. Tiba-tiba kami yang ada di belakang Wahyu menjerit. Ternyata kami melihat Wahyu diboncengi pocong yang bersandar di punggungnya tanpa dia sadari.

Share This: