Kota Mati Part 18

Sebelumnya kota mati part 17. Tanpa pikir panjang, Dwi langsung bergegas berlari keluar dari rumah Andi. Ketika sudah dipintu keluar tiba-tiba “jangan bergerak!” Dwi terkejut melihat seorang polisi didepan pintu yang telah siap menodong pistol kearahnya. Dwi refleks mengangkat kedua tangannya untuk menghindari tembakan polisi itu.

“Sedang apa anda didalam rumah ini?”.
“Aku sedang mencari Kia, keponakanku”.
“Tempat ini sudah digaris polisi, harusnya anda tidak masuk kedalam rumah ini”.
“Aku mencari keponakanku, aku lihat pintu ini terbuka, aku pikir dia ada didalam”

Sesaat kemudian Polisi itupun menurunkan pistolnya. “Maafkan aku” Ucap Dwi sambil berjalan menuju pintu pagar, polisi itu terus menatap Dwi yang sedang berjalan melewatinya, “saya John, saya baru melihat anda, apakah anda bertempat tinggal disini?” langkah Dwi terhenti, lalu membalikkan badan kearah John dan berkata.

“Apa urusanmu?”.
“Mohon maaf, saya kepala kepolisan, saya bertanggung jawab atas semua keamanan disini, tadi anda mengatakan bahwa pintu rumah ini terbuka, apakah anda tahu penyebabnya?”.

“Tidak” jawab Dwi singkat.
“Saya harap anda berbicara yang sebenarnya”.

John terdiam sejenak, memandang wajah Dwi dengan penuh kecurigaan lalu kembali melanjutkan perkataannya.

loading...

“Waktu terakhir setelah saya mengurus jenazah keluarga Andi, semua pintu dirumah ini sudah dalam keadaan aman dan terkunci”.

Dwi memicingkan matanya sembari sedikit menggelengkan kepala.

“Buat apa aku menghabiskan waktu dan energi untuk mencari-cari alasan lain? Sedangkan dengan berkata jujur kau tak percaya”.

Merekapun diam sejenak, John menghela nafas, lalu menengok kearah teman-temannya yang masih berkumpul didepan salah satu rumah yang masih diperiksa. Mayat-mayat pun semakin banyak ditemukan, John melihat rekan kerjanya disana, “Yogi!” Yogi menoleh lalu berlari kecil kearah John, setelah dekat dengan posisi siap “tolong, cek dan amankan rumah ini, gembok dan kunci pintunya!”.

“Siap komandan!” Yogi bergegas melaksanakan perintah.
“Sebenarnya apa yang terjadi di kota?” tanya Dwi.
“Keadaan kota semakin kacau, banyak terjadi pembunuhan. Motifnya bermacam-macam, mulai dari bunuh diri sampai ke depresi dan membunuh keluarganya”.

“Sejak kapan peristiwa ini terjadi?”.
“Semenjak Bismi dibunuh, dan sampai saat ini pelakunya masih dalam pencarian”.
“Siapa itu Bismi?”.
“Dia seorang gadis yang bertempat tinggal di perumahan ini”.
“Lalu bagaimana dengan keluarga yang menempati rumah ini?”.

Sebelum menjawab, John kembali menghela nafas panjang.

“Andi meninggal bunuh diri setelah membunuh semua anggota keluarganya, dia depresi karena terlilit banyak hutang. Anaknya pun telah menjadi korban penganiayaan”.

Merekapun diam sejenak.

“Sebaiknya anda segera pergi dari tempat ini, sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan” Dwi merespon dengan sedikit mengangguk. Beberapa jam kemudian.” *Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk” terdengar suara langkah sepatu dilantai rumah sakit, dengan langkah tergesa-gesa, Dwi berjalan menuju kekamar Melati tempat Yain dirawat. Ketika sudah berada diruangan, Dwi melihat Nurul, Kia dan Yandi sedang duduk disana. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Dwi pada Yandi. Yandi hanya terdiam menundukkan pandangannya.

“Mengapa kau tak bekerja? Apa kau pikir bisa bayar biaya rumah sakit pakai daun?”.

Terdiam sejenak.

“Mana janjimu? Katanya mau mengurus anak dan istri, tapi nyatanya kamu yang menyebabkan ini semua, kau harus tanggung jawab atas tindakanmu yang egois”.

