Kota Mati Part 11

Sebelumnya kota mati part 10. Yandi hampir putus asa, ketika dia melihat salah satu jendela kaca, dia langsung menuju kejendela itu dan berusaha membukanya, diambilnya kursi kayu didekatnya lalu dia pukulkan kearah kaca jendela tersebut hingga pecah.

“*Pyar!” akhirnya Yandi berhasil keluar dari rumah angker tersebut, dia berlari tergesa-gesa, “*guk, guk guk!”. Entah dari mana datangnya anjing hitam berkalung putih milik Unchi yang kini tiba-tiba ada didepannya dengan lolongan yang tiada henti kearah Yandi. Yandi yang masih merasa ketakutan juga merasa terganggu dengan suara anjing milik Unchi yang selalu menggonggong tanpa sebab siang malam, refleks mengambil pistol dalam sakunya. “*Dor!”. Di tembaknya anjing hitam tersebut hingga anjing itu tewas tak berdaya. Yandi terus berlari menuju rumahnya.

Esok harinya, Nurul sedang membersihkan rumah, ketika dia membuang sampah didepan rumah, dilihatnya tempat sampah milik tetangga depan rumahnya, putri. Tidak seperti biasanya, tempat sampah yang selalu penuh sudah 3 hari belakangan ini selalu kosong. Dia lirik kearah rumah Andi, hanya terlihat kursi roda milik Unchi. Dan tak biasanya kursi roda itu tergeletak didepan rumah tanpa pemiliknya. Mungkin keluarga Andi sedang berlibur, gumam Nurul dalam hati. Nurul akhirnya masuk kedalam rumah. Di lihatnya Kia sedang tersenyum sendiri menatap kehalaman depan rumah.

loading...

“Kia, apa yang kau lihat?”.
“Bayu bu”.
“Bayu?” tanya Nurul heran, karena sudah beberapa hari ini dia tak melihat Bayu, tapi mengapa Kia bisa menyebut nama Bayu.
“Kia, ayo kita masuk nak” ajak nurul tak ambil pusing dengan sikap anaknya itu, dalam hati nurul bergumam mungkin cuma halusinasi saja dan Kia pun menurut masuk kedalam rumah.

Esok paginya, tiba-tiba terdengar suara keributan didepan rumah. Nurul dan Yandi langsung menuju keluar rumah. Terlihat mobil ambulans dan dua orang polisi berada didalam rumah pak Andi. Nurul masih bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi. Tidak lama kemudian muncul beberapa orang berbaju putih membawa keranda berisi mayat menuju mobil ambulans.

Nurul terkejut refleks hampir teriak menyaksikan apa yang terjadi didepannya. Teriakannya tertahan oleh tangannya yang menyumpal mulutnya agar tidak terdengar. Nurul shock dan tak menyangka kalau putri sahabatnya tewas secara mengenaskan. Lalu dilihatnya kembali keranda mayat yang dibawa oleh dua orang petugas yang baru muncul dari dalam rumah Andi, ternyata Bayu.

Bayu meninggal dengan muka yang sangat mengerikan, tengkorak wajahnya hancur dan berlobang. Di lihatnya kembali mayat andi tergeletak bersimpah darah yang sudah kering dan disampingnya ada Unchi, wajah dan badannya hancur. Setelah diotopsi terjawablah bahwa keluarga ini meninggal sejak tiga hari yang lalu. Yandi dan Nurul saling bertatap setelah mendengar kabar itu.

Tidak disangka bahwa keluarga Andi telah tiada selama tiga hari, dan dari tiga hari yang lalu setiap malam Nurul selalu mendengar suara-suara orang sedang beraktivitas dirumah Andi. Kemarin malam dia juga melihat Unchi sedang duduk didepan rumah dengan kursi rodanya, begitupun juga Kia yang selalu memanggil-manggil nama Bayu ketika bermain. Setelah Nurul dan Yandi masuk kedalam rumah.

“Di sini sudah tidak aman yah! Aku ingin kita pergi saja dari sini” ucap Nurul terisak tak ingin terjadi apa-apa dengan keluarganya.
“Apa kau bilang? Pergi dari rumah ini? Kau benar benar tak menghargai usahaku”.

“Ini bukan soal harga menghargai, aku hanya takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada kita dan anak-anak” Nurul semakin terisak.
“Itu semua hanya kebetulan, begitu saja sudah banyak mengkhayal. Aku jamin tak akan terjadi apa-apa dikeluarga kita”.

“Tapi ayah”.
“Terserah! Pokoknya tidak ada satupun dari kita yang pergi dari rumah ini!” bentak Yandi lalu meninggalkan Nurul sendiri dikamarnya.

Tidak lama kemudian. (*Tulalit, tulalit, tulalit, tulalit, suara dering ponsel milik Nurul berbunyi). Nurul bergegas mengambi ponselnya, ternyata itu dari kakaknya, Dwi.

“Halo kak!” Di hentikannya tangisan Nurul berusaha bersuara seperti tidak terjadi apa-apa.
“Halo Nurul, kau sedang apa?”.
“Aku, sedang” jawab Nurul terbata bata
“Aku menunggumu kembali kerumah, aku tahu hatimu sudah tidak aman tinggal disitu, jangan kau dengarkan kata suamimu, kembalilah kesini, pintu rumah terbuka lebar untukmu dan anak-anakmu” ucapan Dwi menenangkan hati Nurul.

Nurul tak bisa berkata apa-apa, hanya merasa heran dari mana kakaknya bisa tahu dengan masalah yang dia hadapi saat ini. Selain itu Nurul juga merasa bingung keputusan apa yang harus dia pilih? Menetap dirumah itu bersama suaminya? Atau meninggalkan suaminya disini dan pulang kembali kerumah kakaknya? Bersambung di kota mati part 12.

Yain

Yain

MALAIKAT BAYANGAN
konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.

informasi lebih lanjut kunjungi
Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib
http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1

(facebook : Yain
)

(wa : 081280410615
)

makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain has write 37 posts

Please vote Kota Mati Part 11
Kota Mati Part 11
Rate this post