Kota Mati Part 22

Sebelumnya kota mati part 21. “Ibu! Ayo kemari!” Kia berteriak dari tengah kolam memanggil ibunya. Nurul terus memperhatikan anaknya sambil duduk di bangku kayu. Sesekali Kia berteriak mengajak ibunya untuk berenang bersama dirinya.

“Sudah sore nak, besok kita lanjutkan kembali ya!”.
“Iya bu” jawab Kia sembari terus mengayun ayunkan kakinya didalam air.

Tangannya menggenggam sebuah karet kuning berisi gas yang berbentuk donat raksasa untuk membantunya mengapung di kolam dengan ketinggian air 1 setengah meter itu. Nurul tersenyum senang melihat Kia yang kini sudah mulai pandai berenang, meskipun masih dibantu dengan pelampung. Seketika itu tiba-tiba saja ekspresi Nurul berubah serius, samar-samar dia mendengar suara dari dalam rumah.

Suara yang tidak asing lagi baginya “hah, kak Dwi!”. Nurul terperanjat dan langsung masuk kedalam rumah untuk menemui kakaknya yang baru saja siuman. “Kakak, syukurlah kakak sudah siuman” Dwi tersenyum melihat Nurul yang datang tiba-tiba menghampirinya . “Maafin aku kak, ini semua salahku” dengan perasaan menyesal Nurul memeluk kakaknya “tidak masalah Nur, aku mengerti posisimu saat ini”. Merekapun sedikit berbincang-bincang, suasanapun menjadi tegang ketika Dwi menceritakan kronologi kejadian yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri.

“Kemasi semua barang, besok pagi kita semua akan berangkat”.
“E, i, iya kak” jawab Nurul dengan nada yang masih ragu-ragu.

Dia masih merasa bingung dengan keputusan apa yang harus dia pilih. Nurul ingin sekali ikut pergi dari kota terkutuk ini, tetapi suaminya pasti tidak mengijinkannya untuk pergi. “Jangan kau pikirkan soal suamimu Nur, yang harus kau pikirkan saat ini adalah keselamatanmu, dan keselamatan anak anakmu” ucap Dwi meyakinkan keraguan Nurul dan seolah tahu dengan apa yang dipikirkannya.

Nurul terlihat berpikir sejenak lalu menganggukan kepalanya dengan begitu yakin. Lalu sedikit terbelalak karena teringat bahwa dia meninggalkan Kia yang masih berada didalam kolam renang. Tanpa pikir panjang, Nurul langsung berjalan tergesa gesa menuju kolam renang yang berada di halaman belakang rumah. Ketika sampai disana, Nurul menyapu seluruh pandangannya di sekeliling dan sekitar kolam renang, “Kia! Kia!” teriak Nurul.

loading...

Nurul tidak melihat Kia disana, yang terlihat hanyalah pelampung donat yang Kia gunakan tadi untuk berenang. “Kia! Kamu dimana!” teriak Nurul sambil terus mencari-cari Kia. Tetapi Kia tak kunjung ditemukan, kini pikirannya menjadi kacau balau, rasa takutpun menyelimuti dirinya. Tak tahu lagi harus mencari kemana, akhirnya Nurul berkeliling-keliling saja dipinggir kolam sambil memanggil-manggil Kia. Tak lama kemudian, “*Hu, hu, hu” Nurulpun menangis, dia menjatuhkan badannya dan duduk disamping kolam renang.

“Kia. Kamu dimana? Kia! Kamu di…?” tiba-tiba Nurul menghentikan ucapannya. Dalam pandangan yang masih menatap ke arah kolam renang, Nurul melihat ada yang lain di dalam kolam renang itu, air kolam yang tadinya begitu jernih tiba-tiba saja berubah menjadi merah. Seperti tercampur dengan cairan darah. Munculnya warna merah itu tak jauh dari posisi pelampung itu berada, sehingga tak di pungkiri lagi kalau Kia pasti ada disana, tak butuh waktu lama air merah tersebut menyebar ke segala arah dan bercampur mewarnai seluruh air didalam kolam renang.

Nurul pun terbelalak dan langsung berdiri lalu berjalan di pinggir kolam mendekati asal darah tersebut. Ketika dilihat dengan dekat, mata Nurul semakin membelalak, mengapa tidak? Dia terkejut melihat sosok Kia tenggelam di dalamnya “Kia! *Byur!” Nurulpun menyeburkan dirinya kedalam kolam yang sudah penuh dengan warna darah itu. Setelah berada di dalam kolam, Nurul berenang mendekati Kia.

