Kota Mati Part 21

Sebelumya kota mati part 20. “Tolong! Lepaskan aku!” terdengar suara seorang gadis yang duduk disebuah kursi kayu didalam ruangan. “Aku mohon” suaranya semakin parau, akibat kehabisan tenaga setelah berusaha meminta tolong dan melawan seorang pria yang kini berdiri di hadapannya. Seorang pria berbadan kekar dan bertopeng itu telah bersiap untuk menghabisi nyawanya.

“Bismi, sekarang kau ada dalam genggamanku. *Haha!” suara sebuah tanda kemenangan pria itu menggelegar memenuhi ruangan. “*Prak! Prak!” ditamparnya pipi gadis itu secara bergantian. Bismi mencoba untuk kembali melawan, tapi apadaya tubuhnya sudah mulai lemas akibat siksaan yang bertubi-tubi dari pria bi*d*b itu. Kini Tangan, kaki, kepala serta badannya sudah penuh dengan darah segar yang mengalir dari luka bekas sayatan di sekujur tubuhnya.

Kedua tangan dan kakinya pun sudah terikat. Sejurus pria bertopeng itu kembali mengibaskan pisaunya ke tangan Bismi hingga menggores kulitnya yang putih itu. “*Argh!” teriakan yang melengking dan begitu menyayat hati. Bismi menjerit kesakitan. Darah segar kembali mengalir dengan derasnya. “Sakit ya?” tanya pria itu dengan lembut sambil menyeringai jahat. Bismi terus menangis terisak-isak, tiada gunanya lagi dia meronta-ronta, tiada gunanya lagi dia berteriak minta tolong, tiada gunanya lagi dia memohon ampun, kini maut sudah berada dekat didepan mata.

Bismi memilih pasrah dengan keadaannya yang cepat atau lambat pasti dia akan mati di tangan pria licik dan sadis itu. “Sakit yang kau rasakan sekarang tak sebanding dengan rasa sakit yang telah kau goreskan dihatiku!” kata pria itu sambil mengatur nafasnya yang sedang menahan emosi. “Aku tak rela jika kau jadi milik orang lain!” Bismi terdiam, hanya bisa menangis dan pasrah dengan perlakuan mantan pacarnya itu.

“Aku tidak terima dengan sikapmu yang mengorbankan perasaanku demi pria lain yang lebih kau cintai” ucap pria itu lagi. Sorot matanya terus menatap kearah Bismi. “Kalau aku tidak bisa memilikimu, berarti dia juga tidak bisa memilikimu” kemudian pria itu menundukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Bismi lalu berbisik “kau harus mati”.

“*Sret!” tanpa aba-aba pria itu langsung mengibaskan pisaunya, darah segarpun kembali mengalir memutuskan urat nadi di leher Bismi, Bismi tewas seketika. “Dok, dok, dok! Permisi! Dok, dok, dok!” terdengar suara seseorang dan ketukan pintu diluar sana. Dengan santai pria itupun menyeret badan Bismi untuk dimasukkan kedalam lemari besar yang terletak di sudut ruangan lalu menguncinya.

Setelah itu, pria itu membuka topeng, melepaskan kaos tangan dan jaketnya yang penuh dengan cipratan darah lalu berjalan menuju ke pintu luar. Ketika pintu dibuka, dilihatnya seseorang dengan seragam keamanan sudah berdiri dihadapannya.

“Ada apa?” tanya pria itu.
“saya Zaenal, satpam baru di komplek ini. Mohon maaf, tadi saya mendengar suara teriakan seorang wanita dari dalam rumah ini, apakah?”.
“Oh tidak ada masalah, aku hanya sedang menonton film horor” sambung pria itu.
“Oh begitu, apakah anda pemilik rumah ini?”.

“*Ehm, iya” jawab pria itu berbohong, mungkin tidak akan ketahuan karena yang dihadapinya adalah satpam yang baru saja bekerja dan kemungkinan juga dia belum mengenal semua pemilik rumah dikomplek ini.
“Semoga saja dia tidak curiga” gumam pria itu berusaha berlagat seperti biasa seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.

“Apakah anda sedang bersama seseorang?” tanya satpam itu lagi yang mulai menaruh rasa curiga.
“Tidak” jawab pria itu dengan nada datar.
“Saya yakin sedari tadi saya mendengar suara teriakan dari dalam rumah ini”.
“Semuanya baik-baik saja, kau mungkin salah dengar” kata pria itu yang kini mulai emosi.

“Mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu, selaku keamanan di wilayah ini untuk memastikan bahwa semuanya aman, saya pikir anda tidak akan keberatan untuk mengijinkan saya masuk kedalam rumah anda” ucap satpam tersebut yang sudah merasa curiga kepada pria itu.

Pria itupun menghela nafas panjang, lalu menyingkirkan badannya dari pintu untuk membuka jalan agar Zaenal bisa masuk ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Zaenal pun berjalan masuk dan ketika sudah didalam rumah “hah?” alangkah terkejutnya Zaenal saat melihat kondisi rumah yang begitu berantakan seperti kapal pecah. Serpihan kaca dan benda-benda didalam rumah banyak yang hancur dan berantakan. bercak darahpun ada dimana-mana.

Zaenal melihat keadaan itu dengan posisi membelakangi pria tersebut. Sehingga dalam posisi seperti itu akan memudahkan pria bi*d*b itu dalam mengambil kesempatan untuk menghabisi nyawanya. Tak tanggung-tanggung, dia akan menghapus semua jejak dan menghilangkan nyawa siapapun yang sudah merasa curiga kepadanya. Dengan tatapan sinis, pria itu berjalan mendekati Zaenal secara perlahan-lahan sambil mengambil ancang-ancang dengan sebilah pisau yang sedari tadi sudah tersimpan dibelakang lengan tangannya.

Setelah dekat “*jlep” seketika semuanya menjadi gelap. Tiba-tiba saja Dwi tersadar, dengan perlahan dia membuka kedua matanya. “Aunty!” Yain teriak kegirangan, merasa senang karena Auntynya sudah siuman, Dwi langsung menoleh kesamping, dilihatnya Yain sedang duduk menemaninya disamping tempat tidur. “Yain!” Dwi tersenyum dan bangun dari tidur nya lalu memeluk Yain.

Setelah berpelukan, Dwi terdiam, teringat kembali akan mimpi yang baru saja dialaminya. Mimpi yang buruk. “Bismi? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu” gumamnya dalam hati. Dengan refleks Dwi memicingkan matanya sambil mengingat ingat kejadiaan saat itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi di Kota?” tanya Dwi.
“Keadaan kota semakin kacau, banyak terjadi pembunuhan. Motifnya bermacam-macam, mulai dari bunuh diri sampai ke depresi dan membunuh keluarganya”.

loading...

“Sejak kapan peristiwa ini terjadi?”.
“Semenjak Bismi dibunuh, dan sampai saat ini pelakunya masih dalam pencarian”.
“Siapa itu Bismi?”.
“Dia seorang gadis yang bertempat tinggal di perumahan ini”.

Sekilas Dwi kembali teringat dengan ucapan John saat itu. (Untuk mengingatkan pembaca bisa di baca kembali di “kota mati part 18“). Tak disangka bahwa mimpinya berkaitan dengan percakapan singkatnya dengan kepala kepolisian itu. “Aunty, Aunty, Aunty kenapa?” tanya Yain keheranan karena melihat Aunty-nya yang tiba-tiba melamun. Dwi membuyarkan lamunannya, lalu menatap kearah Yain “Aunty ingin pergi dari sini”. Yain mengangguk merespon Aunty-nya lalu berkata “berhubung hari sudah mulai gelap, kita bisa pergi besok pagi”. Ternyata Yain juga sependapat dengan Auntynya, dia ingin ikut bersama Dwi untuk meninggalkan Kota.

Menurut kalian hey para reader KCH, apakah Dwi dan Yain akan berhasil meninggalkan Kota? Lalu apa maksud sebenarnya dari mimpi Dwi selama tak sadarkan diri? Apakah Dwi ada hubungannya dengan kematian Bismi? Oh ya, Dwi teringat ada dua nama didalam mimpinya. Bismi dan Zaenal, apakah Zaenal benar benar sudah mati? Ataukah masih hidup? Lalu, sebenarnya siapa yang membunuh Bismi? *Hmz, kalian pasti penasaran bukan? Ikutin terus ya ceritanya dan jangan pernah membaca sendirian. Bersambung di kota mati part 22.

Yain Bidadari Angkot

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 35 posts

loading...