Yandi langsung berdiri bermaksud melawan kakak iparnya, Nurul langsung mencegahnya. “Tenang yah, tenang” ucap Nurul menenangkan suaminya. Dengan nafas yang masih memburu, Yandi menghentikan aksinya. Lalu Nurul menggandeng tangan Dwi menuju keluar ruangan. “Mama!” Kia memanggil, Dwi dan Nurul langsung menoleh kearah Kia, merekapun terkejut mendengar Kia memanggil Nurul dengan panggilan mama. “Aku ingin ikut?” Ucap Kia sedikit merengek.

Nurul tersenyum dan menjawab “nak, kamu disini saja ya, temani ayah” Kia hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum datar. Tak lama kemudian Nurul dan Dwi sudah berada disebuah restoran rumah sakit, mereka mencari kursi yang posisinya langsung menghadap jalan. Tidak lama setelah mereka memesan minuman, Dwi langsung memulai pembicaraan “kau masih betah tinggal di Kota?” Nurul terdiam, seperti hendak berpikir.

“Kami akan pergi setelah Yain sembuh kak”.
“Kenapa tidak sekarang saja?” Nurul kembali terdiam, menatap langit-langit dikeindahan malam lalu memandang lurus kedepan.

“Nurul, nasib anakmu kini dalam bahaya”.
“Maksud kakak?”.
“Kau tak dengar tadi dengan panggilan apa Kia memanggilmu?”.
“Mama? Tapi mama sama artinya dengan ibu”.

Dwi menghela nafas panjang.

“Kau benar-benar tak peka, anak seumur Kia memang sangat mudah dipengaruhi, tapi siapakah yang mempengaruhinya untuk memanggil dengan panggilan itu?”.

Diam sejenak lalu kembali berkata.

“Kau harus cepat pergi dari kota, sebelum Bayu menguasai anakmu”.
“Apa?” Nurul terbelalak, terkejut mendengar perkataan Dwi.

Dengan cepat Dwi mengambil beberapa kertas dari dalam tasnya.

“lihatlah gambar ini, Kia yang menggambarnya”.
“Apa maksudnya ini?” tanya Nurul keheranan.
“Banyak mayat yang ditemukan di kota, dan gambar ini (Dwi menunjuk ke gambar orang orang di kertas itu) Kia sudah menggambarnya sebelum kejadian ini terjadi”.

Nurul terbelalak, terkejut sambil menggelengkan kepala.

“Yang perlu kamu ketahui, sekarang Bayu sedang mengincar raga Kia, dia ingin mama, dia menginginkanmu”.
“Tidak mungkin untuk soal itu kak”.
“Terserah! Dari dulu kau memang tak pernah percaya padaku, kakak kandungmu sendiri. Kau justru lebih percaya pada laki-laki yang baru kau kenal, lalu menikahinya”.

Dwi terdiam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya.

“Jaga dirimu, jaga anak-anakmu! Karena besok aku akan pulang ke khayangan, apapun yang terjadi nanti, aku tak akan datang kembali ke kota, kalau aku kembali? Berarti itu mayatku” ucap Dwi dengan tegas. Nurul terdiam, teringat akan sahabatnya, Putri yang datang kepadanya dengan penuh luka memar. “Apakah selama ini Bayu kurang mendapat kasih sayang orang tua?” Gumam nurul dalam hati (untuk mengingatkan pembaca. Bisa dibaca kembali di “kota mati part 6“).

Tak lama kemudian Dwi melihat seorang wanita di ujung jalan. Wanita itu mengayunkan tangannya seperti memanggil-manggil, tetapi siapa yang dia panggil? Dwi menengok kearah kanan dan kirinya, orang-orang disekelilingnya tidak ada yang memperhatikan wanita itu, dengan tenang Dwi mengambil botol gelas yang ada didepannya, lalu meminumnya, setelah itu dia menoleh kembali kearah ujung jalan, ternyata wanita itu masih berdiri disana.

Ketika dia lihat, wanita itu kembali memanggil-manggil dirinya, tetapi Dwi tak merespon panggilan wanita itu. Tak lama kemudian tangan wanita itu memanjang sampai berada tepat disampingnya, tangan itu kini berada didekat kepala Dwi, Dwi terbelalak, terkejut dengan apa yang dilihatnya, belum sempat dia teriak, tangan itu dengan cepat menyentil daun telinganya. Dwi pingsan seketika. Bersambung ke kota mati part 19.

Yain Bidadari Angkot

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 33 posts