Kok Semua Panik!

Assalamualaikum (waalaikum salam). Apa kabar semua (baik, buruk, galau, gegana “gelisah galau merana”, mungkin). Marhaban ya ramadhan ya sobat KCH tanpa terkecuali (iya sama-sama). Dwi minta maaf kepada semua member KCH dan terutama pada admin kak john karena selalu aku protesin (iya gak apa-apa dwi, maklumlah kamu seperti beo sih). Nah loh dwi kapan mulai kumat ya? Masa tanya dijawab sendiri, gubrak, *hehe.

Habisnya gak ada yang jawab, ya saya jawab sendiri, *hihi(nah loh kumat lagi kan, ayo kabur ah) *hehe. Eh tunggu dulu, kan dwi belum ngisi cerita ke-93 ini. Jadi dibaca dulu ya walaupun kagak menarik (mending narik gerobak ice cream deh kayaknya, buat buka puasa besok, *hehe). Eh kok dijawab lagi, tahu tuh yang namanya demit (dwi memang amit-amit) kumat ngebeo.

Ah dari pada diusir dari parkiran KCH mendingan buruan cerita deh demit! Iya, iya ini mau cerita. Pada suatu hari. Eh salah, macam dongeng saja lu demit. Eh iya, ini cerita dihari kamis malam jumat kemarin. Iya sebelum bulan puasa, tepatnya tgl 25 mei 2017. Aku dan my big family sedang siap-siap nyiapin acara tahlil malam ke-3 mendiang kakek dwi. Ya elah dwi lagi kena musibah 2 sekaligus nih. Habis mertua meninggal tepat 4 hari malah kakek/bapak dari ibu dwi juga meninggal.

Jadi dwi sibuk banget ya, sampai kontes digrup saja terbengkalai. Tapi alhamdulillah sudah rebes semua alias beres. Nah ketika kami sedang asyik berbenah sambil mengobrol tentang bunga yang untuk nyekar dimakam besok (khusus sebelum puasa). Saat bulek sri sedang asyik bercerita tentang bunganya, lalu diikuti yang lainnya yang sedang mendengar dan menanggapi ceritanya.

Aku sambil sibuk memakai hijab dekat pintu dan jendela dirumah simbah. Karena posisi kami sedang berkumpul diruangan itu. Saat aku sedang asyik memakai pasmina hijab sambil mencari jarum pentul yang aku selipkan digorden penutup jendela. Tiba-tiba bahuku seperti ada yang menoel/menyentuh. Posisi saat itu kebetulan masih habis maghrib, jadi saya celingak-celinguk kekanan, kekiri, belakang (karena posisiku membelakangi jendela dekat pintu).

Tapi saat sudah aku cek tidak ada seorangpun dibelakangku. Aku mulai memikirkan horor tapi masih bisa aku tepis, lalu menganggap biasa saja. Dan melanjutkan memakai pasmina sambil mendengar cerita. Saat mau balik badan mengambil jarum terakhir, aku melihat ada kepala mengintip dibalik daun pintu. Berkulit hitam dan kelihatan putih giginya sambil menyeringai. Sontak aku terkejut lalu reflek menjerit.

loading...

Lha terus yang berada diruangan itu semua ikutan menjerit. (Maklum cewek semua, *haha) ya tentu saja aku tambah terkejut “lha kok malah ikutan terkejut semua?”. Jadi semua malah tertawa, karena ternyata yang jahilin aku ternyata paklek/om ku. Saat nongol dia malah semakin tertawa karena membuat ramai seisi ruangan.

“Si*l*n, kirain ada apa, lagi serius cerita bunga buat kemakam malah ngagetin *padaan” kata bulek sri sambil tertawa.
“Iya, hawanya masih horor malah, aku juga ikutan reflek saat dwi jerit” kata bulek siti sambil ketawa.
“Aku mah sudah tahu dari tadi, cuma tak diamin, tapi kok aku juga malah ikutan panik dan menjerit ya” kata bude sambil tertawa.
“*Hehe, malah pada geger, tambah ramai deh” kata om ku yang sejak tadi cengengesan.

Karena cerita ini tidak penting, jadi jangan kecewa ya pembaca, *hehe. Hitung-hitung buat menghibur. Jadi, mari kita tertawa lagi, *haha. Gubrak.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts