Kota Mati Part 16

Sebelumnya kota mati part 15. “*kricik, kricik” suara bunyi air mengalir dari kran wastafel kamar mandi. Aku pun bergegas mencuci tanganku yang penuh dengan noda darah, kulihat baju putihku yang juga berlumuran darah. Segera aku lepas dan aku ganti pakaianku, lalu aku ambil korek gas dalam sakuku dan aku bakar baju itu diatas tempat sampah.

Ketika api mulai membesar baru aku letakkan didalamnya dengan nyala api yang berkobar-kobar, aku terus mengamatinya hingga bajuku habis tak tersisa menjadi abu. Setelah itu, aku *menadang air ditelapak tanganku lalu aku basuhkan kewajahku, sambil mengarah kecermin yang berada didepanku, “hah!”. Aku pun terkejut, ada noda-noda darah dicermin itu.

Darah itu membentuk suatu huruf yang dirangkai menjadi sebuah kalimat, aku pun membacanya dengan teliti “tunggu pembalasanku. Hah? Apa-apaan ini? Siapa orang iseng yang mencorat-coret disini?” tanyaku dalam hati, setelah aku keringkan wajahku dengan handuk kecil, tanpa pikir panjang aku pun membersihkan noda darah dicermin itu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan menuju kedalam kamarku.

Ketika sudah berada dikamar aku pun membanting tubuhku diatas kasur, bergegas untuk tidur. Tak lama kemudian tiba-tiba “*dug, dug, dug”. Suara apa itu? Aku cari asal suara itu, ternyata suara lemari dikamarku. Lemariku bergoyang-goyang dengan sendirinya. Aku pasang pendengaranku baik-baik untuk mencari suara, tak ada suara dangdut, tak ada suara musik, mengapa lemari ini joget-joget sendiri? Aku mulai mendekati lemariku, perlahan-lahan, dan kubuka pintunya “*argh!”.

Aku pun mundur ke belakang sambil menunduk, kututup wajahku dengan kedua tanganku. “*Glepak, glepak, glepak” suara apa itu? Makhkuk apa itu? Aku coba untuk melirik sedikit dan ternyata itu kelelawar. Banyak kelelawar berterbangan keluar dari dalam lemari yang terbang entah kemana. Tidak lama kemudian kelelawar-kelelawar itu sudah tidak ada lagi dan aku mulai memberanikan diri untuk melihat lemariku lebih jelas.

“Apa yang terjadi? Mana pakaianku? Mana isi lemariku? Mengapa kosong bak gua yang gelap gulita?” tak lama aku mencari-cari tahu dan melihat isi lemariku ini, aku terus menatapnya, sementara tangan kiriku tiba-tiba terasa dingin, seperti ada yang mencengkeram erat dibagian pergelangan tanganku. Semakin lama badanku mulai kaku, seluruh urat sarafku mulai menegang, tiba-tiba ada suara bisikan.

Aku rasakan nafas bagai hembusan angin ditelingaku. “Tunggu pembalasanku! Tunggu pembalasanku! Tunggu pembalasanku!” suara dengan kalimat yang di ulang-ulang. Suara yang awalnya hanya desahan lama kelamaan menjadi sangat jelas dan tak lama suara itu menjadi keras dan sangat keras sekali. Ingin sekali aku tutup telingaku dengan kedua tanganku tapi aku tak mampu, jangan kan tangan dan kakiku, mataku saja tak bisa berkedip untuk menahan ketakutan yang luar biasa ini.

Suara bisikan yang paling keras terdengar kembali. “Tunggu pembalasanku!” akhirnya suaraku terlepas dan teriak “Tidak!” Zaenal pun terduduk bangun dari mimpi buruknya. “*hah, hah, hah” Zaenal mulai mengatur nafasnya yang tak beraturan. Mencoba menangkan pikirannya. Zaenal meraba-raba badan, tangan dan kakinya, ternyata tidak terjadi apa-apa. Baru disadari kalau itu semua hanyalah mimpi. Setelah pikirannya tenang, Zaenal beranjak dari tempat tidurnya sambil berceloteh sendiri.

