Kota Mati Part 3

Cerita sebelumnya kota mati part 2. Kukuruyuk! Ayam berkokok tanda bahwa sang raja siang akan segera tiba. Hari sudah pagi, setelah selesai shalat subuh bersama istri dan anaknya, Yandi bersiap untuk lari pagi mengelilingi kompleks. Dengan memakai sepatu putih, kaos abu-abu dan celana panjang olahraga sambil memegang handuk kecil yang ditenggerkan dibelakang lehernya, dia pun keluar rumah dan mulai berlari-lari kecil mengelilingi kompleks yang terdiri dari 6 gang jalan itu.

Dia putuskan untuk hanya sekedar berkeliling saja, rumahnya berada digang nomor 3. Dia mengambil jalan yang tak jauh dari rumahnya, hanya mengambil kanan kiri gang dari rumahnya, yaitu gang 2 dan gang 4. Yandi berkeliling disekitar 3 gang itu saja. Ketika melewati salah satu jalan, Yandi menemui satpam yang pernah dia temui saat pertama kali kesitu untuk membeli rumah, dia ingat dengan pak Zaenal yang menyebut nama rekan kerjanya itu, Rafa. Iya itu Rafa, ketika hampir dekat dengan Rafa, Yandi menyapa.

“Selamat pagi Rafa!”. Rafa hanya tersenyum melihat Yandi. Posisi Rafa berada dibawah pohon mangga sedang berdiri tegak menghadap jalan. Yandi tetap fokus berlari-lari kecil, tanpa melihat kembali kearah satpam yang dia sapa tadi. Merasa sudah cukup berolahraga, Yandi bergegas kembali kerumahnya yang memang tak jauh dari posisi dia sekarang. Masih tetap berlari kecil, berlari dan terus berlari. Tiba-tiba dalam perjalanan Yandi merasa ada yang aneh, karena sekian lama dia berlari menuju rumahnya.

Tapi tak ditemukan juga jalan menuju rumahnya itu! Yandi berhenti sejenak didepan salah satu rumah. Yandi berpikir dan mengingat lagi jalan mana saja yang tadi dia lewati. Dia yakin tadi hanya melewati gang 2, gang 3 dan 4 saja. Dan pastinya posisi gang 3 ada diantara gang 2 dan gang 4. Dia memang mencari posisi jalan yang tak jauh jauh dari rumahnya, apalagi tadi jalan yang dilalui memang sengaja hanya sekitar situ saja sampai dia tak sadar sudah berapa kali dia melintasi jalan yang sama.

Yandi terus kembali berlari kecil mencari jalan dan mengingat kembali mana jalan yang menuju rumahnya. Dia berbelok kearah gang sebelah kanan yang dia yakini itu gang nomor 3. Dia terus berlari dan ketika yakin ini jalannya tiba-tiba dia terhenti, jalan yang sama sudah dia lalui. “Kenapa aku melewati jalan ini lagi? Sudah jelas jelas ini jalan menuju kerumah! Tapi kenapa rumahku tidak terlihat” gumamnya dalam hati. Dia kembali berlari kecil menelusuri jalan yang dia yakin ingat bahwa itu jalannya, tapi lagi-lagi hasilnya nihil.

Dia seperti berjalan berputar-putar diwilayah itu saja, dilihat sekelilingnya, rumah-rumah dengan pintu pagar yang tinggi, sepi seperti rumah tak berpenghuni. Dia baru sadar bahwa sejak melangkahkan kaki dari rumah, dia tak menemukan satu manusia pun kecuali Rafa, satpam dikompleks tersebut. Yandi merasa bingung, sangat bingung. Dia ingin cepat pulang kerumah, tapi apa daya dia tak menemukan jalan pulang.

Dia berhenti kembali, lalu melihat kesekelilingnya, sepi tak ada siapapun. Dia memandang kearah jalan didepannya dan menengok kearah jalan dibelakangnya. Terlihat sangat sepi, sambil berusaha berpikir jalan mana lagi yang harus dia tempuh. “Mungkin karena aku terlalu lelah berolahraga, sampai aku tak ingat dengan jalan pulang” gumamnya dalam hati.

“Aku harus mencari orang untuk bertanya”, lalu dia melihat-lihat lagi di sekitar tempat dia berdiri. Tapi ketika dia menoleh kearah rumah yang berada disebelah kirinya. Alangkah terkejutnya dia, langsung dia teringat ketika dia berolahraga sampai berlari-lari kecil mencari jalan pulang, dia sering melewati rumah ini, entah kenapa setiap lewat pandangannya selalu ingin menatap rumah ini seperti ada yang menarik hatinya untuk memperhatikan.

Dan setiap dia berhenti berlari, pasti berhenti didepan rumah ini. Lalu dia alihkan pandangannya kearah seberang jalan didepan rumah itu, terdapat rumah bercat putih dengan pohon mangga didepannya, dia kembali terkejut! Dia ingat tempat ini. tempat dimana dia bertemu dengan Rafa, satpam kompleks tersebut. Yandi semakin bingung apa yang terjadi pada dirinya. Hampir putus asa, Yandi hanya terdiam berdiri mematung dijalan itu, lalu dia membungkuk dengan menyatukan dua telapak tangannya dikedua lututnya. Seperti orang rukuk saat shalat, dia masih ngos-ngosan, nafasnya tersenggal-senggal akibat rasa lelah karena tenaganya sudah terkuras habis. Tak lama kemudian terdengar “*srek, sreek, sreeek”.

Masih dalam posisi membungkuk, Yandi mendengar suara. Suara yang sangat dekat sekali, dia merasa suara itu berasal dari rumah yang berada disebelah kirinya. Masih dalam posisi membungkuk, dia menoleh kearah rumah tersebut dengan perlahan-lahan. Seketika menoleh, dan astaga telah berdiri seorang wanita sedang menyapu halaman rumah tersebut, halamannya bersih hampir tidak ada satu helai kotoran atau daun-daun yang gugur disana.

Kini dia meluruskan badannya, sambil terus menatap kearah wanita berambut panjang itu, juga poninya yang panjang hampir menutupi kedua matanya, memakai baju putih lengan pendek dan rok warna hitam sebatas lutut. Wanita itu menunduk, sambil fokus terus menyapu. Perlahan Yandi mendekati pagar besi rumah itu dan mencoba memanggil “mbak! Mbak! Permisi”.

Wanita itu diam saja, seperti tidak menghiraukan panggilan Yandi. “Mbak, permisi mbak?” wanita itu tetap terdiam, matanya tidak terlihat karena tertutup dengan poninya. Tiba-tiba “guk! Guk! Guk!” Yandi meloncat terkejut mendengar suara gonggongan anjing dibelakangnya. Dia langsung menoleh kebelakang, tampak sosok anjing hitam menggongong kearahnya. Anjing itu menggonggong seakan-akan ingin menerkam mangsanya. Ada ikatan putih dileher anjing hitam tersebut.

Yandi mulai panik, anjing itu terus menggonggong seperti bukan layaknya anjing menggonggong. Kadang melolong panjang seperti serigala. Tanpa pikir panjang Yandi melepas salah satu sepatunya dan melemparkannya kearah anjing itu biar tak mengganggunya lagi. Setelah anjing itu pergi, yandi mengambil sepatunya dan kembali menoleh kearah wanita yang sedang menyapu tadi, ketika berbalik badan wanita itu sudah tidak ada. Bulu kudukpun berdiri tapi dia tak begitu menghiraukannya, Yandi tetap memanggil wanita itu, dia pikir mungkin wanita itu masuk kedalam rumah.

loading...

“Mbak! Halo! Permisi! Mbak”. Tidak ada balasan dari dalam rumah, “dasar cewek, didekatin pakai malu-malu segala, jangan ke GR-an dulu mbak, aku manggil kau bukan karena ingin *PDKT. Atau mau gombalin kamu! orang mau minta tolong malah dicuekin, dasar cewek, malu-malu harimau. Belum apa-apa sudah malu, tapi kalau sudah kenal gak punya malu, bakal buas kayak…” *Deg! Tiba-tiba Yandi terdiam, dia merasakan ada sesuatu dipundak kirinya, dia merasakan sentuhan yang begitu dingin, tepukan tiba-tiba itu seolah menghipnotis dirinya untuk berhenti berceloteh dan diam mematung.

Antara kaget, penasaran dan rasa takut kini berkecamuk dalam hatinya, dia menelan ludah seraya menggerakan kepalanya kearah kiri secara perlahan-lahan dia lirik apa yang menyentuh pundaknya. Hah! Yandi sedikit teriak, ada sebuah tangan yang masih menempel dipundaknya. Lalu dia teruskan membalikkan kepalanya kebelakang, dengan sangat perlahan-lahan. Dia menoleh kebelakang dengan perlahan-lahan, ternyata itu tangan pak Zaenal. Yandi akhirnya lega.

“Bapak, bikin kaget saja”.
“Ah bisa saja kamu, bapak ngapain ada disini? Kok tadi ngomong sendirian”.
“Oh, *hehe saya lagi olahraga pak, oh ya pak, saya mau minta tolong diantarin ke alamat rumah saya yang ada digang 3. Di mana ya pak? Maklum orang baru jadi nyasar *hehe”.

“Oh gang 3, ini kan gang 4. Bapak tinggal keluar kearah ujung jalan itu, terus belok kanan, disebelah kanan jalan nanti ada gang, itu sudah gang 3 pak, bapak tinggal masuk saja, *wong gampang banget kok minta diantarin *haha”.
“Hehe, eh anu pak, hihi saya pingin diantarin saja sama bapak, soalnya dari tadi mutar-mutar gak ketemu pak”.
“Eh *ladalah, kok bisa gak ketemu? Jalan *gampange kayak gini kok pak, ya sudah ayo tak antar”.
“*Hehe makasih pak”.

Pak Zaenal pun mengantar kan Yandi kerumahnya. Yandi semakin bingung, kenapa saat bersama pak Zaenal, dia bisa dengan mudah menemukan rumahnya, padahal sebelumnya dia telah yakin dan menuju kearah jalan itu. Setelah sampai didepan rumah, Akhirnya Yandi pun masuk kedalam rumah setelah mengucapkan terima kasih kepada pak Zaenal. Bersambung ke kota mati part 4.

Yain Bidadari Angkot

Fitri yain anrola

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri yain anrola has write 33 posts