Komplek Perumahan Bekas Pemakaman Umum

Awalnya betapa senangnya aku menjadi kepala proyek ini setelah kepala proyek sebelumnya mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Meskipun aku masih muda, tapi aku profesional atas apa yang menjadi tugasku. Melihat pekerja disini yang terlalu lemah dan banyak santai, aku harus tegas. Komplek perumahan ini tidak selesai sesuai target sekarang saja belum satupun ada progres, belum ada satupun pembangunan.

Bahkan satu persatu pekerja mengundurkan diri meski tanpa di gaji. Ini yang membuatku stres, ada apa di proyek ini. Baru saja seorang pekerja keluar lagi hari ini, ini hari ke empat aku menjadi kepala proyek. Waktu beranjak malam, semuanya kembali ke mess yang dibuat tidak terlalu jauh dari lokasi. Setelah selesai menandatangani surat, aku keluar sebentar untuk menghirup udara malam.

Ternyata dari sini pemandangannya sangat bagus, membuatku semangat untuk berjuang dan segera menyelesaikan komplek perumahan ini. Aku meminum air putih dan segera membereskan mejaku, tiba-tiba terdengar suara. Aku melihat dari ruanganku di atas, melihat ke bawah. Dan diluar terlihat seorang kakek berdiri didepan pintu sambil terbatuk-batuk.

Aku pun turun bergegas membuka pintu “loch, kemana kakek itu” aku melihat ke sekitar bangunan mess dan tidak ada siapa-siapa. Aku pun masuk dan kembali menutup pintu namun belum sampai sepuluh detik, terdengar suara kakek itu kembali dan aku langsung membuka pintu itu kembali. Tidak ada siapa-siapa, aku meyakinkan diriku sekali lagi melihat disekitar dan jelas memang tidak ada siapa-siapa.

Aku menutup kembali pintu itu perlahan, sambil menunggu beberapa saat menatap ke depan pintu itu. Aku mulai agak khawatir, aku terus perhatikan dan “tok, tok, tok” ada yang mengetuk pintunya. Perlahan aku pegang gagang pintunya dan aku mulai menarik gagangnya. Pintu pun mulai terbuka sedikit demi sedikit, suasana diluar mulai terlihat olehku. Pintu aku buka semakin lebar dan tidak ada siapa-siapa.

Lagi-lagi kosong, aku mulai panik lalu menutup pintu dan saat akan mulai naik menuju tangga aku berbalik dan melihat astaga. Telah berdiri sesosok laki-laki berpakaian hitam. Wajahnya hancur, banyak sayatan dan lehernya pun hampir putus dengan kumis yang sangat tebal dan matanya yang membelalak keluar. Aku langsung berlari keluar menuju mobil, aku mulai menjalankan mobil tapi mobil ini tidak mau hidup.

Belum sempat aku berhasil menghidupkan mobil tiba-tiba terdengar suara lain yang juga sangat menyeramkan. suara tangisan seorang wanita. Aku melihat kesamping lalu tepat di jok depan sebelahku, duduk seorang wanita yang sedang menangis. Badannya berwarna merah dan disela-sela matanya mengeluarkan cairan yang juga berwarna merah seperti darah.

Sontak aku keluar dari mobil dan berlari, aku berlari menuju pemukiman desa yang tidak jauh dari tempat proyek. Melewati jalan, saat aku sadar jalan ini kiri dan kanan adalah hutan bambu. Suasana sangat sepi, aku bisa mendengar suara napasku dan suara langkah kakiku. Tiba-tiba suasana sepi itu terpecah dan menjadi ramai ketika aku samar-samar mendengar.

Suara gamelan dan dari jauh aku melihat iring-iringan ada penari dengan selendangnya juga beberapa orang yang bermain musik tradisional. Ramai iring-iringan itu semakin lama semakin mendekatiku, penari nya terlihat menari jaipong lengkap dengan kebaya dan pengiringnya berjalan beriringan dibelakang penari itu. Aku semakin dekat dengan mereka, tapi aku memperlambat langkahku dan mengatur napas sambil menjaga jarak dengan iring-iringan itu.

Sampai akhirnya, aku berpapasan dengan mereka, kaki kulangkah kan segera karena saat aku melihat penari itu dan semua pemain gamelan itu mukanya rata. Aku langsung berlari sekencang-kencangnya, kepanikanku akhirnya ditenangkan oleh beberapa hansip yang sedang berjaga disana. Aku pun dibawa ke sebuah rumah dan ternyata itu adalah rumah pak RW disana. Disana aku mencoba tenang, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat.

Sampai akhirnya aku menceritakan semuanya, semua yang aku lihat dan aku alami kepada pak RW. Dari tanggapan pak RW, raut wajahnya sepertinya sudah biasa. Katanya sosok yang aku lihat itu memang akhir-akhir ini sering muncul dan menghebohkan warga disini, tapi tidak terjadi setelah adanya pembangunan komplek ini.

Lebih tepatnya proyek komplek perumahan, aku terdiam bertanya-tanya. Lanjut pak RW bercerita kalo lahan yang kini dijadikan komplek, itu dulunya adalah pemakaman umum. Ada sekitar 400 makam yang dibongkar dan dipindahkan, meski dipindahkan namun tetap saja mungkin lelembut disana tetap saja terusik sehingga akhir-akhir ini sering muncul penampakan entah keluarga dari yang sudah meninggal sampai sosok yang sangat menyeramkan.

Apalagi para pekerja, mereka sudah sangat sering diganggu dan sampai akhirnya tidak tahan lagi. Aku tertegun, inilah alasannya kenapa proyek ini tidak berjalan mulus. Mengusik sesuatu yang sudah hakiki itu artinya melanggar. Esok harinya aku mengundurkan diri dan menyarankan agar pembangunan komplek ini jangan lagi diteruskan.

Sampai sekarang lahan itu masih kosong tidak ada lagi dan tidak lagi dilanjutkan, bahkan tidak ada yang tau dari kelanjutan pembangunan itu. Meski pemandangannya bagus saat malam hari namun siapa nantinya yang mau tinggal disana jika tau, rumah yang didiami di kompleknya itu adalah bekas pemakaman umum.

loading...

Share This: