Kota Mati Part 17

Cerita sebelumnya kota mati part 16. Sementara dirumah Nurul, Dwi sedang menemani Kia bermain dikamarnya yang bernuansa merah muda itu. Ketika asik bermain, Dwi yang sedari tadi menatap Kia diam-diam kini mencoba untuk mulai bertanya. “Kia, bolehkah Aunty bertanya?”. Kia menoleh ke Auntynya dengan jawaban hanya mengganggukan kepala, lalu Dwi menggeser posisi duduknya untuk mendekati Kia.

“Aunty tadi mendengarmu menyebut nama Bayu, siapa itu Bayu?”.
“Dia teman baikku”.
“Oh ya? Di mana dia sekarang?”.
“Sekarang Bayu ada disini”.
“Hah?” Dwi terkejut.

Dengan tenang Dwi melirik kearah kanan dan kearah kiri tetapi tiada siapa-siapa selain Kia dan dirinya. Dwi mencoba kembali bertanya dengan sedikit berbisik.

“Ada dimana? Aunty tak melihatnya?”.
“Dia tak mau dilihat”.
“Kenapa?”.
“Dia malu karena mukanya buruk”.

“Lalu? Apa lagi yang kamu tahu tentangnya?”.
“Aku tahu banyak tentang dia, dia sering curhat”.
“Oh ya? Dia punya masalah?”. (Kia mengangguk).
“Dia ingin sekali punya orang tua yang baik karena” pembicaraan Kia tiba-tiba terhenti.

loading...

Tatapannya langsung menuju kepintu kamar seolah-olah ada sesuatu di dekat pintu itu. Dwi yang mulai penasaran mencoba untuk memancing Kia agar melanjutkan pembicaraannya. “Karena apa sayang?”. Kia tak menjawab, sorot matanya masih menatap kearah pintu. “Kia! Kia!” teriakan Dwi seolah-olah tak didengar, badannya kini mulai merinding melihat tingkah Kia yang terdiam secara tiba-tiba.

Lalu Dwi mengikuti arah tatapan Kia yang masih menatap kearah pintu, ekspresi Kia berubah seperti sedang ketakutan, Dwi melihat dan menengok kanan kiri mencari sesuatu yang dilihat Kia kearah pintu itu, tetapi tiada siapa-siapa yang dilihatnya, Dwi menoleh lagi kearah Kia. Dwi semakin heran melihat ekspresi Kia yang kini semakin ketakutan.

“Kia!” Dwi berteriak sambil menyentuh pundak Kia dan sedikit mengguncangkannya. Kia akhirnya tersadar dan menoleh kearah Dwi.
“Maafkan aku, aku tak bisa mengatakannya”.
“Kenapa?”.
“Dia akan sangat marah padaku”.
“Hah?”.

Mereka pun saling bertatap, tak lama mata Dwi berkaca-kaca dan air matanya pun mulai meleleh, dipeluknya Kia dengan erat. Tiba-tiba “*Ngiu, ngiu, ngiu” terdengar suara bunyi sirine ambulans disekitar rumah. Dwi menggenggam tangan Kia dan mereka bergegas berjalan menuju keluar rumah untuk melihat situasi diluar. Dwi melihat ambulans yang berhenti disalah satu rumah tetangga yang posisinya tidak begitu jauh dari rumah, dilihatnya pula keranda dorong yang berisi beberapa mayat diatasnya.

Tak sampai disitu, polisi pun ikut turut serta dalam mengidentifikasi mayat-mayat itu, lalu mengecek semua rumah yang sudah tak berpenghuni. Ternyata setiap rumah-rumah di kota, khususnya rumah di Bougenville yang sudah tak berpenghuni selalu ditemukan beberapa mayat disana. Dwi pun terkejut, teringat dengan coretan gambar Kia diselembar kertas-kertas yang dia temukan beberapa hari yang lalu.

Begitu banyak gambar manusia yang seolah-olah berdarah, inilah jawabannya, begitu banya mayat berdarah ditemukan disetiap rumah. Begitu terkejutnya Dwi, sampai-sampai tak sadar bahwa Kia sudah tak ada lagi disampingnya. Ketika Dwi menengok disebelahnya “hah!” Dwi langsung menoleh kekanan, kiri, depan hingga belakang, tak ada jejak dimana Kia berada, Dwi langsung berlari masuk kedalam rumah.

