Kota Mati Part 6

Cerita sebelumnya kota mati part 5. Sementara itu, Nurul yang sedang berada dirumah bersama Kia, tiba-tiba mendengar suatu kegaduhan. Nurul berusaha mencari sumber suara itu, ternyata berasal dari rumah pak Andi yang ada didepan rumahnya. Nurul mencoba untuk mengintip sedikit lewat jendela ruang tamu, ingin mengetahui apa yang terjadi dirumah tetangganya itu.

Dalam pandangannya Nurul tak menemukan Putri, Andi maupun Bayu didepan rumah Andi. Dan tiba-tiba pandangannya tersorot kepada wanita misterius dihalaman rumah Andi, wanita itu sedang duduk dikursi roda, kepalanya menunduk, wajahnya tak terlihat akibat terhalang oleh rambut hitamnya. Di sampingnya tampak seekor anjing hitam berkalung putih sedang duduk dikaki wanita itu, terlihat anjing itu sangat jinak dan seperti menjaga wanita itu.

Timbul rasa penasaran dalam hati Nurul. Tak lama suara kegaduhan yang berasal dari rumah Andi itu sudah tidak terdengar, kemudian muncul seorang laki-laki dari dalam rumah, Nurul memastikan kalau laki-laki itu adalah Andi, suami Putri. Nurul masih tetap terus menatap kearah dimana Andi keluar rumah membawa makanan dipiring, lalu disuapinnya wanita yang duduk dikursi roda itu dengan penuh kasih sayang.

“Ibu!” suara Kia mengejutkan Nurul
“Iya sayang?”.
“Aku ingin bermain dengan Bayu”.

Nurul sebenarnya tidak mengijinkan Kia bermain dengan Bayu. Tapi karena kasihan melihat anaknya yang butuh teman bermain, akhirnya Nurul mengijinkan. Kia akhirnya pergi kerumah Bayu. bertemu dengan Andi yang sedang berada didepan rumah bersama wanita berkursi roda.

“Paman, aku ingin bermain dengan Bayu?” tanya Kia.

Andi hanya menganggukan kepala tanda bahwa Kia diijinkan bermain dengan Bayu. lalu menatap kearah wanita yang lagi dikursi roda itu.

“Unchi, kau tahu, aku sudah cukup bersabar kali ini”.

Unchi hanya terdiam, melirik kepada ayahnya yang sedang dirundung banyak masalah, anjing hitamnya selalu dalam pelukannya, hanya itulah satu-satunya teman setia dalam hidupnya. Tak terasa sudah dua jam berlalu, Kia dan Bayu masih asik bermain dengan bergiliran tempat terkadang mereka bermain dirumah Bayu lalu dirumah Kia, begitupun seterusnya. Tak lama tiba-tiba terdengar suara teriakan

“Tolong, tolong. Bayu! Bukain tolong! Ayah! Ibu!” suara Kia terdengar dari dalam lemari. Yandi yang ketika itu baru pulang dari kantor, langsung berlari kearah sumber suara Kia yang sedang berteriak minta tolong. Ketika berada didalam kamar Kia, Yandi melihat Bayu sedang senyum berdiri dipojok ruangan, sedangkan Kia masih berteriak minta tolong dan asal suara itu berada didalam lemari.

Yandi langsung membukakan pintu lemari yang terkunci dari luar, setelah dibuka Kia keluar langsung memeluk ayahnya dengan ketakutan. Setelah melepaskan pelukan anaknya, Yandi langsung menoleh kearah Bayu, dimana dia masih berdiri dipojok ruangan, dengan nafas memburu dan amarah didalam hatinya, Yandi langsung menyeret Bayu untuk menemui Andi, ayah Bayu.

Bayu menurut saja diseret paksa oleh Yandi dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sesampai didepan rumah Andi, terlihat Andi sedang mencuci mobilnya. Andi langsung menoleh kearah pintu gerbang yang berbunyi, dilihatnya Yandi datang bersama anaknya dengan ekspresi marah.

“ada apa?” tanya Andi dengan ekspresi datar.
“Anakmu sudah mencelakai anakku! Bisakah kau mengajarkannya untuk bersikap tidak kasar terhadap anakku?” kata Yandi sambil mendorong Bayu kearah Andi.

loading...

Andi terdiam, masih dengan ekspresi datar, lalu dia hadapkan Bayu didepannya. “*Prak!” ditamparnya Bayu dengan keras sampai anak mungil itu terlempar ketanah, dipukulinya anak tak berdaya itu bertubi-tubi, Andi memukulinya tanpa ada rasa iba sedikitpun pada anaknya itu, tanpa suara, tanpa erangan. Hanya bunyi pukulan saja yang terdengar, Andi tetap menatap Yandi sambil terus memukuli anaknya, seolah-olah Andi ingin memperlihatkan bahwa beginilah caranya mendidik anaknya.

Yandi terkejut dengan apa yang dilihatnya, tidak menyangka bahwa Andi sekejam ini pada anak kandungnya sendiri. Setelah puas, Bayu langsung berlari kedalam rumah, tak ada ekspresi takut dari Bayu seolah-olah hal ini sudah biasa dia alami.

“Ini yang kau mau kan?” Sekarang, pergilah dari rumahku! Bentak Andi, dengan ketakutan Yandi akhirnya pulang kerumah. Sore harinya “*huhu, huhuu, huhuuu” suara tangisan Putri dikamar tamu rumah Nurul memecahkan keheningan. “Kau harus bersabar ya Put?” dilihatnya Putri menangis tiada henti, luka memar yang ada didahinya, kaki dan juga pipinya membuat Nurul turut prihatin atas apa yang dialami oleh sahabatnya itu.

“Setiap hari dia kasar padaku, aku sudah melakukan hal terbaik semampuku untuk dirinya, tapi apa yang aku dapatkan? Penghinaan, penganiayaan. Lebih baik aku mati saja! *Huhu, huhuu”. Putri semakin putus asa dengan kelakuan suaminya yang begitu kasar padanya.

Nurul tak tinggal diam, dia berusaha menenangkan Putri agar tidak cepat putus asa dan gegabah dalam bertindak. Lalu dia meminjamkan beberapa rupiah kepada Putri, untuk keperluan sehari-hari karena Putri jarang mendapatkan nafkah batin dan uang bulanan dari suaminya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Lanjut ke kota mati part 7.

Yain

Fitri Yain Anrola

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yainwa : 081280410615makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri Yain Anrola has write 35 posts