Klinik Bedah Plastik

Cantik itu berbeda-beda makanya orang sering bilang cantik itu relatif tapi tuntutan zaman menuntut wanita untuk mempunyai fisik yang menarik dan tidak sedikit dari mereka yang rela mengubah bentuk tubuh mereka. Disinilah aku hadir, untuk membantu mereka yang kurang percaya diri. Aku adalah spesialis dalam bedah plastik kulit yang membuka klinik di sebuah desa Bandung Barat, klinik bedah plastik ini aku rintis benar-benar dari bawah dan akhirnya terkenal dari mulut ke mulut.

loading...

Dulu pengunjung klinik yang datang bisa lebih dari 10 orang, namun semuanya berubah setelah kejadian itu. Aku tidak berani bedah plastik dan sudah menutup klinik bedah plastik ini. Ceritanya dimulai pada malam itu, saat itu aku baru saja selesai dengan seorang pengunjung klien untuk check-up rutin di klinik. Setelah memberikan beberapa resep, dia pun akhirnya pulang.

Aku langsung mematikan lampu-lampu dan membalikan tulisan di pintu klinik dari “open” menjadi “Close”. Aku masih belum bisa pulang karena masih ada beberapa file operasi klien yang harus aku periksa dengan teliti. Ada beberapa klien yang ingin menambah bagian tubuh yang di operasi. Mengingat saat periode awal aku buka klinik, hal permintaan tersebut tidak cukup banyak. Malah bercampur dengan komplain beberapa klien yang kurang puas dengan cara kerjaku.

Di awal-awal praktek, aku pernah sekali atau dua kali melakukan kesalahan dalam operasi namun kesalahan itu tidak fatal karena masih bisa diperbaiki. Tentu saja aku bertanggung jawab dengan kesalahan yang aku buat. Aku memperbaikinya dengan cara mengoperasi ulang dan selain itu aku juga memberikan pelayanan ekstra yang membuat mereka kembali senang.

Seiring berjalannya waktu, kemampuanku meningkat dan kesalahan yang terjadi pun terminimalisir. Hingga akhirnya hampir tidak ada lagi keluhan-keluhan klien yang masuk. Astaga, aku hampir terloncat dari kursi karena mendengar ada suara dari ruang operasi tapi kan disini cuma ada aku saja. Aku bangkit dari meja kerja dan berjalan menuju ruang operasi lalu aku melihat seisi ruangan, ternyata tidak ada apa-apa hanya ada mesin operasi dan alat-alatnya tapi suaranya masih ada.

Aku mendekat ke arah tempat aku menyimpan alat-alat operasi di samping ranjang. Suara ini ternyata, aku menemukan bor operasi yang menyala dan tergantung hampir terjatuh. Aneh, aku kan tadi tidak pake bor ini mungkin kerjaannya Ana, dia asistenku yang suka bongkar-bongkar meja penyimpanan alat operasi. Aku mencabut stop kontak bor listrik tersebut dan kembali menyimpannya didalam rak.

Aku kembali ke meja kerjaku dan memeriksa file-file tadi, tapi aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Karena tidak tahan dengan suasana yang gelap, aku kembali berdiri dan menghidupkan lampu. Aku juga menyalakan musik dari komputer agar suasana ramai.

“tok.. tok.. tok”.

Siapa sih kenapa tidak ngerti kode, klinik sudah tutup juga namun suara ketukan itu masih belum berhenti. Aku bangkit dan berjalan menuju ruang tamu, aku membuka kunci pintu dan aku melihat seseorang berdiri didepanku. Orang itu memakai jaket dengan tudung kepala dinaikan, dia memakai kacamata hitam dan masker putih diwajahnya. Dari bentuk tubuhnya aku yakin dia adalah seorang wanita muda.

“Maaf, sudah tutup kliniknya.” kataku sambil mencoba untu tersenyum sopan. Tapi, wanita itu malah mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa mengerti apa yang dia katakan, dia seperti seorang tunawicara yang berusaha keras untuk bicara. Dia terus mengulangi suara itu, aku hanya berdiam dan mencoba memahami apa yang dia coba katakan. Kemudian wanita itu membuka kacamata hitamnya, ya ampun kedua matanya merah dan melotot kepadaku.

Kali ini dari nada suaranya, aku tau kalo dia marah. Aku ketakutan, aku memegang pintu dan hendak menutupnya namun ketika pintu hendak akan aku tutup. Aku melihat wanita itu sedang membuka masker yang menutupi mulutnya. Bagian mulut wanita itu sobek dan di kiri kanan nya terdapat lebam merah. Dan rahangnya seperti mau lepas dari tulang wajahnya. Aku berteriak sekuatnya lalu menutup pintu dan lari kedalam.

Aku mencari benda didalam rak meja, lalu memegangnya untuk berjaga diri. Aku memegangnya dengan gemetar, dan aku langsung bersembunyi dibawah meja. Aku menangis sambil mendekap mulutku sendiri, berupaya untuk tidak membuat suara. Aku mempertajam pendengaranku dan mencoba menangkap suara-suara aneh, tidak ada suara ketukan pintu dan tidak ada suara aneh wanita itu, tidak ada suara langkah kaki.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat dari balik meja kerja. Aku menarik nafas lega, aku perlahan berdiri dan melihat ponselku tergeletak di atas meja. Aku langsung mengambilnya dan menelpon asistenku ana, dia terdengar kaget ketika aku menyuruhnya untuk datang segera ke klinik bedah plastik ini. Aku berjalan keluar ruangan dan memeriksa keadaan didepan klinik. Sosok wanita itu kini sudah menghilang. Ana ngekost di belakang klinik, jadi dalam hitungan menit dia sudah datang.

Dia masuk ke ruangan kerjaku dengan wajah heran, seolah minta penjelasan perkara apa yang membuat dia harus datang. Aku meminta kepadanya untuk mengambilkan air putih dulu lalu setelah itu aku bercerita. Aku duduk di meja kerja sambil membereskan file-file klien, file ini aku kerjakan besok saja. Tiba-tiba perhatianku teralih ke layar komputer kerja. Komputer yang tadinya sedang menjalankan software pemutar musik, sekarang sudah berganti menjadi microsoft word.

Dan disitu tertulis kata “Tanggung Jawab” bulu kuduk langsung merinding. Aku langsung memanggil ana dengan panik, tiba-tiba pandanganku menangkap wajah wanita tadi dari arah tumpukan file yang baru saja aku bereskan. Didalam file terdapat foto yang mirip dengan wanita tadi yang aku lihat. Aneh, perasaan tadi tidak ada file ini. Bedanya wanita di foto ini terlihat cantik dan mulus, aku langsung memeriksa komputer dan mencari file apa yang tertera didalam internet.

Dan betapa kagetnya ketika aku menemukan fakta, bahwa wanita itu baru saja meninggal. Wanita itu adalah salah satu klien ku, dia ingin mengubah bentuk bibirnya. Sebenarnya tidak ada kesalahan dari operasi yang aku lakukan, hasilnya pun cukup bagus. Tapi berdasarkan cerita yang aku temukan dia mendapat tekanan dari pacarnya.

Padahal dia datang ke klinik bedah plastik ini untuk melakukan operasi agar pacarnya menganggap dia lebih menarik. Namun pacarnya tidak suka dia mengubah bentuk wajahnya. Akhirnya dia ditinggalkan oleh pacarnya, wanita itu pun stres dan dia merobek bibirnya dengan alat tajam mencoba mengembalikan bibirnya seperti semula. Karena gagal mendapatkan bibir yang dia inginkan, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Share This: