Kolam Renang Berhantu

Namaku Santy, aku seorang atlet renang yang saat itu sedang di karantina di sebuah asrama. Aku bersama beberapa atlet cabang renang lainnya akan dilatih untuk menghadapi beberapa pertandingan yang mewakili daerahku. Asrama tempat karantina ini cukup tua menurutku. Terlihat dari bentuk bangunan, kamar mandi, serta benda-benda penghias interiornya. Di asrama itu, setiap kamar diisi oleh dua atlet. Aku masih belum tahu siapa yang akan satu kamar denganku.

Aku menuju kamarku yang terletak tidak terlalu pojok. Aku membuka pintunya, terlihat sebuah kamar sederhana dengan lantai berwarna merah tua. Tersedia dua buah tempat tidur, meja, dan kursi. Aku segera menyimpan bawaanku ke dalam lemari, sambil menunggu teman satu kamarku datang. Jadwal untuk hari ini hanya makan malam, lalu istirahat. Baru besok pagi kami akan latihan fisik, dan latihan penunjang lainnya. Aku membuka jendela kamarku, terbentang pemandangan sebuah kolam renang yang cukup besar. Kolam renang yang akan kami pakai latihan besok.

loading...

Aku pun kembali menutup jendela. Waktu makan malam masih cukup lama, aku memanfaatkannya untuk melihat-lihat sekitar asrama. Saat menuju kolam renang, tampak Pak Yoga, pelatihku, sedang duduk santai di sana. Aku melempar senyuman kepadanya. Setelah merasa cukup berjalan-jalan, aku pun kembali ke kamar. “Siapa tuh?” tanyaku dalam hati. Di tempat tidur, seorang perempuan berambut pendek tertidur membelakangiku, sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya.

Dia memakai jaket sama sepertiku, pasti dia teman satu kamar. Aku pun merebahkan diri di tempat tidur. Perempuan itu membalikkan badan. Dia tidak tidur rupanya, Wajah perempuan itu terlihat pucat dan matanya merah. “Kamu kenapa?” tanyaku, dan dia membalasnya dengan menatapku. Pandangannya seolah berkata bahwa dia sedang sakit.

“Kamu sakit? Aku panggil Pak Yoga, ya.” Dia menggelengkan kepalanya.
“Hm, ya sudah kamu istirahat aja. Aku Shanty, kamu?”.
“Aul,” Jawabnya dengan suara serak.
“Sebentar lagi makan malam, mau aku bawakan makanan ke kamar?” Aul hanya diam sambil menatapku, dan lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. Aku pun meninggalkannya dan beranjak ke lobi untuk makan malam.

Setelah makan malam, aku kembali ke kamar. Aku melihat Aul kini sudah berganti baju dengan swimming suit. “Kamu mau berenang?” Aul hanya menggangguk. “Kamu kan sakit? lni udah malam,” Aul tidak menjawab, malah keluar dari kamar. Dalam hati aku berpikir, “apa dia punya masalah?”. Aku membuka jendela melihatnya latihan. Aul sudah berdiri di bibir kolam, dan dia melompat ke dalam air. Aul berenang gaya bebas beberapa putaran.

Sekilas, aku perhatikan ada yang aneh, perasaan rambut Aul tadi pendek tapi kenapa sekarang panjang? Apa aku salah liat? Aku memperhatikannya lebih jelas. Tiba-tiba Aul meronta-ronta di tengah kolam renang, dia tampak seperti akan tenggelam. Aku segera berlari menuju kolam. Namun, ketika sampai di kolam, aku sudah tidak melihat Aul. Aku perhatikan dasar kolam, Aul memang tidak ada. Aku mendengar suara langkah kaki yang beradu dengan lantai. Seseorang dengan handuk merah berjalan mendekatiku.

“Aul syukurlah,” kataku lega. Aku pun membawanya menuju kamar. Aul tampak mengigil kedinginan. Dia sedang di kamar mandi, sementara aku menunggunya dengan khawatir. “Ada apa dengannya? Mengapa dia memaksakan diri berenang?” ucapku dalam hati. Samar-samar, aku mendengar Aul seperti menangis. “Aul, kamu kenapa?” tanyaku sambil mengetuk kamar mandi. Tak lama, Aul pun keluar. Matanya merah, tetapi tak sepatah kata pun dia ucapkan.

Setelah berganti baju, Aul pun tertidur. Aku membiarkanya untuk istirahat dan aku pun tertidur. Aku terbangun karena mendengar suara tangisan dan merasa badanku dipeluk. Ternyata, Aul yang memeluk dan dia sudah tertidur di sebelahku. “Aul, kamu kenapa? Kalau kamu mau, cerita aja. Aku mau dengerin dan janji tidak akan bilang siapa-siapa”. Raut wajah Aul berubah. la seperti akan mengatakan sesuatu kepadaku.

“Aku kesepian, kamu mau temenin aku?”.
“Iya, aku mau temenin kamu. Tenang aja ya,” ucapku yang dibalas senyuman Aul.

Namun, tiba-tiba tanpa kusangka tangan Aul mencengkeram leherku, Tangannya begitu dingin. Astaga Aul berusaha mencekik. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Aul malah tersenyum, lalu tertawa cekikikan. Aku terus berusaha melepaskan diri dan teriakku sambil berusaha mendorongnya sekuat tenaga. Cengkeramannya pun terlepas, aku berlari dengan sisa tenaga yang aku punya.

Aku mencari senior dan pelatihku. “Pak tolong, Aul kesurupan” Pak Yoga berusaha menenangkanku. Setelah tenang, aku menjelaskan kalau teman sekamarku kesurupan dan berusaha mencekik. Pak Yoga terlihat kebingungan saat mendengar ceritaku. Dia bertanya lagi tentang Aul. Aku kembali meyakinkan Pak Yoga kalau Aul itu teman sekamarku. Pak Yoga keheranan, dia bilang tidak ada dalam rombongan karantina bernama Aul. Dan, aku memang diberi kamar sendiri.

Mataku terbelalak. Aku segera menarik Pak Yoga ke kamarku, dan teman-teman lain mengikuti kami dan Aul memang tidak ada. Lalu penjaga asrama pun angkat bicara. Dulu memang ada perempuan yang namanya Aul, tetapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Meninggal tenggelam di kolam renang itu. Arwah Aul sering menampakkan diri pada malam hari dia sering terlihat berenang. Sebab itu, ada larangan untuk berenang pada malam hari. Pertanyaanku terjawab sudah, ternyata teman satu kamarku bukan manusia. Aku akhirnya minta kepada pelatih untuk ganti kamar dan tidak mau berada sendirian meskipun di dalam kamar.

Share This: