Kota Mati Part 7

Cerita sebelumnya kota mati part 6. Di malam hari pukul 23.30 WITA. Yain, Jesica, Agata, Marwan, Adymas dan Astri berangkat dari rumah Agata dengan bersepeda motor, mereka bersiap untuk menuju kerumah angker digang 4. *Teketek, brum, brum, ngeng! Tak lama tibalah mereka didepan rumah tersebut. Sebelum masuk mereka melihat-lihat dahulu kondisi halaman rumahnya yang sangat kotor, penuh dengan daun-daun kering.

Marwan: ayo kita masuk!
Agata: kita serius nih!
Astri: ya serius lah, kalau bercanda ngapain kita jauh-jauh datang kesini.
Jesica: tapi, belum masuk saja, aku sudah merinding, (sambil mengusap-usap telapak tangannya).
Adymas: ini kesempatan bagus kawan, kapan lagi kita merasakan momen seperti ini.

Mereka pun saling berdebat antara masuk kerumah itu atau membatalkan rencana mereka. Yain hanya terdiam melihat tingkah laku konyol teman-temannya itu, yang penakut tapi hobi berburu hantu. Di saat itulah pandangan Yain langsung beralih kesalah satu sudut rumah angker tersebut, diam dan tanpa berkedip dia terus melihat kearah jendela kaca dekat dengan pintu masuk rumah itu.

“Ayo kita pulang!” teriakan Yain secara tiba-tiba mengejutkan teman-temannya.
“Ya elah, kita sudah sepakat mau masuk. Sekarang kamu malah menyuruh kami pulang?!” kata Adymas sedikit kesal.

“Ayo kita masuk, yang pec*ndang diluar saja” ajak Agata ketus.
“Jangan! Jangan masuk! Bahaya!” teriak Yain setengah ketakutan seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika nekat masuk kedalam rumah itu.

Pandangannya tak mau lepas dan terus memperhatikan kearah pintu masuk rumah tersebut, Jesica yang sedari tadi merasakan sesuatu yang gak enak kini semakin takut akibat melihat tingkah aneh Yain.

“Ah ya sudahlah, kalian masuk saja. Aku sama Yain tunggu diluar” ucap Jesica.
“Oke tapi nanti kalian jangan menyesal ya” kata Astri.

Dengan hati hati Marwan, Adymas, Astri dan Agata bergantian saling membantu untuk memanjat dan melompati pagar besi yang tinggi itu, setelah semuanya masuk ke halaman rumah

“Tunggu!” Jesica akhirnya ikut mereka dan melompat pagar. Dia berubah pikiran ketika mendengar ucapan Astri dan dia pun juga tak ingin ditinggal berdua diluar dengan Yain. Kini tinggallah Yain sendirian didepan pintu gerbang. Sementara temannya dalam perjalanan menuju kepintu utama rumah tersebut. Tiba-tiba pandangan Yain langsung menuju kesalah satu jendela kaca besar dilantai 2, terdapat gorden putih disana.

Semakin dia perhatikan, semakin ada yang aneh disana, kain gorden tersebut bergerak dengan sendirinya, yang tadinya gerakan pelan kini menjadi cepat. Tak lama gorden kamar dilantai 2 itu terbuka sedikit seperti ada yang sedang mengintip, Yain langsung terkejut melihat penampakan dibalik jendela itu. Yang tadinya hanya bayangan samar-samar lama-kelamaan berubah menjadi sangat jelas, Yain yang sedari tadi memperhatikan karena penasaran kini tahu apa sosok yang dia lihat dibalik gorden jendela itu, berwujud seorang wanita berambut panjang, wajahnya cantik, pucat tapi penuh dengan noda darah dibajunya. Sosok itu menatap Yain. Yain terperanjat, sorot mata wanita itu seolah-olah memberi tahu bahwa mereka sedang dalam bahaya.

“Teman-teman!” teriak Yain ketakutan. “Ayo kita keluar saja dari sini!” teriak Yain sedikit merengek, bibir dan tangannya kini mulai bergetar, tak terasa air matanya meleleh membasahi pipinya, antara rasa takut, bingung, dan khawatir akan nasib teman-temannya itu. Teman-temannya pun bahkan tak menghiraukan teriakan Yain, mereka terus melakukan rencana mereka untuk masuk kedalam rumah tersebut.

*Tik-tok, tik-tok tak terasa hampir setengah jam berlalu, Yain mulai merasa gelisah karena teman-temannya belum juga keluar dari rumah itu, hatinya sangat khawatir. Lalu dia mengambil ponsel dalam tasnya dan mencoba menelepon salah satu temannya, teleponnya tersambung ke Agata, tapi kenapa Agata tidak menjawab teleponnya, Yain mulai panik. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi menimpa teman-temannya itu. Dengan penuh rasa ketakutan yang luar biasa, Yain mencoba memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah tersebut, rasa sayang kepada sahabatnya itu telah mengalahkan rasa takutnya.