“Kia! Kia!” sudah dicari disetiap sudut rumah, Kia tak kunjung ditemukan. Tanpa sengaja Dwi menoleh kearah luar dimana pemandangannya langsung mengarah kerumah Andi. Di lihatnya pintu rumah Andi terbuka lebar, diingatnya kembali bahwa tadi Dwi melihat pintu itu tertutup, pintu itu tidak mungkin terbuka karena semenjak Dwi datang rumah itu sudah digaris kuning polisi.

“Jangan, jangan?” Dwi pun terperanjat langsung berlari menuju rumah Andi. Kini Dwi sudah berada didalam rumah itu, meskipun siang hari, Dwi merasakan aneh berada didalam rumah itu, berhawa panas dan gelap. Sesekali Dwi terkejut ketika melihat darah yang berceceran dilantai dan dinding rumah. Kia! Sambil terus berjalan mencari-cari.

“Kia! Sayang, kamu dimana?”.
“*Hihihi”.

Dengan refleks Dwi langsung menoleh keasal suara, suara anak kecil yang sedang tertawa. Dengan langkah perlahan Dwi menuju kesuatu ruangan yang diyakininya asal dari suara yang baru saja dia dengar. Ketika masuk keruangan tersebut, Dwi melihat situasi ruangan yang dihiasi berbagai pernak-pernik warna-warni di dinding, serta beberapa balon yang tergantung disalah satu sudut ruangan, tak lama tatapan Dwi tertarik untuk melirik salah satu meja bundar diruangan itu.

Dwi mendekati meja itu, terdapat kue tart hijau dengan lapis coklat diatasnya, kue bernuansa ulang tahun itu sudah dipotong sebagian. Seketika itu Dwi melihat sebuah gambar dibuku gambar yang terbuka, diambil dan dilihatnya gambar dalam buku gambar itu, ada sebuah gambar lukisan keluarga. Ada gambar laki-laki, perempuan, seorang anak kecil, dan sebuah rumah dengan seorang wanita duduk dikursi roda.

Di atas gambar itupun tertulis keterangan Papa, Mama, Bayu, Kakak. Lukisan itu seolah-olah menggambarkan sebuah keluarga yang bahagia. Dwi terperanjat, ternyata ini rumah teman baik Kia yang diceritakannya, Bayu. “Ternyata Bayu adalah arwah anak laki-laki yang tinggal dirumah ini” gumam Dwi. Tak lama kemudian Dwi melihat samar-samar ada seseorang berdiri tepat dipintu kamar.

Dwi langsung menoleh kearah pintu, ada sosok anak kecil berdiri disana, “Kia!” Dwi merasa senang karena akhirnya menemukan Kia, kini Kia sedang menatapnya. Tetapi tiba-tiba saja muncul seorang anak kecil laki-laki dari belakang Kia, anak kecil itu menyeret sebuah cangkul dan menatap kearah Kia. Tak diragukan lagi kalau itu adalah Bayu. “*Srek” suara bunyi cangkul yang diseret.

Dwi terbelalak menyaksikan kedatangan anak laki-laki dengan tatapan sinis berjalan kearah Kia yang sedang menatapnya. Tak lama posisi Bayu sudah semakin dekat dibelakang Kia, setelah dekat diapun menghentikan langkahnya yang sudah berjarak satu meter dibelakang Kia. Ekspresi Bayu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat marah, entah apa alasannya. Dwi teringat sejenak dengan gambar yang digambar oleh Kia, ada sebuah gambar cangkul disana.

Terlintas sejenak dengan gambar itu, kini Dwi kembali fokus dengan yang dia lihat sekarang, dia melihat tangan Bayu yang sudah siap siaga mengangkat cangkul untuk dihujamkan kearah kepala Kia. Dwi yang telah mengetahui maksud Bayu langsung ingin berlari kearah Kia untuk menyelamatkannya, tetapi tiba-tiba saja badan Dwi terasa kaku, tak bisa digerakkan. “Kia!” teriak Dwi sambil berusaha untuk bergerak “Kia!” badannya masih terasa kaku, suara Dwi pun juga semakin serak.

“Awas dibelakangmu!” tangan kanan Dwi sedikit bisa terangkat untuk menunjuk kearah Kia “A-was, di-be-la-kang-mu” suara Dwi terpenggal-penggal, semakin serak dan hampir tidak terdengar “ber-la-rilah!” tiba-tiba saja darah segar keluar perlahan dari hidung Dwi, seperti mimisan. “Kia, cepat lari!” Kia hanya terdiam disana, matanya masih menatap Auntynya, tetapi tidak merespon panggilan dan perintah Auntynya.

