Kota Mati Part 20

Sebelumnya kota mati part 19. Yandi langsung berjalan cepat sambil membawa topeng tersebut. Setelah sampai dikamar, terlihat Yain sedang duduk diranjang putih khas rumah sakit “istirahatlah Nak, besok pagi kita akan segera pulang” ucap Yandi sambil mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Yain hanya terdiam melihat ayahnya yang datang dengan tergesa-gesa.

Sementara dirumah, terlihat Dwi masih terbaring ditempat tidur. “Kakak, bangun kak, maafkan aku kak, ini semua memang salahku” ucap Nurul menangis terisak-isak disampingnya. Tak lama setelah itu, Nurul beranjak kedalam kamarnya untuk istirahat. Di lihatnya Kia sudah tidur pulas, Nurul merebahkan dirinya disamping Kia sambil mengelus-elus kepalanya dengan penuh kasih sayang lalu mencium keningnya. Tak lama Nurul pun ikut tertidur.

“Mama, mama, mama” entah mengapa semenjak kematian keluarga Andi, suara bisikan yang begitu lembut selalu terngiang-ngiang dalam pikiran Nurul. Tetapi tidak untuk malam ini, Nurul yang sedang tertidur lelap tiba-tiba saja mendengar langsung suara itu, suara yang begitu dekat dan jelas. “Mama, Mama, Mama” suara bisikan ditelinganya membuat Nurul terjaga dari tidurnya. Mata Nurul yang tadinya terpejam kini terbuka lebar.

Alangkah terkejutnya dia ketika membuka mata yang arah pandangannya langsung menatap ke langit-langit kamar. Nurul melihat langit-langit kamar penuh dengan bercak-bercak darah. “Hah, hah, hah” nafasnya kini mulai tak beraturan akibat menahan ketakutan yang luar biasa. “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” tanyanya dalam hati. Tangannya mulai bergerak meraba kesamping kanannya, mencari Kia yang tidur disampingnya. Belum sempat mengenai tubuh Kia, tiba-tiba saja tangannya merasakan suatu cairan, diraba-rabanya cairan yang merembes dikain selimutnya itu hingga ikut membasahi telapak tangannya, sementara mata Nurul masih terbelalak menatap langit-langit kamar.

Lalu dia mengangkat tangannya yang basah tersebut dan dihadapkan kepada wajahnya untuk dilihat. “*Argh!” Nurul teriak terkejut, Cairan merah berbau amis kini berlumuran ditangannya, “mengapa ada darah?”. Sekilas Nurul teringat dengan ucapan Dwi. Mengenai Bayu yang ingin mengambil raga Kia. “Oh tidak!” tanpa pikir panjang, Nurul langsung menoleh kepada anaknya untuk memastikan Kia dalam keadaan baik-baik saja.

Ketika menoleh “Argh!” Nurul kembali berteriak sangat keras. Ketakutan kini menyelimuti perasaannya, bagaimana tidak? Dia tak menemukan Kia disampingnya, yang ditemukannya adalah sosok anak kecil laki-laki sedang tidur dan menatap kearahnya, tengkorak wajahnya hancur dan berlubang, seluruh wajahnya dilumuri dengan darah. Nurul berusaha untuk bangun dan ingin berlari sekencang mungkin, tetapi ketika masih dalam keadaan duduk tangan anak kecil itu langsung memegang tangan Nurul, seolah-olah anak itu melarang Nurul untuk pergi meninggalkannya.

“*Argh!” kini Nurul tertahan dengan cengkeraman tangan anak kecil itu yang begitu kuat menarik dirinya agar tidak turun dari tempat tidur. Tanpa pikir panjang Nurul mengambil bantal yang ada didekatnya dan menyumpal wajah anak kecil itu agar sesak nafas atau menghilang dari hadapannya. Anak kecil itupun meronta-ronta. Dengan penuh emosi, sekuat tenaga Nurul menekan bantal tersebut kepada wajah anak kecil itu, keringat dingin mulai bercucuran, nafasnya semakin memburu menahan ketakutan yang luar biasa.

Sementara itu, Yandi dan Yain baru saja tiba dirumah. Merasa ada yang tidak beres, Yandi langsung berlari kecil menuju kamarnya. Yandi melihat Nurul sedang menyumpal seorang anak kecil dengan bantal. “Siapa lagi kalau bukan Kia” pikirnya. “Kia! Kia!” teriak Yandi dengan langkah cepat menghampirinya dan seketika itu juga Nurul terkejut. Yandi langsung melepaskan tangan Nurul dari bantal itu.

loading...

Ketika bantal itu dibuka, Nurul kembali terkejut, matanya terbalalak “ya Tuhan!” perasaannya mulai panik luar biasa. Nurul baru menyadari bahwa yang dia sumpal adalah anaknya sendiri. “Kia!” dilihatnya badan Kia yang sudah melemah, mulutnya sedikit menganga berusaha untuk mengambil nafas. Nurul langsung memeluk Kia, “maafkan ibu sayang, maafkan ibu” ucap Nurul sambil menangis dengan penuh penyesalan. Nurul tak menyangka bakal akan terjadi seperti ini.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yandi dengan ekspresi marah, Nurul terdiam, hanya bisa menangis sesenggukan dengan penuh rasa penyesalan. “Kau benar-benar sudah tidak waras, kau hampir membunuh anakmu sendiri!” bentak Yandi sangat geram dengan perlakuan Nurul yang begitu tega menganiaya anak sendiri. Lalu Yandi melepaskan Kia dari pelukan Nurul dan menggendongnya keluar dari kamar. Nurul masih menangis sesenggukan mengingat-ingat kejadian yang baru saja dialaminya. Dia benar-benar yakin bahwa apa yang dia lihat adalah anak kecil jahat itu, bukan Kia.

Tapi nyatanya, dia nyaris ingin membunuh anaknya sendiri. Dengan pandangan sayu dia mengamati kembali tembok-tembok, kasur dan langit-langit kamar, “hah?” yang tadinya banyak noda darah dimana-mana, sekarang noda-noda darah itu hilang tanpa bekas. Sebenarnya Apa yang terjadi dengan Nurul? Ikuti terus ceritanya dan jangan pernah bosan ya. Bersambung di kota mati part 21.

Yain Bidadari Angkot

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 35 posts