“Sial, ternyata hanya mimpi buruk!” dia pun berjalan menuju kekamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai, diapun mencuci tangan dan wajahnya, ketika itu tanpa sengaja dia melihat kearah cermin diatas wastafel dan terkejut seketika. Di lihatnya ada tulisan darah tertulis “tunggu pembalasanku!” apa!? Zaenal merasa heran, diapun teringat kembali dalam mimpinya yang sama persis dengan yang dia alami sekarang, tulisan beradarah dicermin.

loading...

Zaenal merasa ketakutan dan langsung keluar dari kamar mandi menuju kedalam kamarnya. Ketika sudah berada didalam kamar, Zaenal mendengar suara lemari bergoyang dengan sendirinya, “*dug, dug, dug” teringat kembali akan mimpinya, lemari bergoyang? Ah pasti ada kelelawar, karena entah kebetulan atau tidak, yang dia alami sekarang sama persis dengan mimpinya yang baru saja dialaminya. Zaenal pun hanya terdiam gemetar, matanya tak luput menyoroti lemari yang bergoyang dihadapannya.

Meskipun penasaran, Zaenal tak mau membuka lemari itu. Takut mengalami kejadian yang sama persis terjadi didalam mimpinya. Lama kelamaan pintu lemari itu bergerak-gerak seperti ada yang mendorong dari dalam lemari. Zaenal pun terbelalak menyaksikan hal itu, dengan sabar yang dipenuhi rasa ketakutan Zaenal tetap melihat dan menyaksikan sesuatu yang ada didepannya.

“*Dor, dor, dor” bunyi pintu lemari yang digedor dari dalam. “*Dor, dor, dor!” suara itu terdengar kembali. “*Dor, dor, dor!” dan tak lama kemudian pintu lemari itu terbuka lebar dengan kerasnya “*brak!” lemari itu sudah berhenti bergoyang. Zaenal langsung menutup mata dengan kedua telapak tangannya, tak berani melihat. Sekarang dia merasakan keheningan, tak ada suara apapun. Zaenal pun memberanikan diri membuka jari-jari telapak tangannya sedikit untuk mengintip apa yang ada dihadapannya.

“*Argh!” tiba-tiba saja suara seorang wanita teriak melengking dengan kerasnya dari dalam lemari. Di dalam lemari yang gelap, persis yang ada didalam mimpinya. Isi lemari kosong, tetapi ada suara teriakan seorang wanita, karena kaget bercampur dengan ketakutan yang luar biasa, Zaenal refleks berteriak juga “*argh!” dan langsung terbangun dari tidurnya. “*Hah, hah, hah” nafas Zaenal tersenggal-senggal mengalami mimpi yang begitu terasa nyata.

“*Tititit, tititit, tititit” jam weker berbunyi. Di liriknya jam meja disampingnya, ternyata sudah pukul 4 pagi. “*Prak, prak, prak!” dipukul-pukulnya pipi dan tangannya “*aw! Sakit!” berarti aku benar-benar bangun tidur sekarang, ini bukan mimpi lagi, ya, ini bukan mimpi. Tak puas dengan dugaannya, Zaenal pun berlari kedalam kamar mandi untuk melihat cermin wastafelnya. Tak ada noda darah, cermin itu bersih. Lalu Zaenal berlari kedalam kamarnya menuju lemari yang begitu menyeramkan dalam mimpinya.

“*Hap” ketika pintu lemari dibuka, isi lemari penuh dengan pakaian dan barang-barangnya, tak ada yang aneh, semuanya normal. Akhirnya Zaenal merasa lega setelah mengalami mimpi didalam mimpi dalam tidurnya (Déjà Vu). Tapi, apa maksud dari semua mimpi mimpi itu? Zaenal terduduk dikasurnya, membayangkan kejadian didalam mimpinya tadi, ketika dia melirik kebawah, ada sesuatu yang berbeda ditangan kirinya.

Ketika dilihat “hah!” pergelangan tangannya berwarna merah kebiru-biruan seperti lebam terkena pukulan. Zaenal pun terkejut dan teringat akan mimpinya, ketika didepan lemari dia sempat merasakan dingin dipergelangan tangannya. Apa yang terjadi pada Zaenal? Bukannya Zaenal sudah tidak bekerja lagi menjadi satpam di kota, tetapi mengapa masih ada saja teror yang menghantuinya? Bersambung di kota mati part 17.

Yain

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yainwa : 081280410615makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 35 posts