Lalu tiba-tiba saja badan Dwi bergetar hebat, buku gambar yang masih dalam genggamannya itupun terjatuh. Kepalanyanya mulai terasa pusing, antara sadar dan tidak sadar dengan kondisi yang demikian samar-samar Dwi melihat Kia langsung terbaring dilantai. Dwi pun ikut terjatuh terbaring dilantai, tepat diatas kertas buku gambar yang tadi terjatuh dari tangannya. Badannya masih bergetar, ingin sekali dia berteriak minta tolong tetapi terasa berat.

Hanya suara erangan seperti sedang tercekik. Dwi masih berusaha membuka matanya untuk melihat kondisi keponakan kesayangannya itu, darah dari hidungnya pun masih menetes, dilihatnya anak kecil laki-laki itu melangkahkan kembali kakinya perlahan untuk mendekati Kia. Dwi masih terasa lemas, dikumpulkannya sisa-sisa tenaganya untuk bangkit menyelamatkan Kia, tak lama kemudian Dwi berhasil bangkit, dia masih terduduk, dan mencoba untuk berdiri.

Di lihatnya kembali anak kecil itu, sudah dekat dengan keponakannya, setelah dekat anak kecil itu menggerakan badannya mengikuti tubuh Kia, kakinya masuk kedalam kaki Kia, sementara badan, tangan dan kepalanya masih menyesuaikan untuk masuk seutuhnya kedalam raga Kia. “Kia!” suara Dwi semakin lemah, seperti suara bisikan yang mampu dia keluarkan, terasa lemas, deraian air matanya pun terus mengalir membasahi pipinya, dikumpulkan semua tenaganya untuk bangkit dan menyelamatkan Kia karena tak lama lagi roh anak laki-laki itu akan masuk kedalam raga keponakannya itu.

*Tulalit, tulalit, tulalit (suara dering ponsel Dwi tiba-tiba saja berdering) seketika itu juga semuanya hilang, lenyap, yang tadinya gelap kini menjadi sedikit terang, seperti sedia kala, tetapi dimana Kia? Dwi tidak melihat Kia dan anak kecil itu lagi, Dwi langsung mengarahkan pandangan disekelilingnya untuk mencari-cari keponakannya itu. “Kia! Lalu menoleh kearah lainnya sambil memanggil-manggil “Kia! Kia!” tak ada jawaban, tak ada jejak, ditengah keputusasaan itu Dwi pun tersadar jika badannya sudah mulai bisa digerakkan, suaranya kembali normal. Dengan cepat Dwi menjawab teleponnya.

“Halo, Nurul! Kia Nur, Kia dalam masalah!” dengan gemetar Dwi menjawab dengan tergesa-gesa bermaksud meminta bantuan kepada adiknya karena Kia sedang dalam bahaya, Dwi terdiam sejenak mendengarkan Nurul berbicara, yang tadinya badannya gemetar ingin menyampaikan sesuatu mengenai Kia tiba-tiba saja terkejut. “Apa? Kia sedang bersamamu?” Dwi terkejut, terdiam mematung, matanya terbelalak, tangan yang masih memegang ponsel ditelinganya mulai lemas, tak lama ponselnya terjatuh.

Dwi lalu termenung sejenak memikirkan dan mengingat lagi kejadian yang baru saja menimpanya. Dwi meyakinkan diri bahwa tadi memang dia melihat Kia bersama seorang anak laki-laki dirumah ini. Sebenarnya Kia ada dimana? Siapa yang aku lihat tadi? Dan apakah benar Kia sedang bersama Nurul? Lalu apa yang diinginkan anak laki-laki itu? Dwi terus bertanya-tanya dalam hati. Tak lama kemudian Dwi mencari ponselnya yang tadi terjatuh, ketika ingin mengambil ponselnya yang berdekatan dengan buku gambar, Dwi sekilas melirik kearah buku itu.

“Hah?” Dwi kembali terkejut, diambilnya buku gambar itu. Gambar yang tadi dia lihat, tapi ada yang lain dengan gambar ini. Ada tulisan berdarah dibagian bawah gambar, setelah diingat, darah itu berasal dari darah hidung Dwi yang tadi menetes ke buku gambar itu ketika dia terbaring lemah tak berdaya. Ternyata tetesan darahnya menyebar dikertas sehingga membentuk sebuah huruf, tertulis disana “aku ingin mama”. Bersambung di kota mati part 18.

Yain

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN
konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.

informasi lebih lanjut kunjungi
Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib
http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1

(facebook : Yain
)

(wa : 081280410615
)

makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 37 posts

Please vote Kota Mati Part 17
Kota Mati Part 17
Rate this post