Kodok Loncat

Hello, hallo bay-bay (ih macam film kushi saja, *hehe). Hay assalamulaikum sobat KCH, apa ada yang rindu dengan saya? *hihi. Sudah 3 hari tidak posting nih makin ramai saja nih parkiran KCH. Sampai admin si kak John saja gak kelihatan tuh batang hidungnya (*hihi, peace kk john, jangan manyun serigala ya) *hehe. Wah ada juga nih member cantik dan ganteng yang menyapa, ada salma, rizky, astri weni, bismi, fajar, gina, agata dan si imut indah (yang ngatain nagih hutang, memang rentenir, *hihi).

Tapi aku suka kalian kok, *hehe. *Ops maksudku suka cerita kalian kok, *hehe. Dan cerita dari member lain yang kagak kesebut juga pada cakep-cakep dan hot seram gitu. Aku juga suka, tapi maaf ya kalau kagak disebut, jangan manyun-manyun durjana gitu, *hehe. *Coz maklumlah kagak hafal namanya. Di cerita ke-81 ini, (wuih macam penulis saja nih dwi, *hehe).

Ini adalah kisah sewaktu masih ingusan (eh bukan berarti suka ingusan yang meler itu ya, *hehe). Maksudnya sewaktu masih kecil bau kencur (memang jamu?) entah umur tepatnya lupa. (Maklum faktor U, *hehe). Dulu dan dizaman itu, aku dan kakak-kakak sepupuku sering main kerumah simbah (orang tua dari ayah). Nah hari itu kami bosan main dirumah simbah, dan kebetulan pohon belimbing (fruit star), yang berada dihalaman rumah simbah sudah habis buahnya, akibat cucu-cucunya yang geragas atau sering manjat dan petekelan/usil ini.

loading...

Nah, kebetulan depan rumah simbah ada kebun kosong yang dulu bekas rumah pakdeku (sekarang pindah disamping rumahku). Kebun itu ada jalan kecil menuju kedepan yang ada pohon sasaran belimbing berikutnya, yang bertepatan dibekas sumur tua, yang dulu bekas sumur rumah pakde. Dan sudah dibangun, sebuah bangunan pabrik padi. Lalu depannya adalah lapangan dan disamping pabrik ada jalan menuju area TPU jika kalian mengikuti ceritaku pasti tahulah semua posisi desaku ini, *hehe. Aku saja bingung menerangkannya, *hihi.

Nah, kita orang sedang asyik memetik buah itu sampai waleh alias kenyang ditambah bosan, *hehe. Setelah puas, dan siap-siap, jam 3 sore biasanya pabrik akan segera beroperasi (menggiling padi milik warga). Jadi kami cepat-cepat mengambil dan menyudahinya, supaya tidak terkena debu merang (sisa kulit padi). Karena cerobongnya berada dekat pohon belimbing yang lebat ini.

Setelah usai, kami ingin iseng sambil bermain didalam pabrik. Anak-anak disini bebas bermain, kecuali bermain dekat mesin operasi (alat yang dibuat penggilingan). Jadi kami bermain kesana kemari, naik tangga dan turun sesuka hati. Karena tangga menuju padi yang siap digiling berbentuk unik, dari papan lebar dan hanya diberi anak tangga dengan menggunakan kayu berukuran reng (usuk atap rumah) jadi posisinya hanya menempel pada papan. Sehingga terlihat licin saking seringnya dipijak, dan menurutku sangat menantang, *hehe.

Saat sudah sampai diatas, saking senangnya, kami bermain padi kering yang masuk ke mesin penggilingan. Tapi pemilik padi senang karena sedikit membantu, *hehe. Konon pabrik ini angker, banyak rumor tentang horor disini apalagi posisi areanya, hampir dekat TPU, tapi kami merasa cuek. (Mungkin karena sudah terbiasa). Dulu ada yang berteduh dipabrik ini karena hujan deras dan banyak halilintar menyambar.

Tapi sayang, pabrik ini sedang tidak buka. Jadi mereka berteduh dipinggir tritisan (pinggir bangunan yang tidak kena air hujan, karena masih terhalang atap genting). Nah, saat lagi berteduh, tiba-tiba semua halilintar seolah-olah mengincar mereka. Kata orang dulu, jika ada halilintar mengincar kita, padahal kita sedang berlindung, biasanya ada demit disekitar kita.

Sontak karena teringat itu, mereka langsung lari kocar-kacir tanpa sambil berteriak ketakutan. Dan berteduh dirumah warga dekat pabrik itu. Dan masih banyak lagi cerita horor lain yang dialami pekerja pabrik termasuk pakdeku (karena kerja disitu juga). Lanjut dicerita anak kencurnya, *hehe. Nah saat sudah masuk semua itu padi, sambil membayangkan cerita diatas, tidak sadar lubang masuknya padi itu diketuk-ketuk hingga aku kaget, lalu ditutup. Biar tidak tercampur padi milik orang lain yang akan digiling selanjutnya.

Karena aku sudah bosan, dan para kakakku sedang asyik main perosotan ditangga aku pun ikutan. Saat sudah bolak-balik naik turun tangga dengan gaya khas masing-masing. Sekarang giliranku, dan ini adalah giliran naasku. Aku meluncur kebawah dengan gaya kodok loncat, dari 4 anak tangga menuju ke bawah. Wih padahal yang lain hanya berani 3 atau 2 anak tangga, tapi aku malah 4, *hmm.

Dengan gaya khas lalu dengan sombong dan narsisnya aku berkata, “awas minggir, sekarang giliran gaya kodokku!”. *Wuish grusuk gedebuk! Hanya suara itu yang kudengar. “*Hua, mamake aku tibo (jatuh), *hiks, hiks”. Setelah itu para pakde yang bekerja disitu menolongku sambil berkata “owalah, kodoke tibo, wes meneng, ora popo kok” (oh, kataknya jatuh, sudah diam, tidak apa-apa kok), *haha. Naas, naas. Sejak saat itu, saya gak mau lagi terjun dari anak tangga ke-4, karena masih ketingian *boo, *hihi. Sekian.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts