Kota Mati Part 9

Sebelumnya kota mati part 8. “Mohon maaf, kau ikut di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja)” perkataan Deska bagai petir disiang bolong, membuat jantung Yandi seakan berhenti berdetak, kerjaan impiannya kini hanya tinggal kenangan. Dirinya harus rela keluar dari pekerjaannya karena perusahaan Deska sedang dalam kondisi kritis sehingga dengan terpaksa Deska memberhentikan sebagian karyawan diperusahaannya.

Kini yandi mulai memikirkan kerjaan lain untuk menghidupi anak dan istri yang disayanginya. Yandi pulang dengan perasaan kacau, sedih. Pasti akan sedih jika istrinya mendengar kabar buruk ini. Sesampai dirumah, dengan perasaan lesu Yandi duduk dikursi ruang tamu, tiba-tiba “*srek” terdengar suara pintu dibuka, Yain pulang dengan berjalan terus menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun kepada ayahnya.

“Yain kau darimana saja?”.

Yain tak menjawab dan terus berjalan menuju tangga kearah lantai atas, kamarnya.

“Hai durhaka! Bisakah kau sedikitpun menghormatiku!?” bentak Yandi penuh emosi.
“Ayah, ada apa?” kata Nurul yang baru datang dari arah dapur.

Yandi hanya menggelengkan kepala, Nurul mengatur posisi dan duduk disamping suaminya.

“Ayah, Yain menginap semalam dirumah temannya. Dan benar kata Yain. mengenai rumah yang digang 4 itu”.
“Kenapa dirumah itu!? Ada apa!? Kau ingin mengatakan hal yang sama dengan yain? Bahwa hantu itu ada? Iya?”.

Nurul terdiam mendengar kata suaminya yang kini berubah menjadi kasar.

“Tak ada hantu! Hantu itu lelucon!”

Diam sejenak.

“Mulai hari ini aku sudah tidak bekerja lagi diperusahaan Deska” katanya melanjutkan.
“Apa? Kau dipecat?” Nurul terkejut.
“Pikiranku sudah mulai kacau, jangan tambah kau kacaukan lagi dengan soal hantu omong kosong itu” jawab Yandi sembari berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

Sore harinya, Yandi bertemu pak Zaenal yang kebetulan sedang patroli melintas didepan rumah.

“Siang pak Yandi, wah sedang santai saja dirumah, tidak kerja?”.
“Iya pak. Istirahat dulu” jawab Yandi santai.
“Oh ya Nal, teman kamu dimana sekarang?”.
“Maksud bapak, Rafa?”.
“Iya”.
“Rafa sudah meninggal dunia pak, sehari sebelum bapak menempati rumah ini, saya baru mengetahuinya kemarin malam”.
“Hah, innalillahi”.

Yandi tampak terkejut mendengar kabar itu, teringat kembali dimasa pertama kali dia berolahraga dikomplek tersebut, dia melihat Rafa digang 4. Dan semalam, dia melihat Rafa sedang berjalan didepan rumahnya. Zaenal yang melihat Yandi melamun, berkata lagi “lama-lama komplek ini sudah tidak aman lagi pak, mulai saat ini bapak harus hati hati”. Yandi hanya mengangguk mencoba memahami keadaan.

“Sekarang saya sedang butuh pistol untuk berjaga” kata Yandi mengutarakan keinginannya siapa tahu saja zaenal bisa menolongnya.
“Wah kebetulan teman saya seorang pembuat pistol handal pak, kita bisa minta tolong sama teman saya”.
“Oke”.

Keesokan harinya, hari sudah mulai gelap, Yain baru pulang sekolah dijemput oleh Yandi karena tak ingin anak gadisnya tak pulang lagi kerumah seperti kemarin. Mereka sedang dalam perjalanan pulang kerumah.

“Kau tak pernah berpikir bagaimana cemasnya orang tuamu ketika kau tak pulang semalaman?” tanya Yandi membuka pembicaraan.

Yain diam saja.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu?” tanya ayahnya lagi.
“Kemarin, aku mengurus jenazah sahabatku” jawab Yain sedikit terisak.

Lalu pikirannya kembali membayangkan teman-temannya. Ketika dia memberanikan diri untuk masuk kembali kedalam rumah itu, dia menemukan Jesica, Adymas, Agata, dan Marwan sudah tergeletak dilantai, masing-masing matanya terbelalak dengan mulut menganga, kaku, tak lagi bernafas. Sedangkan Astri, si kutu buku ditemuinya dipojok ruangan, sedang berjongkok, badannya gemetar seperti menggigil, pandangannya kosong kedepan.

“Astri? Kau tak apa? Astri. Astri” dipanggil dan dipeluknya temannya itu, Astri tetap tak bergeming, Yain menangis sejadi-jadinya melihat peristiwa tragis yang dialami teman-temannya itu. Astri tetap pada posisinya, dengan wajah datar dan gemetar, tiada satu katapun yang mampu terucap dari bibirnya, hanya desisan. Seperti berat untuk bersuara. Yain keluar berlari ke post satpam untuk melapor. Setelah mengurus jenazah temannya bersama Zaenal, Yain membawa Astri ketempat psikiater. Untuk direhabilitasi. Ternyata Astri mengalami gangguan kejiwaan.

“Ada apa dengan temanmu?” tertanyaan Yandi tiba-tiba membuyarkan lamunan Yain.
“Mereka meninggal setelah masuk kedalam rumah angker digang 4 itu ayah, hantu itu yang membunuhnya”.

Yandi terkejut.

loading...

“Tak mungkin! Hantu itu tidak ada! Apalagi sampai membunuh!”.
“Ayah, percayalah padaku, hantu itu ada, aku melihatnya” kata yain merengek.

Yandi amat marah mendengar pernyataan anaknya yang menyebut bahwa hantu itu ada.

“Hantu itu tidak ada nak, itu hanya dongeng dan omong kosong!” Yandi menahan emosinya tanpa sadar dia menginjak gas mobil sehingga kecepatannya semakin lama semakin cepat. Sedangkan Yain masih terus berbicara meyakinkan ayahnya bahwa hantu itu ada.

“Ayah! Ku mohon, percayalah padaku! Ayah!” Yain merengek sambil menarik-narik baju ayahnya, tanpa sadar Yandi lebih meningkatkan kecepatan laju mobilnya.
“Ayah mohon percayalah padaku, ayah!”.
“Ayah, aku mohon percayalah padaku” tangis yain merengek.

Yandi diam dengan ekpresi marah, tidak memperdulikan perkataan anaknya. Ketika sampai digang 3, Yandi berjalan lurus dan berbelok kearah gang 4. Ketika mobil sudah sampai tepat didepan rumah angker tersebut, Yandi langsung membuka pintu mobil dan menyeret Yain dengan paksa untuk masuk kedalam rumah itu.

“Ampun Ayah, aku tak ingin kesana. Aku takut, ampun ayah. Jangan ayah, aku takut”.

Suara yang terdengar pilu dan menyayat hati, tapi Yandi masih dalam emosinya, dia tetap menyeret Yain kedalam rumah itu. “Mana hantu itu!? Mana?!” bentak Yandi. Yain semakin teriak histeris. Ketika sampai didalam rumah, terjadilah saling tarik menarik antara Yandi dan anaknya itu. Ketika tangan Yain langsung terlepas dari genggaman ayahnya dan tiba-tiba “*aw!”.

Yain langsung terbanting kelantai. Darah segar langsung mengalir deras ditelapak tangan kanannya akibat menahan saat terjatuh dan mengenai serpihan kaca. Meskipun panik, Yandi terdiam. Melihat tangan anaknya berdarah. Dengan sekuat tenaga Yain bangkit lalu berlari kerumah meninggalkan ayahnya yang masih berada didalam rumah angker tersebut. Bersambung ke kota mati part 10.

Yain

Fitri Yain Anrola

MALAIKAT BAYANGAN
konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.

informasi lebih lanjut kunjungi
Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib
http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1

(facebook : Yain
)

(wa : 081280410615
)

makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri Yain Anrola has write 37 posts

Please vote Kota Mati Part 9
Kota Mati Part 9
Rate this post