Kontrakan Tante Maya

Cerita kontrakan tante Maya ini dikirim oleh sahabat karibku Heni.

“Ma, kapan kita pulang? Aku nggak betah tinggal disini” tanyaku saat kita menginap dirumah seorang wanita yang baru dikenal mama 5 hari yang lalu.
“Ya kita akan pulang kalau rumah kita sudah selesai dibenarkan. Lagian mama betah kok tinggal disini, tante Maya juga baik sama kita” kata mama yang langsung beranjak pergi.

Walaupun mama mencoba menenangkanku, tapi aku masih gelisah. Dari pertama aku masuk rumah tante Maya, rumahnya seram banget, kalau lagi jalan kedapur aku sering ngerasa ada orang yang ngikutin dari belakang. Hari ini malam sabtu dan mama mau pergi menjenguk temannya di rumah sakit.

“Heni, malam ini mama sama tante Maya mau ke rumah sakit menengok teman mama yang lagi sakit. Nggak apa-apa kan kalau kamu dirumah sendiri?” kata mama.
“Mbak, apa nggak sebaiknya Heni diajak saja ke rumah sakit. Lagian sudah malam dan Heni sendiri, apa dia nggak takut?” saran tante Maya yang kesannya membujuk mama agar mengajakku.

loading...

“Iya ma, aku ikut mama saja deh” kataku.
“Ya ampun Heni, kamu kan sudah besar, masa takut dirumah sendiri. Lagian kita nggak lama kok” kata mama.

Aku pun hanya diam karena mama benar, walaupun aku sudah SMP tapi rumah tante Maya ini aneh dan bikin aku takut. Setelah mama dan tante Maya pergi, aku pun masuk kedalam rumah. Akhirnya aku sendiri dirumah ini. Aku pergi kedapur untuk mengambil air agar aku lebih tenang. Saat melewati suatu kamar aku melihat sesosok gadis yang sedang menyisir rambutnya didepan cermin.

Aku pun mengintip dari luar. Seingatku tante Maya tidak pernah menceritakan tentang kamar itu. Di kamar itu suasananya sangat gelap dan kotor. Aku melihat lukisan besar yang tergantung di dinding kamar itu, terlihat foto seorang ayah, ibu, dan kedua anak perempuannya. Saat aku melihat cermin, tidak ada bayangan gadis itu.

“*Argh!” teriakku. Gadis itu berbalik dan mukanya penuh dengan darah dimuka dan baju putihnya.
“Pergi dari rumah kami” kata gadis itu.

Aku langsung menutup pintu kamar itu dan berlari menuju dapur. Aku mencoba menenangkan diriku dan melupakan kejadian itu. Setelah minum air, aku berbalik dan akan berjalan tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Aku melihat kebawah dan ada seorang wanita yang memegang kakiku sambil mengesot, aku berteriak ketakutan dan menarik kakiku dan berlari kekamarku.

Di sana aku mencoba menelepon mama dan tante Maya, tapi tidak bisa. Aku mengambil tas dan akan pergi dari rumah berhantu ini. Saat diruang tamu yang dekat pintu keluar aku melihat seorang anak kecil yang sedang memegang sebuah boneka berdiri didepan pintu lalu menghampiriku.

“Ah! pergi! Jangan ganggu aku” teriakku. Aku mulai berjalan mundur tapi boneka berdarahnya menghampiriku. “Tolong!” aku berteriak meminta tolong pada para tetangga tapi sepertinya mereka nggak dengar. Aku mulai ketakutan dan menangis, aku hanya bisa menutup mataku dan berdoa. Hantu anak kecil dan bonekanya pun menghilang.

“Aku harus pergi dari rumah hantu ini, lagian mana sih mama sama tante Maya? Katanya mau pulang cepaet huh!” keluhku dalam ketakutan sambil membuka pintu, tapi pintunya nggak bisa dibuka. Aku mulai kebingungan, disaat kebingungan aku merasa merinding dan berbalik. Hah! Aku melihat ketiga hantu yang kulihat tadi ada didepanku, aku pun berteriak karena ketakutan lalu aku pingsan.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara mama dan tante Maya yang mencemaskanku sambil menepuk pipiku. Aku pun sadar, “Ma ayo kita pergi saja dari tempat ini, rumah ini tuh berhantu. Tante Maya benar kan kalau rumah tante ini berhantu?” tanyaku. Tante Maya hanya diam. “Heni jangan ngomong yang nggak-nggak ah” kata mama.

“Heni benar kok mbak, rumah ini memang ada penunggunya. Dulu, seminggu sebelum kalian datang kesini saya belum tinggal dirumah ini. Waktu itu saya lagi cari kontrakan, tapi nggak dapat-dapat akhirnya ada seorang kakek Wan yang ngasih rumah ini sama saya. Awalnya saya ngerasa aneh tapi saya terima karena sudah malam. Sebelum pergi dia sempat bilang kalau rumah ini ada penunggu keluarganya dan nyuruh saya supaya hati-hati, tapi saya nggak percaya sama kayak gitu. Pada hari pertama dan kedua nggak ada apa-apa, tapi pada ketiga saya mulai ngelihat penampakan keluarga kakek itu yang meninggal” jelas tante Maya.

“Terus kenapa tante Maya nggak pindah dari rumah ini?” tanyaku.
“Tante baru nyari uang buat pindah sekalian nyari orang yang mau ngontrak rumah ini” jawab tante Maya.
“Loh kenapa harus nyari orang yang mau ngontrak dik?” tanya mama.

“Soalnya kakek Wan itu pesan sama aku kalau mau pergi dari rumah harus nyari pengganti orang yang tinggal dirumah ini, kalau nggak nanti katanya saya akan diikuti arwah-arwah hantu dirumah ini” kata tante Maya.
“Dik Maya mendingan tinggal dirumah kami saja, entar saya bantuin cari orang yang mau ngontrak dirumah ini” kata mamaku.

Tante Maya pun setuju. Pada pagi harinya rumahku selesai diperbaiki, aku dan mama pulang kerumah kami bersama tante Maya. Dan rumah yang ditinggali arwah-arwah itu sekarang dikontrak sama 3 orang gadis kuliahan. Tante Maya pun senang karena sudah pergi dari rumah berhantu itu. Dia bercerita kalau dia sering dihantui sama arwah-arwah ibu dan kedua anaknya setiap malam apalagi pada malam sabtu karena dia menduga kalau malam sabtu adalah malam meninggalnya arwah hantu rumah itu.

“Ma, mama sudah kasih tahu gadis kuliahan yang ngontrak dirumah itu kan?” tanyaku karena sejak tadi malam aku merasa gelisah.
“Kayaknya tante Maya deh yang ngasih tahu sama mereka” jawab mama yang sedang menata barang-barang bersama tante Maya.

“Apa? Jadi mbak belum ngasih tahu mereka ya? Aku kira mbak sudah ngasih tahu mereka” kata tante Maya kaget. Kami pun jadi kaget, aku rasa gadis kuliahan itu sudah pergi dari rumah itu tanpa cari pengganti orang yang tinggal dirumah kakek Wan.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 79 posts