Kota Mati Part 23

Sebelumnya kota mati part 22. Nurul terlihat tampak begitu cemas, dengan perlahan dia menundukan kepala sambil memejamkan matanya, air matapun masih menetes tiada henti. “Tenangkan pikiranmu, dan bersiaplah untuk berbenah, besok pagi kita akan keluar dari Kota terkutuk ini” ucap Dwi sembari memegang kedua pundak Nurul untuk menenangkannya.

Tak lama kemudian, Nurul menghentikan tangisannya, dia tampak begitu tenang dari sebelumnya. “Sebaiknya, kita lihat kondisi Kia sekarang” ajak Dwi, Nurul mengangguk lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah sementara Dwi mengikutinya dari belakang. Ketika Dwi berjalan melewati kamar Yandi yang berada di sebelah kanannya, dengan pandangan lurus ke depan dia melihat samar-samar ada suatu benda tergeletak di atas meja yang berada di dalam kamar Yandi.

Pintu kamarnya sedikit terbuka sehingga Dwi bisa langsung melihat sebuah meja di dalam kamar tersebut. Dwi langsung menghentikan langkahnya dan berbalik lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Dengan langkah perlahan lahan, Dwi mendekati meja itu. Ketika sudah dekat dengan meja tersebut “ya Allah!” Dwi terkejut dengan apa yang dilihatnya, sebuah benda karet berbentuk wajah manusia yang sangat menyeramkan.

Selain terkejut melihat bentuknya yang aneh, Dwi juga langsung teringat akan suatu hal. Dia ingat dengan mimpinya. Seorang pria bertopeng yang sedang menganiaya gadis bernama Bismi. Topeng yang dilihatnya saat ini begitu mirip dengan topeng yang dikenakan seorang pria di dalam mimpinya, “jadi selama ini?” Dwi bergumam dalam hati, mulai berpikir mengapa topeng itu bisa berada di rumah ini.

“Jangan-jangan? Apakah?” Dwi langsung menghentikan pikirannya agar tidak berprasangka buruk dulu, karena tak ada gunanya untuk menebak-nebak siapa seseorang di balik topeng itu. “Aku harus mencari tahu dan membuktikannya” Dwi langsung mengambil topeng karet itu lalu pergi meninggalkan kamar dan menuju ke kamar Kia. Dwi melihat Kia masih terbaring di atas tempat tidurnya, pakaiannya pun sudah di ganti. Dwi mendekati Kia dan memeriksa denyut nadinya hingga detak jantungnya.

“Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja” kata Dwi.
“Amin, semoga saja kak” ucap Nurul yang tampak begitu mengkhawatirkan anak bungsunya tersebut, begitupun dengan Yain yang berharap adik kesayangannya cepat siuman.

Lalu Dwi berjalan keluar kamar untuk menghampiri Yandi yang sedang duduk di ruang tengah, Yandi yang terlihat begitu gelisah tiba-tiba saja berubah ekspresi ketika melihat Dwi berjalan ke arahnya. Yandi membalas tatapan Dwi yang begitu tajam menatapnya. Ketika jarak mereka sudah dekat, tanpa basa basi Dwi langsung mengeluarkan topeng karet dari genggaman dan memperlihatkannya kepada Yandi.

“Apa yang kau ingingkan dengan topeng itu?” tanya Yandi penuh keheranan.
“Kau tak usah mengelak, apa sulitnya berkata jujur”.
“Apa maksudmu?” tanya Yandi sambil memicingkan matanya, mulai berpikir dan menebak-nebak arti dari ucapan Dwi.
“Masih tak tahu juga? Apa pura-pura tidak tahu?”.
“Oh, kau menuduhku pemilik benda aneh itu?”.

“Mengapa tidak? Karena jelas benda ini ku temukan di kamarmu”.
“Itu bukan milikku. Aku menemukannya dan aku mengambilnya”.
“Untuk apa kau mengambilnya?”.
“Karena aku ingin mencari tahu pemiliknya”.

Merekapun diam sejenak.

loading...

“Waktu itu ada seorang pria bertopeng mengendap-endap masuk ke dalam rumah, dan aku hampir terbunuh olehnya”.

Dwi begitu terkejut mendengar pengakuan adik iparnya itu. Ternyata pria bertopeng itu sempat mengintai keluarga adiknya. Terlintas sejenak dipikirannya, apakah pria bertopeng yang nyaris membunuh Yandi adalah orang yang ada di dalam mimpinya. Entah mengapa Dwi begitu yakin karena tidak menutup kemungkinan jika pria bertopeng yang di maksud Yandi adalah satu orang yang sama dengan pria bertopeng yang ada di dalam mimpinya, begitu jahat dan sadis.

“Apa kau pernah mengenal seseorang?”.
“Iya, tapi aku tak pernah punya musuh, semua orang baik padaku, begitupun sebaliknya” ucap Yandi.
“Termasuk Zaenal” lanjutnya.
“Hah?” Dwi kembali terkejut saat mendengar nama Zaenal.

