Kisah Sidi Nouman (Ghoul)

Sebuah cerita seram tentang seorang pria yang menikahi seorang wanita bernama Amina, di mana dia belum pernah melihat wajahnya. Kisah ini berdasarkan cerita rakyat kuno di negara-negara Arab, dalam kisah-kisah 1001 malam. Ada seorang pemuda bernama Sidi Nouman yang berasal dari keluarga kaya. Dia sudah ingin menikah, namun belum pernah bertemu dengan pengantinnya. Dia bahkan tidak pernah melihat wajah gadis itu.

Mengikuti kebiasaan saat itu, pernikahan diatur oleh orangtuanya. Dan bagi wanita yang ingin menikah harus menjaga wajahnya tetap tersembunyi di balik cadar hingga lewat hari pernikahannya. Apa yang diketahui oleh Sidi hanyalah nama gadis itu Amina. Ketika pernikahan itu telah selesai, Sidi sangat penasaran dengan wajah pengantin baru yang pulang bersamanya. Di kamar tidur mereka, Amina membuka cadarnya.

Sidi kemudian terkejut dengan kecantikan yang mempesona dari istrinya. Diselimuti keceriaan, dia menggendong istrinya dan memeluknya erat-erat. Dan bulan madu mereka dimulai. Setelah hari pernikahan itu, Sidi Nouman dan istrinya tengah duduk di ruang makan. Pelayan kemudian datang dan menghidangkan berbagai makanan lezat di atas mejanya. Entah mengapa, ketika Sidi tengah menyantap makanannya, dia kemudian menyadari bahwa istrinya itu belum memakan apapun.

Ketika melihatnya, Amina kemudian menarik sebuah kotak besi yang kecil dari sakunya dan membukanya. Dia lalu mengambil sebuah jarum panjang dan menggunakan jarum itu untuk mengambil nasinya, bulir demi bulir. Setelah hanya memakan beberapa bulir nasi, Amina menaruh kembali jarum itu di tempatnya dan meminta permisi dari meja makannya.

Di hari-hari berikut setelah itu, kapan pun mereka makan bersama, Sidi menyadari bahwa istrinya jarang makan sama sekali. Kadang-kadang dia hanya menelan beberapa potong roti lalu duduk ke belakang kembali, dan bilang sudah kenyang. Tingkah lakunya yang aneh mulai membuat Sidi khawatir. Suatu malam, ketika Amina mengira suaminya sudah tertidur pulas, wanita itu pelan-pelan turun dari ranjangnya.

Sidi hanya berpura-pura tidur dan ketika mendengar istrinya bangun dari tempat tidurnya, dia menjadi curiga. Tetap menutup matanya rapat-rapat, dia mendengar istrinya berpakaian dengan tergesa-gesa dan menyelinap tanpa suara keluar kamar. Ketika istrinya sudah pergi, dia segera bangun dan berpakaian untuk mengikutinya. Melihat dari jendela, dia menyaksikan istrinya meninggalkan rumah dan berjalan di jalanan.

Dia berlari turun keluar pintu depan dan mengejarnya di bawah cahaya bulan yang menyeramkan, menuju ke sebuah pemakaman. Saat itu sudah larut malam dan pemakaman itu sangat hampa. Sidi menyusup dalam bayang-bayang dan mengintip dari balik tembok pemakaman. Pria itu kemudian terkejut, ketika melihat Amina menuju ke tengah-tengah makam di mana dia bertemu dengan seorang pria yang sedang menggali sebuah kubur. Sidi terlalu jauh untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

Bersama-sama, Amina dan pria itu menggali sebuah makam yang baru dan membuka petinya. Sidi kemudian terperangah dan takut, ketika melihat mereka menarik keluar tubuh yang membusuk di dalamnya, memotong-motongnya dan memakan bagian mayat itu. Menyantapnya dengan buas dan lahap untuk memuaskan rasa lapar mereka. Masih bertahan di tempatnya bersembunyi, Sidi gemetar menyaksikan pemandangan itu.

Ketika sudah selesai menyantap semuanya, Amina dan pria misterius itu mengumpulkan tulang-tulangnya dan memasukkan mereka kembali ke tempatnya, menutupinya dengan tanah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan, Sidi terpaksa pergi menjauh dari pemakaman itu. Berlari kembali ke rumah dan naik ke ranjangnya, berpura-pura tidur ketika istrinya kembali. Amina pun melepas gaunnya dan menyelinap dalam selimutnya, tak mengetahui bahwa rahasia buruknya telah terbongkar.

Sidi Nouman tidak bisa tidur di sisa malam itu, dan di pagi harinya, dia pergi dari rumahnya sebelum Amina bangun. Dia menuju ke kota untuk bertanya kepada seorang cenayang dan mencari tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memberitahu padanya tentang pernikahannya dengan Amina, kebiasaan makannya yang mencurigakan dan pemandangan mengerikan yang dilihatnya saat di kuburan.

“Istrimu seorang Ghoul,” kata cenayang itu. “Salah satu setan yang berkeliaran di kota ini, membuat sarang mereka di gedung-gedung tua yang terbengkalai dan menyelinap di antara orang-orang untuk memakan daging mereka. Jika mereka tidak menemukan mangsa yang hidup, mereka akan pergi ke makam-makam untuk mencari mayat”.

“Apa yang harus kulakukan?” Sidi memohon dengan berlinang airmata. “Kumohon katakan padaku.” Cenayang itu kemudian memberinya sebuah botol kecil di tangannya yang berisi cairan berwarna gelap. “Ambil ini dan pulanglah segera.” katanya. “Ketika tiba saatnya, lempar ramuan ini ke matanya dan kamu akan melihat apa yang harus kamu lihat”.

Ketika Sidi pulang ke rumah, saat itu tepat waktu makan siang mereka. Istrinya kemudian menyambutnya, dan mengantarnya ke meja makan. Pelayan kemudian menyajikan beberapa makanan di hadapan mereka. Seperti biasa, Amina mengeluarkan kotak besinya, mengambil jarum dan mulai mengait nasinya satu demi satu, dan menaruhnya di dalam mulutnya.

“Kenapa Amina?” kata Sidi pelan. “Apakah ada yang salah dengan makanannya?”.
“Tidak, Aku hanya tidak lapar.” jawabnya.
“Mungkin ada sesuatu yang lain, yang ingin kamu makan?” Sidi mengatakan itu dengan senyuman sinis di wajahnya. “Dari semua ini, pasti tidak ada yang lebih manis dari daging busuk sebuah mayat”.

Tak lama setelah mendengar kalimat itu, Amina berubah menjadi kasar. Wajahnya menjadi ungu, matanya melotot seperti ingin meloncat dari tempatnya. Menunjukkan giginya, Amina menyeberangi meja itu dan dengan kasar mencoba menangkap Sidi. Tapi dia terlalu lambat. Sidi telah membuka botolnya dan melemparkan cairan di dalamnya ke mata Amina.

loading...

Segera Amina yang cantik rupawan, wajahnya berubah menjadi hitam. Kulitnya mulai berasap dan daging yang menempel di tubuhnya, berjatuhan dari tulangnya. Sidi ketakutan menyaksikan wajah istrinya yang mulai meleleh. Wanita itu lalu jatuh di atas lututnya dan tubuhnya hangus dan mencair di depan matanya. Setelah semua itu, yang tersisa hanyalah kubangan lumpur hitam yang tebal di mana Amina terbuat.

Share This: