Kisahku Ketika di Busan, Korea Selatan

Hello semua makhluk hidup penghuni situs KCH. Gina lagi, Gina lagi. Muak! *hehe, ada yang merasa muak denganku? Ya, kalau muak kasihkan saja sama kucing, *hehe. Ok, lanjut. Ini adalah kisahku yang ke-36. Semua cerita yang aku post, sudah aku hitungi dan sudah lumayanlah ya kalau dipikir-pikir. Kalau dipikir-pikir, jangan terlalu dipikirkan, nanti pikiranmu akan penuh dengan pikiran-pikiran yang sedang dipikir. Pikir-pikir deh sebelum berpikir, supaya gak merusak pikiran, *soek benar si Gina ini. (Serius boleh tapi bercanda harus *hihi). Ini kisahku yang menyeramkan di negara Jun Ji Hyun lahir, alias Korea Selatan.

Bulan Januari 2017 kemarin, aku serta rombongan keluarga (papa, mama, kak Al, Herin, om Fo sekeluarga) pergi ke Korea Selatan. Selain karena ada acara yang diadakan keluarga appanya (papa) Moon, Kim Dae Hyun panggil saja Mr. Kim, kalau aku manggil dia Ori K-Pop, iya artinya original maksudnya asli dari korea, gitu loh. (Dia gak pernah marah kalau dipanggil Ori, senyum-senyum pula kalau dipanggil gitu. Malah yang marah itu si Ica, istrinya Kim), *hoho, biarin. Ok, lanjut.

Singkat cerita, setelah memesan tiket pesawat menuju ke Korea Selatan, kemudian kami terbang (ala spiderman serta rombongan*hehe), dan sampai di Korea, kami singgah ke Seoul dulu untuk belanja-belanja, baru datang sudah belanja. Karena di Seoul adalah ibukota dari Korea Selatan, jadi semuanya (barang, makanan atau apa saja) ada. *Wow! Baru pertama kali aku ke Korea. Sumpah deh. Bagus sangat, sangat bagus.

Semuanya terlihat indah, canggih dan aduh! Entah aku harus berkata apa. (*Katro amat bu, gak pernah ya ke Korea? Baru sekali? Ka-si-han). Sebenarnya kami bisa langsung ke Busan melalui bandar udara Gimhae tanpa harus ke Seoul dulu, tapi karena Ica (istri Ori) ingin melihat kota Seoul, maka ya sudah, Seoul, Seoul lah. Kemudian kami dari Seoul ke Busan dengan menggunaka KTX (Korea Train Express), yaitu kereta cepat ala korea.

Sebenarnya kalau yang pengen jalan-jalan ke Busan dari Seoul dengan menggunakan kereta ada beberapa pilihan loh, bukan hanya KTX ada juga Saemaul dan Mugungwha. Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami serombongan sampai juga di Busan. Welcome to Busan *hehe.

Sesampai di Busan, kami kemudian naik bus untuk sampai dirumah orang tuanya Ori, dan sesampai disana kami telah disuguhkan makanan khas korea, ada kimchi, bulgogi dan lainnya. Kami juga disuguhkan soju, minuman khas korea. Tapi karena kami bukan non muslim, maka kami tidak minum (ada sih yang minum, yaitu om Fo, sedikit saja, hanya untuk menghargai si empunya rumah).

loading...

Selesai ngomong ala orang tua (om Fo ini pintar loh bahasa koreanya, jadi dialah yang asik ngomong sama orang tuanya Ori, sedangkan kami yang tidak paham, kami hanya bisa cengengesan saja). Malam ini kami akan nginap di rumah Mr. Lee dan Mrs. Han (orang tuanya Ori). Keesokan harinya kami berniat ingin mengunjungi wisata terkenal di Busan. Karena kebetulan kami perginya bulan januari, jadi lagi musim salju/dingin, kami harus memakai jaket yang super sangat, karena suhunya yang dibawah 0 derajat.

Kami pergi entah kemana saja, dingin-dingin biarlah *dipalari. Singkat cerita, setelah kami ketempat berbagai wisata dalam waktu 4 hari (maksudnya sehari kesini sehari kesana). Di hari kelima, Ori bilang “kita belum ke Busan kalau belum ke kuil Beomeo”. Akhirnya kami pun kesana. Kuilnya sangat indah sekali. Kuil itu merupakan kuil Buddha. Kami serombongan mengelilingi kuil dan masuk ke dalam kuil. Di sanalah aku bertemu dengan seorang biarawan.

Mulanya aku kira itu adalah biarawan biasa/manusia (karena dikuil selalu disediakan biarawan), tapi biarawan ini gak seperti pada umumnya. Dia lain. Setelah cukup puas berkeliling didalam kuil, rombongan keluargaku keluar dari kuil sedangkan aku tetap stay didalam. Aku terus melihat biarawan itu yang berdiri dengan baju lusuh. Aku yakin kalau dia bukanlah manusia, karena saat aku tanya sama papa dan mama, mereka tidak melihat kemudian saat ku tanya sama kak Al, kak Al bilang “biarkan saja. Jangan diganggu”.

Kemudian sang biarawan menunjukkan suatu arah yang aku gak tahu kemana. Tapi dia berjalan terus, aku pun mengikutinya dari belakang. Kemudian aku berhenti mengikutinya karena aku dipanggil Ori untuk keluar. Setelah cukup puas, kami pun pulang. Malam harinya, aku dimimpikan sama biarawan itu. Berhari-hari setiap malam aku dimimpikan olehnya. Di dalam mimpiku itu, dia selalu menunjukkan arah yang sama dimana kami bertemu sebelumnya dikuil.

Tapi dimimpi, aku selalu mengikutinya sampai tujuan dan kemudian dia menghilang. Aku gak tahu motif dari biarawan itu apa. Aku sudah menceritakan mimpiku ini sama keluargaku dan Ori bilang “biarawan itu adalah penghuni kuil itu selama beratus-ratus tahun. Jadi ku rasa dia hanya mau nunjukkan makamnya atau apa lah, tapi sewaktu kamu bilang dikuil kamu gak ngikuti dia sampai tujuan karena aku panggil, itulah alasannya dia mimpikan kamu terus. Agar kamu ikut dan paham apa maksudnya”. Mungkin juga sih? Tapi, sampai sekarang aku tetap bingung. Selesai.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories.
Thank you for liking my stories
Thank you so much…
Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur…

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts

Please vote Kisahku Ketika di Busan, Korea Selatan
Kisahku Ketika di Busan, Korea Selatan
Rate this post