Ketika sudah sampai, Kia yang tadi dia lihat di area itu tiba-tiba saja menghilang. Dimana Kia? Nurul yakin Kia masih berada disini ketika dia berenang mendekatinya. Tetapi, mengapa Kia tidak terlihat? Tangan Nurul terus meraba-raba didalam air berharap dia menemukan Kia disana. “*Plak” akhirnya tangan Nurul menyentuh sesuatu, sebuah tangan, ya sebuah tangan! Nurul langsung menarik tangan itu, belum sempat Nurul menggendongnya.

“*Argh!” Nurul teriak sangat histeris. Tangan yang dia pegang ternyata bukan lah tangan milik Kia, anaknya. Tetapi tangan Bayu. Bayu muncul ke permukaan air dengan wajah yang sangat menyeramkan. Wajah berlubang dengan bentuk tengkorak yang hancur itu keluar dari permukaan air sambil terus mengeluarkan darah. Bayu memanggil-manggil “mama, mama,mama”. Tanpa pikir panjang, dengan penuh emosi bercampur ketakutan yang luar biasa, Nurul memegang ubun-ubun kepala Bayu lalu menenggelamkannya ke dalam air, Bayu mengangkat tangannya ke atas bermaksud meminta pertolongan dan permohonan.

“Rasain kamu bocah, tiada ampun bagimu!”
“Nurul. Nurul” tiba-tiba terdengar teriakan Dwi dan Yandi.

Nurul menoleh ke arah mereka, sementara tangannya masih menekan kepala Bayu kedalam air. Di lihatnya ekspresi Dwi dan Yandi begitu ketakutan, “ibu, tolong hentikan bu!” teriak Yain yang tiba-tiba saja datang dari arah pintu, dengan raut wajah yang begitu ketakutan Yain terus berteriak memohon ibunya untuk menghentikan aksinya. *Byur! Dengan cepat Yandi menceburkan dirinya masuk ke dalam kolam dan berenang ke arah Nurul.

Nurul merasa bingung dengan tingkah mereka dan air yang tadi dilihatnya berwarna merah darah kini sekarang berubah menjadi jernih seperti sedia kala. Nurul lalu menatap ke dalam air dan terlihat samar-samar dengan apa yang dipegangnya, karena air yang dilihatnya jernih jadi dia bisa melihat kedalam air tersebut. “*Hah, ya Tuhan!” dengan cepat Nurul melepaskan tangannya. Ketika Nurul melepaskan kepala Bayu didalam air, terangkatlah tubuh mungil itu ke permukaan.

“Ibu”.
“*Hah!” Nurul terbelalak.

Begitu terkejutnya dia ketika tahu bahwa yang dia tenggelamkan tadi ternyata Kia, Nurul hampir membunuh anaknya sendiri. Pantas saja Yain, Dwi dan Yandi terlihat ketakutan kearahnya. Tak lama, Yandi tiba dan berdiri dihadapannya “apa yang kau lakukan padanya!” teriak Yandi penuh emosi, dia menarik badan Kia dan membawanya dalam gendongan, lalu beranjak naik dari kolam.

Nurul terdiam, tak bisa berkata apa-apa, badannya sedikit gemetar. Dia sangat menyesali perbuatannya. Apa yang terjadi padaku? Mengapa jadi seperti ini? Aku yakin dengan apa yang aku lihat tadi, aku melihat Bayu, bukan Kia!” Tapi nyatanya, terdiam sejenak berpikir tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Yandi dan Yain membawa masuk Kia kedalam rumah, sementara Dwi masih berdiri dipinggir kolam.

Pandangannya terus menatap Nurul, terlihat air matanya meleleh membasahi pipinya. Nurul pun naik dari kolam renang lalu menghampiri kakaknya. “Kak, aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku, sudah berapa hari ini aku bersikap dan berpikiran aneh” ucap Nurul sesenggukan menahan tangis.

“Aku tahu, ini semua akibat arwah Bayu yang menginginkan raga Kia, agar bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang darimu. Dia menginginkanmu, itu sebabnya dia berusaha untuk menguasai hati dan pikiranmu. Sehingga dengan ketakutan inilah kau menjadi lebih mudah untuk membunuh anakmu sendiri, dengan begitu, Bayu akan mendapatkan raga Kia, raga yang selama ini dia inginkan”. Bersambung ke kota mati part 23.

Yain

Yain Bidadari Angkot

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yainwa : 081280410615makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain Bidadari Angkot has write 35 posts