Ketika pintu gerbang itu tak sengaja terdorong oleh tangan yain, pintu itu langsung terbuka, ternyata gerbang rumah itu tidak dikunci. Yain akhirnya masuk secara perlahan-lahan kedalam rumah itu sambil terus menelepon Agata. Ketika masuk rumah, hawanya sangat panas dan sangat berbeda dengan suhu diluar rumah yang dingin, dalam keadaan gelap Yain menyalakan senter kecilnya hanya untuk mencari teman-temannya, suasana sangat hening, sepi dan beraroma busuk, dilihatnya sisa-sisa serpihan kaca dan bekas darah yang kering diman-mana membuat suasana semakin mencekam didalam rumah tersebut, dengan bermodalkan senter kecil.

Dia terus berjalan masuk, tak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya disana. Tapi ketika dia melewati salah satu ruangan , dia berjalan balik kearah pintu disalah satu ruangan tersebut. Ketika sudah berada didepan pintu ruangan, tiba-tiba hawa dingin menembus kulitnya. Dia mendengar sayup-sayup suara didalam ruangan itu, sambil terus menghubungi Agata. Dia berjalan perlahan mendekati pintu tersebut, tangannya mulai gemetar dan masih dalam keadaan menelepon temannya, dia membuka pintu kamar perlahan-lahan.

Setelah dibuka, ternyata tak ada siapa-siapa, tetapi suara itu semakin jelas terdengar. Yain merasa suara itu tak asing lagi, suara dering ponsel, ya itu suara dering ponsel. Yain terkejut ketika mencari asal suara ponsel itu, ternyata suaranya berasal dari dalam lemari. Yain teriak mencoba memanggil temannya dengan nafas berat dan tersenggal-senggal sedikit ketakutan.

loading...

“Agata! Kau dimana? Aku takut. Adymas, Jesica, Marwan, Astri kalian ada dimana?” Yain mencoba memberanikan diri untuk membuka lemari tersebut dengan cepat *hap! Ketika dibuka, ada ponsel Agata tergeletak didalamnya, tapi dimana semua teman-temannya? Tanpa menoleh kanan kiri, pandangannya lurus dan fokus keponsel itu. Dia mengambil ponsel itu dalam lemari tersebut.

Tak lama dia merasakan sesuatu dibelakangnya, dia tahu ada sesuatu dibelakangnya, karena tampak ada bayangan hitam didepannya. Seketika itu, ketika dia merasakan sesuatu itu mulai mendekat dan mendekat semakin mendekat, *pok! Tiba-tiba ada sesuatu menepuk kedua pundaknya.

“*Argh!” Yain ketakutan dan refleks membanting ponselnya dan temannya itu lalu membalik kebelakang.
“*haha! Hihi!”.

Kena deh kami kerjain! Ucap Adymas dengan senang.

“Makanya jangan suka nonton film horor! Jadinya tukang parno deh!” sambung Jessika.
“Iya, jangan *lebay deh larang-larang kita untuk masuk rumah ini” kata Astri.
“Iya, kayak ada apa apanya saja” sambung Marwan.
“Iya benar. Buktinya kita gak kenapa-kenapa tuh” kata Agata dengan bangga.

Yain hanya terdiam melihat teman-temannya terus berceloteh dan mengerjain dirinya, tak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya itu, meskipun Yain tahu bahwa dia dikerjain, tapi rasa takut itu tak luput dari perasaannya. “*Wey, lihatlah tampang Yain yang begitu ketakutan!” teriak Marwan meledek disusul suara tawa mereka semua. Yain tetap dalam kondisi ketakutan, tiba-tiba dia melihat segumpalan asap hitam dibelakang teman-temannya.

Tak lama kepulan hitam itu berangsur-angsur berubah wujud menjadi wanita raksasa tinggi besar dengan wajah yang sangat menyeramkan, matanya merah bergigi taring dengan penuh darah dimulutnya. Yain terkejut dengan apa yang dilihatnya dibelakang teman-temannya yang masih berceloteh menertawakannya. Ingin rasanya dia berteriak memanggil temannya tapi tak bisa, tiba-tiba saja berat untuk bersuara seakan akan ada yang mencekik tenggorokkanya, badannya mulai kaku, karena tak ingin melihat, Yain langsung menutup matanya dengan kedua tangannya, tiba-tiba suara Yain yang tadinya tertahan itu langsung keluar lepas.

“*Argh!”.
“Gubrak!”.

Langsung Terdengar bunyi pintu kamar sangat keras sekali, suaranya mengagetkan Yain sehingga dia berhenti untuk berteriak, tiba-tiba hening, Yain masih dalam keadaan menutup matanya, tak ada suara. Bersambung di kota mati part 8.

Yain

Fitri Yain Anrola

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yainwa : 081280410615makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri Yain Anrola has write 35 posts