Kota Mati Part 5

Cerita sebelumnya kota mati part 4. Esok harinya di sekolah Yain. “Yain!” tiba-tiba suara seorang pria dari depan kelas menegur dan berjalan kearah Yain yang sedang melamun didalam kelas. Yain hanya menoleh kearah teman laki-lakinya yang berawajah tampan itu, semua aksesoris yang dia pakai ber-merk dan serba mahal jadi tak dipungkiri jika banyak para teman wanita yang menyukainya.

Yain menoleh tanpa ekspresi. Lalu pandangannya kembali kedepan seperti memikirkan sesuatu. “Apa kau baik-baik saja?” tanya laki-laki itu. Yain hanya diam, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Laki-laki itupun mengambil posisi dan duduk disamping Yain, masih menatap penasaran apa yang ada dipikiran temannya itu. Lalu mencoba kembali bertanya. “Apa kau ada masalah?”. Yain hanya sedikit menggelengkan kepala, sorot matanya terus menatap kedepan, seperti sedang melamun.

“*Aacie cie marwan!” suara Astri dan Jesika mengejutkan mereka.
“*Hee, dasar Astri *kupret, kau tak tahu temanmu ini sedang ada masalah?”.
“Tak tahu” kata astri sambil membenarkan kacamatanya.
“Paling juga lagi kangen tuh sama auntynya” kata jesika sok tahu.
“Gak usah kau pikirkan Aunty kamu akan baik-baik saja” kata Marwan menenangkan.

Yain hanya terdiam mendengar celotehan temannya yang sok tahu itu.

“Sebenarnya Yain itu, anak ayah ibunya atau anak tante sih!” perkataan Agata yang baru masuk kelas kembali mengejutkan mereka.
“Tiap orang pasti lebih suka tinggal bersama orangtuanya, bukan sama tantenya!” sambung Jesika, *haha.

Mereka tertawa bersama. Yain hanya tersenyum, tak lama terdiam. Yain mengamati satu-persatu temannya itu, seperti ada yang belum lengkap. Lalu bertanya.

“Mana Adymas?”.
“Ada apa kau mencariku?” tiba-tiba Adymas sudah berada dipintu kelas entah dari mana datangnya.
“Kau mau menyuruhku untuk mengantarkanmu kerumah auntymu itu?” sambungnya, sambil berjalan masuk kedalam kelas.

Yain masih diam, hanya tersenyum.

“Memang kamu mau ngantar Yain pakai apaan? Buroq?” canda Marwan disusul tawa oleh Agata, Jesika dan Astri.
“Naik sepeda saja kau tak bisa, naik mobil kau tak punya, naik kendaraan umum? Gak usah tanya lagi siapa yang mau ongkosin” kata Agata meledek.
“*Haha iya tuh, palingan juga Yain yang bakalan repot kalau jalan sama Adymas” kata Astri menambahkan.

“Oh, kalian belum tahu siapa saya!?” Adymas manggut-manggut sambil pasang muka Afgan lagi nahan berak.
“Tahu!” jawab Marwan, Astri, Jesika, Agata dan Yain bersamaan.
“Siapa?” tanya Adymas.
“Yang nanya?” jawab mereka serentak.
“Siapa yang nanya? *Wek” ejek Yain.

Lalu merekapun hendak meninggalkan adymas sendiri didalam kelas. Belum sampai mereka kepintu kelas, Adymas dengan gaya lebaynya menahan mereka untuk jangan keluar kelas dulu. “*Eits kawan! Tunggu dulu, jangan buru-buru keluar. Aku ada kabar baik nih”. Mereka masih tetap berjalan pura-pura tak mendengar. “*Puenting banget deh *suwer tak kewer-kewer kayak dijewer sampai ngelewer”.

Yain, Agata, Jesika, Marwan, dan Astri masih tetap berjalan kompak dan tidak menghiraukan perkataan Adymas yang mereka anggap omong kosong itu, mereka memang sengaja berbuat seperti itu kepada Adymas, bukan karena mereka benar-benar tidak suka dengan Adymas, semua itu hanya candaan belaka. Dan terkadang mereka suka ngerjain atau saling mengejek teman satu dengan yang lainnya. Tak ada yang sakit hati karena itu sudah hal biasa lagi bagi mereka.

“Aku semalam dapat kabar dari berita ditelevisi bahwa ada pembunuhan diperumahan Bougenville!” kata Adymas setengah berteriak.

Yain yang merasa tinggal diperumahan itu tiba-tiba langkahnya terhenti. Lalu berbalik badan dan berjalan kearah adymas.

“Kamu serius?” tanyanya.
“Iya aku serius”.
“Aku juga mendengar kabar itu, rumah pembunuhan itu ada digang 4 kan?” sambung Jesika.
“*Yap betul” jawab Adymas meyakinkan.
“Wah seru tuh! Berarti rumah itu sudah angker” kata Marwan.
“Kok rumahnya bisa jadi angker?” tanya Agata.

“Ya bisa lah. Menurut buku yang pernah aku baca. Kalau ada orang tewas secara tak wajar atau dibunuh disuatu tempat, pasti arwahnya tak tenang dan pasti ada rasa ingin balas dendam terhadap orang yang berhubungan dengan kematiannya” jawab Astri yang biasa disapa kutu *kumpret oleh temannya yang asal-muasalnya dari kutu buku karena dia memang hobi membaca buku.

loading...

“Bahkan bisa pula dia mengganggu atau membalas dendamnya kepada orang yang tidak punya hubungan apapun dengan kematianya” sambung Marwan.
“Yain, kenapa kau tadi tiba-tiba terkejut? Apa kau tahu daerah perumahan Bougenville?” tanya Jesika.
“Aku memang tinggal disana” jawab Yain.

“Wah kebetulan sekali, kita bisa ngadain rencana untuk masuk kedalam rumah itu” kata Agata dengan semangat. “Mau ngapain kita masuk kesana?” tanya Yain.
“Untuk berburu hantu!” Adymas menjawab.
“Ya boleh lah!” kata Jesika.
“Aku juga setuju!” kata Astri.

“Aku tak ingin ikut kalian” kata Yain setengah ketakutan.
“Yang lain pasti setuju kan? Dan yang pasti Yain harus ikut, karena Yain yang bisa memberi tahu tempatnya” kata marwan.
“Yang tak mau ikut, berarti dia penakut” kata Jesika menambahkan.

Yain akhirnya terpaksa menuruti kemauan teman-temannya yang punya kebiasaan aneh itu. Menurut Yain, teman-temannya itu memang aneh, karena punya hobi yang konyol. Yaitu suka berburu hantu. Akhirnya Mereka pun sepakat untuk berburu hantu dirumah tersebut pada malam hari, “jadi malam ini kita kumpul dirumahku ya” kata Agata. “Oke!” jawab mereka serentak. Bersambung ke kota mati part 6.

Yain Bidadari Angkot

Fitri Yain Anrola

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri Yain Anrola has write 33 posts