Nama itu tak asing baginya. Lagi-lagi Dwi teringat kembali akan mimpinya, lalu bertanya penuh keheranan “satpam kompleks?” ucapnya dengan mata terbelalak menunggu jawaban dari Yandi. Yandi yang tadinya bersikap santai langsung terkejut saat mendengar Dwi menyebut profesi Zaenal yang kebetulan memang mantan satpam komplek di sini. Yandi menatap tajam ke arah Dwi dan mulai bertanya.

“Kau mengenalnya?”

Dwi menghela napas panjang lalu menjawab.

“Tidak. Tapi aku memimpikannya, dan sebenarnya Zaenal sudah meninggal”.
“Apa?” Yandi terkejut.
“Tidak mungkin!” Yandi berusaha menepis dan tak begitu menghiraukan ucapan Dwi yang didapatnya hanya melalui mimpi.
“Mimpimu hanya bunga tidur!” Ucap Yandi lalu beranjak pergi menuju kamar.

Sedangkan Dwi masih berdiri di tempatnya. Tak lama kemudian Nurul datang menghampirinya.

“Kak, Kia sudah siuman”.
“Syukurlah”.
“Apakah kakak mau menemani Kia tidur di kamarnya?”.
“Iya” jawab Dwi sambil menganggukkan kepalanya.
“Aku akan menemaninya tidur malam ini” lanjutnya.

Akhirnya Nurul merasa tenang karena malam ini Dwi bersedia menemani anaknya tidur, sebenarnya Nurul ingin sekali menemani Kia tetapi takut kembali terjadi hal-hal yang tak di inginkan seperti kejadian sebelumnya. Malam harinya, ketika semua sudah tertidur lelap, “*gluduk, gluduk!” suara rintikan air hujan yang begitu deras dengan sambaran kilat yang menggelegar saling bersahutan diluar sana. Dwi yang tadinya sudah tertidur lelap akhirnya terjaga dari tidurnya, Dwi terbangun karena cuaca malam yang begitu dingin, dengan mata yang masih terpejam Dwi meraba-raba untuk mencari selimut di sekitar badannya.

Setelah dapat Dwi langsung menutupi seluruh badan hingga kepalanya, tak lama kemudian “*srup!” Dwi terkejut dan terbangun dari tidurnya. “Hah?” mata Dwi terbelalak, selimut yang dia kenakan tiba-tiba saja tertarik kebawah. Dwi langsung memandang ke sekililingnya, dia yakin seperti ada seseorang yang menarik selimutnya. Tetapi siapa? Dwi melihat tak ditemukan tanda-tanda orang memasuki kamarnya. Lalu di liriknya Kia yang sudah tertidur pulas disampingnya. Ketika menoleh ke bawah tempat tidur, di lihatnya selimut itu sudah berada di lantai. Belum sempat Dwi mengambilnya tiba-tiba saja.

“*Hmz, hmz, hmz, hmz”. Terdengar suara seseorang berdehem di luar kamar. Dwi pun mengurungkan niatnya untuk bergerak mengambil selimut itu, kini dia fokus menunggu suara itu terdengar kembali sampai dia yakin kalau dia benar-benar mendengar suara itu. “*Hmz, hmz, hmz” suara itu kembali terdengar. Dwi yang sudah begitu yakin dengan apa yang di dengarnya langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar untuk mengecek siapa yang sedang beraktivitas di jam tengah malam seperti ini.

Dwi berjalan ke arah datangnya suara itu, ketika sampai di ruang tengah “hah!” Dwi begitu terperanjat ketika melihat seseorang berada di sana. Tetapi Dwi tak bisa memastikan siapa orang itu, karena orang itu duduk membelakanginya di sofa yang sandaran kursinya tinggi sehingga hanya terlihat rambut atas kepalanya saja. Dengan langkah perlahan-lahan, Dwi mendekati orang itu. Setelah dekat dengan sofa tepat di belakang orang itu, Dwi tidak berani melanjutkan langkahnya, akhirnya dia berjalan ke samping kanan untuk melihatnya dari samping.

Dwi begitu sangat penasaran dengan sosok di hadapannya yang tidak menunjukan reaksi sedikitpun, Dwi terus menatap ujung kepala sosok itu dengan penuh keheranan, karena semenjak Dwi berada di ruang tengah dan melihat orang itu, saja sosok itu sudah berhenti berdehem seperti seolah-olah tahu kalau dia sedang memperhatikannya, siapa sosok tersebut? Nantikan di kota mati part 24 selanjutnya ya.

Yain

Yain

MALAIKAT BAYANGAN
konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.

informasi lebih lanjut kunjungi
Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib
http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1

(facebook : Yain
)

(wa : 081280410615
)

makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Yain has write 37 posts

Please vote Kota Mati Part 23
Kota Mati Part 23
Rate this post