KKN Berhantu

Namaku Tio, aku ingin menceritakan sebuah kejadian yang aku alami sewaktu melakukan kegiatan KKN dulu. Kampusku memang selalu mengadakan kegiatan itu setiap tahunnya, dan saat itu aku kebagian melaksanakan KKN di sebuah desa di daerah Sukabumi. Di hari keberangkatan semua mahasiswa sudah tiba di kampus pada pagi petang. Perjalanannya ternyata sangat lama. Tepat sebelum jam 12 siang kami tiba di desa itu.

Suasana di desa yang aku datangi itu cukup menyenangkan. Udaranya sejuk dan sepanjang mata memandang masih dipenuhi warna hijau oleh pepohonan. Kedatangan kami disambut oleh bapak kepala desa dan langsung diantar ke tempat KKN kami. Desa itu cukup modern, motor berlalu lalang dijalan. Kami merasa beruntung ketika sampai, rumah yang diberikan oleh kepala desa untuk kami tinggal itu cukup besar.

Mungkin kalo dikira-kira rumah itu cukup untuk tinggal 3 keluarga disana. Rumah itu dikelilingi oleh pekarangan dan dibelakangnya ada sebuah sungai. Sempat terpikir olehku kalo rumah sebesar ini tidak ada yang menempati pasti rumah ini akan jadi Angker. Setelah merapihkan barang-barang dan beristirahat sejenak, kami langsung bersiap diri untuk melakukan pemetaan. Tugas kami di hari pertama adalah melakukan pemetaan di desa itu.

Aku dan dedi bertugas melakukan pemetaan di sebelah selatan desa. Setelah mengambil peralatan dan memakai jas, kami berangkat. Kami berjalan melewati jalan setapak, bertemu dengan warga desa dan memperkenalkan diri. Beruntung aku sekelompok dengan dedi, dia fasih berbahasa sunda. Setelah berkeliling akhirnya kami berhasil membuat pemetaan itu. Ketika akan pulang, kami melewati sebuah pohon besar, di bawah pohon itu terdapat sebuah kotak dus yang tertutup.

Dus itu terlihat masih rapih, sepertinya bukan saja ditinggalkan seseorang disana. Karena penasaran aku pun berjalan mendekati dan membukanya. “Wah, asik nih. Ded lihat nih nasi bungkus.” Kataku senang kepada dedi. Kotak dus itu berisi nasi lengkap dengan lauk pauk. kebetulan, saat itu aku lapar. Aku mengambil kotak dus itu dan membawanya ke dedi. Dan raut wajah dedi langsung berubah, dia menyuruhku untuk menaruh nasi dus itu dikembalikan ke tempatnya.

Aku menolaknya, ada rejeki gini kenapa harus ditolak. Aku pun mencicipi lauknya, lalu dedi maju dan merebut nasi dus itu dariku dan meletakan nya kembali ke dekat pohon. Dia memberi tau bahwa bisa jadi nasi dus itu adalah sesajen yang diberikan untuk penunggu pohon itu. Aku langsung memuntahkan apa yang aku makan, “astaga kenapa aku bego banget.” lalu dedi coba menenangkanku dan dedi berkata bisa jadi juga itu kotak nasi yang tertinggal. Kalo itu sesajen aku tidak perlu khawatir katanya, karena aku tidak tau dan bukan bermaksud kurang ajar.

Setelah mendengar kata itu, aku pun menjadi lebih tenang dan berusaha untuk melupakan kejadian itu. Malam harinya kami semua dipanggil ke rumah kepala desa. Disana dirumah itu, aku disambut kepala desa dan rencananya akan diadakan penyambutan oleh kepala desa itu. Kami semua berjalan kaki dan menggunakan senter. Aku dan dedi sengaja berjalan paling belakang sambil membahas kejadian yang tadi aku alami.

Tiba-tiba didepan kami ada dua buah cahaya terang. Ternyata ada sebuah mobil melaju ke arah kami, Kami pun menepi ke pinggir. Tapi tiba-tiba dedi melihat ke belakangku seolah ada yang aneh, dia menyadari sesuatu. “Bro, kenapa bayangan lu ada dua?” Aku langsung melihat ke belakang, astaga aku melihat bayanganku dibelakang ada dua buah. Mungkin aku pikir itu karena efek lampu mobil tapi ketika aku melihat bayangan dedi, ternyata bayangan dedi hanya ada satu.

loading...

Aku pun kembali melihat bayanganku, ternyata salah satu bayanganku lebih besar dari bayanganku. Astaga bayangan itu semakin membesar, kami langsung berlari mengejar teman kami didepan. Melihat kami lari terbirit-birit mereka bertanya apa yang terjadi. Aku diam tidak berani mengatakan bahwa aku melihat dua bayanganku sendiri. Dedi mengambil alih situasi dan berbohong bahwa kami berdua takut menyasar.

Aku dan dedi mencoba untuk tertawa lalu berusaha untuk melupakan apa yang terjadi. Sampai di rumah kepala desa, kami disuguhi makanan yang enak dan ketua kelompok kami memberikan kata sambutan dan memperkenalkan kami satu persatu. Disana aku pun sudah sedikit tenang, setelah lama berbincang dengan warga kami pun pamit pulang. Sekarang aku dan dedi tidak berani jalan paling belakang. Setelah sampai lagi dirumah, untuk mencairkan suasana aku mengajak yang lain bermain kartu. Tidak terasa waktu berlalu dan sekarang waktu sudah lewat tengah malam.

