Kota Mati Part 12

Sebelumnya kota mati part 11. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, sudah beberapa hari ini Nurul dihantui rasa cemas, dilihatnya rumah disamping kanan dan kiri rumahnya yang kini sudah tak berpenghuni, setiap hari para tetangganya satu persatu meninggalkan kota, termasuk Zaenal. Karena semenjak kejadian misterius itu, Zaenal mengalami banyak sekali gangguan ketika bekerja, entah itu suara suara tanpa wujud sampai keperlakuan fisik sehingga Zaenal memutuskan untuk keluar dan tidak bekerja menjadi satpam dikomplek tersebut.

Bisa diketahui ketika malam hari, kota menjadi gelap, hanya beberapa cahaya rumah yang menerangi dan beberapa rumah itu saja yang masih bertahan tinggal dikota. Keesokan harinya beberapa rumah itu sudah mulai ditinggalkan, kecuali rumah dari keluarga Yandi. Di tengah gelapnya kota, hanya keluarga Yandi yang masih bertahan. Nurul harus berusaha bagaimana cara untuk membujuk suaminya agar mau kembali kerumah kakaknya, Dwi.

Sikap suaminya kini mulai berubah semenjak menempati rumah baru itu. Nurul yang sempat tertidur dikamar, terbangun akibat mendengar suara anak-anak kecil bermain. Masih dalam keadaan mengantuk Nurul keluar kamar untuk mencari tahu siapa yang bermain diluar. Ketika berjalan dan sudah berada dipintu kamar tiba-tiba “*bruk! Aw!” ternyata kaki Nurul menginjak salah satu mainan Kia.

Nurul terkejut, tidak biasanya Kia menaruh mainannya disembarang tempat, meskipun usianya baru 5 tahun, Kia memang sudah dididik disiplin dan mandiri, semua mainan yang dia mainkan pasti akan ditatanya kembali dengan rapi ditempatnya semula. Nurul terkejut ketika melihat kesekeliling kamarnya, karena semua mainan Kia berhamburan sampai keruang tamu. Nurul lalu mencari Kia dengan langkah terburu-buru, ketika berada didapur Nurul menemukan Kia sedang membuka buka lemari seperti sedang mencari cari sesuatu. “Kia!” Nurul menghampiri Kia dan memegang tangannya untuk berhenti membuka pintu-pintu lemari. Kia terdiam menatap ibunya.

“Apa yang kau lakukan nak? Mengapa mainanmu terhambur?” tanya Nurul dengan penuh rasa heran.
“Ibu jangan ganggu aku! Aku sedang bermain!” bentak Kia dengan nada kesal.
“Kau bermain apa?”.
“Petak umpet bu!”.

“Dengan siapa?”.
“Bayu bu, sekarang giliranku untuk mencarinya”.
“Hah! Bayu? Bayu kan sudah” gumam Nurul dengan penuh rasa heran.
“Kia, bereskan mainanmu!”.

“Bukan aku ibu, itu ulah Bayu” jawab Kia dengan polosnya.
“Bayu tidak ada! Kau jangan berbohong!” bentak Nurul.
“Aku tak berbohong bu, itu ulah Bayu, bukan aku”.
“Mana Bayu? Mana!”.

“Tadi Bayu bermain denganku bu, ini aku sedang mencarinya, Bayu! Bayu! keluar lah! Ibuku ingin bertemu denganmu!” Kia memanggil-manggil Bayu sambil mencari-cari dengan membuka-buka pintu lemari.
“Bayu keluarlah! Ibuku ingin menemuimu! Bayu!”.

Nurul yang sedari tadi menyaksikan tingkah Kia dengan penuh rasa heran langsung menggendong Kia dan meletakannya diatas kursi.

“Kau jangan berbohong!”.
“Aku tidak bohong ibu, aku tidak bohong, aku tidak bohong, tadi ada Bayu” rengek Kia berusaha meyakinkan ibunya.

loading...

Karena dipenuhi rasa emosi, Nurul refleks berkali-kali memukul tangan dan punggung Kia sambil mengucap “kau bohong, kau bohong!” Kia yang menahan rasa sakit dari pukulan ibunya terus mengucapkan “aku tidak berbohong ibu, aku tidak bohong!” tak lama suara mereka semakin keras diiringi dengan tangisan.

Yandi yang berada dalam kamar mendengar teriakan istri dan anaknya langsung berlari menuju sumber suara dan menggendong Kia, “apa yang kamu lakukan?” tanyanya pada Nurul, lalu berjalan menuju kedalam kamar. Nurul masih menangis, antara takut, dan menyesal dengan perlakuannya yang tanpa dia sadari sudah berlaku kasar terhadap anak yang dicintainya itu.

Tidak lama kemudian Yain datang dan masuk kedalam kamarnya dengan membawa sebuah koper ungu dan tas jinjing. Yandi yang melihat dari dalam kamar bertanya pada Nurul, “Yain dari mana? Maafkan aku yah, aku yang mengijinkan Yain menjenguk kak Dwi untuk beberapa hari” Yandi terdiam, dia tahu perasaan anaknya karena perlakuaan dirinya.

Nurul berusaha untuk membujuk Yandi agar mau kembali kerumah kak Dwi, tapi Yandi malah marah dan bersikeras untuk tidak akan meninggalkan rumah. Yandi menganggap bahwa tak ada lagi yang menghormati dan menghargai usahanya “aku telah bersusah payah menabung untuk membeli rumah ini, kau tak pernah tahu bagaimana sakitnya hatiku dengan kakakmu yang selalu merendahkanku, seolah-olah aku hanya sehelai sayap nyamuk yang tiada arti dikehidupanmu. Aku lebih senang disini, kita bebas disini, semua masalah akan kita selesaikan tanpa ada campur tangan dari orang lain. aku tak ingin kembali kerumah kakakmu lagi”.

Nurul terdiam dan dengan terpaksa dia mengikuti kemauan suaminya. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya dikeluarga Yandi? Bersambung di kota mati part 13.

Yain Bidadari Angkot

Yain

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain has write 33 posts