Kota Mati Part 15

Sebelumnya kota mati part 14. ketika Dwi sedang asik dan fokus mengamati coretan-coretan gambar dikertas itu, tiba-tiba saja pundaknya terasa berat, dia pun memegang kedua pundaknya dengan tangan kanannya secara bergiliran sementara tangan kirinya masih memegang kertas. “*Sshh” Dwi mendesis menahan pundaknya yang terasa berat itu, tatapannya masih tetap mengarah kepada coretan kertas.

Tiba-tiba saja Dwi melihat ada samar-samar bayangan seseorang disampingnya, ketika dia menyadari bahwa ada yang memperhatikan, Dwi langsung menoleh kearah kanannya dimana bayangan seseorang itu berada. “Kia” Dwi memanggil dengan penuh rasa heran, tangannya langsung bersembunyi dibalik badannya bermaksud menyembunyikan kertas-kertas yang dipegangnya.

“Sejak kapan kamu disitu?”.

Kia tak bergeming dan tetap berdiri mematung dengan posisi siap dan tatapan mata kosong.

“Apa yang aunty lakukan dikamarku?” tanya Kia dengan nada datar.
“Aunty hanya melihat-lihat saja, dan ini (sambil menyodorkan kertas kertas ) apa kau yang menggambarnya?” tanya Dwi dengan sedikit gemetar.

Kia menjawab hanya dengan menganggukan kepalanya.

“Tolong, pergilah dari kamarku” perintah Kia masih tetap dengan nada yang datar.

Dwi pun melangkahkan kaki menuju pintu untuk keluar kamar.

“Tunggu” langkah Dwi terhenti mendengar Kia berkata lagi, lalu menoleh kearah Kia.
“Jangan paksa ibuku untuk keluar dari sini, aku senang tinggal disini”.
“Apa?” Dwi heran dan memicingkan matanya.

Ada apa dengan Kia? Mengapa dia begitu betah tinggal ditempat yang penuh dengan misteri ini, dan mengapa sikap Kia tiba-tiba berubah, tak seperti biasanya, dan gambar gambar ini? “Ah” Dwi menggelengkan kepalanya, dia bingung dan tak habis pikir dengan semua ini.

Semua ini akan menjadi tanda tanya besar bagi Dwi kepada keponakannya itu. “Kakak, Kia, waktunya makan!” teriakan Nurul dari ruang makan membuat Dwi tertunda untuk mencari tahu semuanya. akhirnya mereka makan malam bersama.

Sementara itu, Yandi yang beberapa hari sibuk mencari pekerjaan kini sudah mendapatkan perkerjaan. Yandi terlihat sibuk dengan pekerjaan barunya, sibuk membereskan dan mengatur barang-barang, menyapu dan mengepel lantai serta menjadi kasir disebuah minimarket yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Yandi harus siap membanting tulang demi sesuap nasi dan biaya perawatan anaknya, tak ada pekerjaan yang bisa menampungnya selain penjaga toko.

Meskipun jarak tempat kerja dari rumahnya cukup jauh, hal itu tak akan membuat Yandi patah semangat. Dia rela sakit dibanding mendapat cercaan dan hinaan dari Dwi, kakak iparnya. Dia Yakin bisa terus membahagiakan istri dan anak-anaknya. Kini Yandi terlihat sibuk mengatur barang di rak, dengan keadaan toko yang begitu ramai pembeli tak disangka bahwa sedari tadi ada pembeli yang mencurigakan, Yandi mulai mengawasi pria itu, terlihat pria itu mengambil barang-barang didalam toko dan menyimpannya didalam jaket tebalnya.

Tak lama Yandi terus meperhatikan pria itu, kini nafasnya mulai memburu menahan emosi. Bagaimana tidak? Jika terjadi apa-apa dengan tokonya, dia yang akan mengganti rugi semuanya. Karena kendali toko sekarang ada ditangannya. Ketika emosinya sudah meluap, Yandi mengambil sapu lantai yang ada didekatnya dan mulai melangkahkan kaki perlahan-lahan mendekati pria itu.

Ketika sudah dekat, Yandi langsung memukuli pria itu menggunakan ganggang sapu. Pria itu menjerit kesakitan. Lalu bos yang terkejut mendengar suara kegaduhan langsung keluar dari ruangannya. Di lihatnya Yandi sedang memukuli pria itu, si Bos berlari dan Langsung menendang Yandi dari belakang sehingga badannya terlempar dan terhempas kearah lantai. Yandi menahan kesakitan, sementara pria itu langsung beranjak pergi dan berlari meninggalkan toko.

“Pak! Dia itu pencuri ? Mengapa kau membiarkannya pergi?” tanya Yandi setengah berteriak. “Apa kau bilang? Seenaknya menuduh orang sembarangan! Kau bekerja di tokoku! Harusnya kau layani dengan ramah! Jangan berbuat kasar dan jangan membuat kegaduhan!” bentaknya dengan penuh emosi. Yandi berusaha berdiri dengan menahan sakit.

loading...

“Tapi pak”.
“Kau dipecat”.

Masih penuh dengan perasaan emosi, si bos meninggalkan Yandi dan para pembeli yang sedari tadi menyaksikan kejadian naas itu. Yandi berlari berusaha mengejar bosnya “pak, tunggu pak! Mohon jangan pecat saya! Saya butuh pekerjaan ini! Pak!” Tak ada jawaban dari bosnya.

Yandi sangat sedih dengan nasib buruk yang baru saja menimpanya, baru dua hari dia bekerja dan mulai detik ini dia sudah tidak bekerja lagi. Dengan penuh rasa penyesalan, emosi, dan lemas Yandi pergi meninggalkan toko. bersambung di kota mati part 16.

Yain Bidadari Angkot

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 34 posts