Kami semua beranjak untuk tidur tapi sebelum itu aku ingin pergi ke kamar mandi. Kamar mandi rumah ini terletak dibelakang ujung rumah berdekatan dengan sungai. Karena seram aku mengajak dedi menemaniku. Dedi yang sudah mulai kelihatan mengantuk, menganguk dan mengikutiku. Aku mengajaknya mengobrol tapi dia hanya diam saja. Aku pun masuk ke kamar kecil, selagi aku membuang air tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu di sudut kamar mandi ini. Aku melihat dari sudut mataku ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Perlahan aku mulai melihat ke arah belakangku dan astaga ada sesosok mahluk berdiri di pojokan sudut. Mahluk itu besar dan hitam, seluruh tubuhnya dipenuhi bulu. Mahluk itu terdiam tanpa ekspresi, matanya merah dan giginya bertaring panjang. Aku memanggil dedi, namun dedi tidak menjawab. Aku tidak jadi buang air dan langsung berlari keluar, Aku membuka pintu dan tidak melihat siapa-siapa diluar. Aku lari masuk ke ruang tamu, diruang tamu masih ada beberapa temanku yang bangun.

Mereka bertanya kenapa aku ketakutan. Aku pun bercerita kalo aku melihat sesosok mahluk hitam besar di kamar mandi. Mereka pun kesal dan bilang bercanda ku tidak lucu. Aku berusaha meyakinkan mereka kalo aku tidak mengada-ada. Aku berusaha mencari dedi, dan aku menemukan dedi berada di dapur. Dia sedang membuat kopi, lalu aku menariknya ke ruang tamu dan kembali bercerita. Aku pun berkata kepada dedi, “ded, lu tega ya tinggalin gw di kamar mandi”. Tapi, dedi berkata dia lagi berada didepan rumah duduk mengobrol dengan teman lainnya.

Baru aku sadari, dedi tidak mengantarku ke kamar mandi. Lalu yang menemaniku ke kamar mandi siapa. Jantungku berdetak kencang, aku langsung menatap dedi ketakutan. Dedi berkata kalo aku di ikuti, Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Akhirnya dedi menceritakan kepada teman-temanku apa yang terjadi tadi siang, dedi berkata bahwa aku tidak sengaja memakan sesajen yang diletakan di bawah pohon besar.

Singkat cerita kami pun memutuskan untuk bertemu dengan kepala desa mengenai kejadian ini, tapi untuk saat itu kami pun semua terlelap tidur dulu. Akhirnya kami semua tidur di ruang tamu, Sebelum tidur aku membaca doa yang aku bisa. Aku takut bermimpi bertemu dengan sosok itu lagi. Aku pun tertidur, Aku bermimpi ada sosok hitam yang terus mencariku dan memanggilku.

Aku pun bersiap kembali untuk tidur, aku merasa malam ini dingin sekali. Mungkin karena aku lupa memakai selimut tadi. Karena kedinginan aku pun segera bangun untuk mengambil selimut yang masih terlipat di kursi di sudut ruangan. Saat aku mengambil selimut, tiba-tiba aku merasakan ada hawa dingin menjalar ke badan dan aku mendengar ada bisikan yang memanggil namaku.

Bulu kuduk langsung berdiri, badanku terasa sangat dingin. Jantungku seakan berhenti dan kepalaku mulai pening. Aku bisa merasakan kali ini sosok itu sudah berada di belakangku. Aku ingin berlari ke tempat tidur, aku pun berbalik dan sosok itu tidak ada. Aku mengambil selimut dan berbalik, astaga sosok hitam itu kini sudah berdiri didepanku. Wajahnya merah kehitam-hitaman dan matanya melotot kepadaku.

Mulutnya terbuka menyeringai sambil terus memanggil namaku. Aku ingin berteriak tapi, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Dan tiba-tiba saja sosok itu seperti menerkamku. Ketika aku terbangun, aku melihat teman-temanku sudah mengelilingiku. dua orang memegang tanganku dan dua orang lagi memegang kakiku. Ada juga kepala desa dan seorang pemuka agama disana, mereka menatapku dengan was-was. Aku bertanya, “ded kenapa orang-orang lagi megangin gw ded?”.

Dedi menjawab kalo tadi aku kesurupan. Untungnya dia dan ketua kelompok memanggil kepala desa kesini. Entah kenapa ada rasa penyesalan yang sangat besar, karena aku teledor memakan sesajen itu. Bapak kepala desa itu pun bilang, kalo di desa ini memang banyak penunggu nya. Penghuni itu bersarang di pohon besar itu, dan penduduk desa memberikan makanan setiap bulannya agar tidak mengganggu kepada warga yang lewat.

Aku meminta maaf karena sudah bersikap sembarangan karena tidak tau aturan. Mereka berdua berkata yang penting aku menyesal dan tidak mengulangi perbuatanku lagi. Sekarang aku sudah berada di bandung kembali, walaupun tidak pernah diganggu oleh mahluk itu lagi. Tapi terkadang ketika aku melihat bayanganku sendiri, aku masih melihat bayanganku itu ada dua.

Share This: