Kota Mati Part 19

Sebelumnya kota mati part 18. “*Tit, tit!” terdengar suara kunci alarm sebuah mobil diparkiran basement rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Yandi bergegas berjalan menuju pintu masuk. Malam ini dia harus menemani Yain, sementara Nurul dan Kia berada dirumah menemani Dwi yang belum siuman. Ketika sudah melewati pintu masuk, Yandi berjalan santai sambil mengantongi kunci mobilnya disaku celana.

“Dasar dokter payah, masa ngecek begini saja tidak bisa” terdengar suara salah seorang yang sedang berjalan berlawanan arah melewati Yandi. Yandi tertegun, langkahnya terhenti. “Sepertinya aku mengenal suara itu” gumam Yandi dalam hati. Lalu membalikkan badannya untuk menengok kebelakang. Ternyata orang itu juga menghentikan langkahnya dan menengok kearah Yandi.

Yandi Lalu berjalan menghampiri pria berjaket tersebut. Pria itupun juga berbalik arah dan berjalan mendekati Yandi. Pria itu tersenyum, tak disangka mereka akan bertemu disini. Setelah jarak mereka dekat “*wohoho! Pak Yandi!” Kata pria tersebut sambil menjabat tangan Yandi, lalu Yandi tersenyum sambil membalas menjabat tangan pria itu.

“Zaenal, sedang apa kau disini?”.
“Aku sedang berobat, konsultasi mengenai lukaku” ucap Zaenal sembari menunjukan pergelangan tangan kirinya yang lebam berwarna merah kebiru biruan.

“Tapi dokternya payah”.
“Kenapa?”.
“Dia mengatakan bahwa aku baik-baik saja, tak ada masalah, tapi kau bisa lihat ini kan?” memperlihatkan kembali pergelangan tangan kirinya.
“Aku mendapatinya ketika bangun tidur dan mimpi buruk” ucap Zaenal dengan nada kesal.

Terlihat ekspresi Yandi sedikit terkejut mendengar perkataan temannya itu.

“Ah! Ya sudahlah, mungkin ini hanya luka ringan, dan akan sembuh sendiri” sambung Zaenal menghibur diri.
“Semoga saja kawan. Sekarang kau tinggal dimana?”.
“Ah, aku sudah pergi jauh dari Kota, sekarang aku tinggal di Langit-nan-biru”.

“Hah? Itu kan sebuah apartemen?” Yandi terkejut sambil tersenyum bangga terhadapnya.
“Hebat, ternyata kau punya apartment ya! Sudah punya banyak uang. Pantas saja sekarang kau berhenti jadi satpam diperumahan Bougenville” canda Yandi sambil tersenyum renyah.

Zaenal terkejut lalu sejenak menatap tajam kearah Yandi, tiba-tiba saja Yandi menjadi merasa tidak enak hati dengan Zaenal yang sudah tersinggung dengan perkataannya.

loading...

“Kok tahu? *Haha” jawab Zaenal sambil menepuk pundak Yandi yang ekspresinya berubah menjadi serius karena berhasil dia kerjain. Yandi pun ikut tertawa lega.
“Aku sedang bercanda, jangan terlalu dibawa serius. selama ini aku memang terpaksa bekerja jadi satpam. Untuk meraih misiku, sekarang aku sudah merasa puas karena misiku sudah tercapai, *haha” ucap Zaenal dengan bangganya.

“Oh ya, ngomong-ngomong apa kau masih tinggal di Kota?”.
“Iya, kami bertahan tinggal disana”.
“Bagus, bagus” ucap Zaenal tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

“Tapi” Yandi terdiam dan menundukan kepalanya lalu kembali berucap.
“Sebentar lagi kami akan kembali ke Khayangan”.
“Mengapa ingin kembali kesana?”.

Yandi menghela nafas panjang lalu menjawab.

“Ku pikir dengan tinggal di Kota, semua urusan selesai, tapi nyatanya masalah demi masalah yang tak masuk akal selalu merundung keluarga kami”.
“Kau bersabar saja, dan tak ada gunanya kalau kau pergi dari sana”.
“Hah?”.

“Iya, aku sering mendapatkan gangguan aneh saat bekerja disana, tapi sekarang akupun masih mengalami gangguan aneh padahal sudah pergi jauh dari tempat terkutuk itu” kata Zenal sembari membenarkan kacing jaketnya.
“Kapan-kapan kalau ada waktu, mampir ketempatku ya, dan jika perlu bantuan aku akan siap membantumu”.

“Terima kasih” jawab Yandi.
“Aku masih ada urusan, aku harap kita akan bertemu lagi” ucap Zaenal sambil berjalan keluar menjauhi Yandi.
“Hati-hati ya”.
“Oke, seharusnya kau yang perlu berhati-hati” ucap Zaenal sedikit meninggikan suaranya sambil menengok sesaat kearah Yandi dan terus berjalan menuju pintu luar.

Yandi pun kembali berjalan kearah kamar Yain. Tak lama ketika sudah melewati beberapa kamar pasien, Yandi melihat sebuah benda aneh tergeletak dilantai, seperti benda yang ter jatuh dari pemiliknya. Perlahan dia mendekati benda itu, lalu diambilnya benda karet itu. “Hah” Yandi terkejut “topeng?” pandangan Yandi langsung menyapu ke segala penjuru ruangan, menoleh ke segala arah untuk mencari pemilik topeng yang saat ini ada dalam genggamannya.

Tapi, tak ada seorangpun yang dia lihat. Hanya beberapa perawat yang lalu lalang. “Apakah ini milik seorang perawat? Ah tak mungkin, mana ada perawat yang menakuti-nakuti pasien dengan topeng seseram ini” gumamnya dalam hati, kini jantungnya berdegup kencang sambil terus menatap topeng karet tersebut. Rasa penasaran kini menyelimuti perasaannya, mengapa tidak? Yandi ingat betul dengan topeng itu, topeng yang dipakai oleh seorang pria misterius ketika datang kerumah mencoba untuk membunuhnya.

(Untuk mengingatkan pembaca, bisa dibaca kembali di kota mati part 8) kira-kira siapa pemilik topeng tersebut? Dan mengapa bisa berada di rumah sakit? Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya. Bersambung di kota mati part 20.

Yain

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yainwa : 081280410615makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 35 posts