Kota Mati

Semoga pembaca terhibur dengan ceritaku yang berjudul kota mati. Pagi hari ini sangatlah cerah, disebuah kota khayangan terdapat sebuah rumah yang besar dengan halaman yang begitu luas. Terdapat aneka tanaman hijau yang tertata rapi disetiap sudut halaman membuat suasana menjadi sejuk, ditambah dengan kicauan burung yang saling bersahutan lebih menambah kesan nyaman disekitarnya. Ketika itu terlihat seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan rambut sebahu, memiliki wajah bulat menggemaskan, kulitnya kuning langsat dan mata yang bulat dengan pipinya yang *cabi semakin menambah kesan imut dan gemas bagi siapa saja yang melihatnya.

Anak itu terlihat sangat riang, bermain dan berlari-lari dihalaman, namanya Zakia. Dia sedang bermain pistol air bersama ayahnya, Yandi. Dan tampak seorang gadis sedang duduk bersantai diteras rumah, namanya Yain. Dia bersama dengan seorang wanita sedang duduk bersantai diteras rumah, seperti sedang berbincang-bincang sambil tertawa riang.

Yain hanya memakai kaos oblong dan celana panjang sehingga penampilannya tidak ada kesan feminim. Sedangkan seorang perempuan berpakaian modis dan berkacamata yang duduk disebelah Yain tak lain adalah tantenya sendiri, Dwi. Hari ini mereka sedang bersantai ria menikmati hari libur. Di tengah keceriaan mereka, tiba-tiba saja. “Bruk!”. Semua terkejut mendengar suara itu, tak lama terdengar suara orang menangis merintih kesakitan, suara itu tak asing lagi bagi mereka.

“Kia!” Dwi pun teriak panik dan Yandi, sang ayah langsung menuju dimana Kia terjatuh karena tersandung sebuah batu yang lumayan besar. Yandi menggendong anaknya kedalam rumah dan menidurkannya di sofa ruang tamu, Kia masih merintih kesakitan. “Yain tolong kau obati luka adikmu ya nak”. Tanpa menjawab Yain pun langsung mengobati luka dikaki Kia, lututnya berdarah. Kia masih mengerang kesakitan. kemudian Dwi berkata “ayah macam apa kau ini? Jaga anak saja tidak benar, sekarang lihat ulahmu, mengajak anak bermain sambil lari-lari. Inilah akibatnya, apa kau sengaja mau mencelakai anakmu sendiri?”.

Yandi yang tadinya sempat panik dengan apa yang dialami anaknya malah berubah menjadi sangat marah dengan perkataan Dwi yang menyalahkannya. Dia terkejut mendengar perkataan kakak iparnya yang kasar itu, hatinya bagai disayat sembilu. Di tatapnya wajah Dwi dengan tajam, tak jarang dia menerima perlakuan seperti itu dari Dwi. Perlakuan yang selalu merendahkan dirinya, menyalahkan dirinya. Ingin rasanya sekali kali dia berontak dan melawan kakak iparnya itu, tapi tak mungkin, dia tahu siapa dirinya, yang hanya menumpang tinggal dirumah kakak iparnya itu.

Yandi masih terdiam, dia mencoba mengatur nafas dan emosinya. Amarahnya yang menggelora dalam hatinya perlahan-lahan kini mulai stabil, lalu dia menunduk dan pergi keluar rumah entah kemana. Tak lama kemudian, seorang wanita datang dari arah dapur belakang menghampiri Dwi dan Yain yang sedang mengobati Kia yang masih menangis sesenggukan diruang tamu. “Ada apa ini?” saat mendekat dan menyadari bahwa anaknya kecelakaan.

“Ya ampun anakku! Kau tidak apa-apa nak?”.
“Sakit bu” jawab Kia lirih.
“Nurul, Kia terjatuh saat bermain dengan suamimu. Aku sempat memarahinya, tapi dia malah kabur, suamimu memang tak punya sopan santun” belum sempat Dwi selesai berbicara, Kia kembali merintih.

“Aunty, sakit”. Aunty memang sapaan akrab Dwi bagi ponakannya.
“Iya sayang, gak apa-apa sebentar lagi juga akan sembuh kok” jawab Dwi menenangkan, lalu tersenyum, Kia pun membalas senyuman Auntynya.
“Iya sayang, kamu akan segera sembuh” kata Nurul sambil mengusap-usap kaki anak bungsunya tersebut.

Malam hari, Nurul tampak merasa gelisah, dia terlihat mondar-mandir dikamar tamu sembari sesekali menengok kearah luar, kenapa Ayah belum pulang ya? Sudah dua hari suaminya tak pulang dan tak memberi kabar. Timbul kecemasan dalam hatinya. “*Teng, teng, teng” jam dinding berbunyi 10 kali, yang artinya waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, karena kelelahan Nurul akhinya tertidur di sofa ruang tamu.

Hari senin tiba! Pagi-pagi semua sudah sangat sibuk. Nurul sibuk menyiapkan sarapan pagi, sementara Dwi sibuk menyiapkan keperluan Kia dan keperluan sekolah Yain. Yain yang sudah memakai rok biru donker itu sebenarnya bisa menyiapkan keperluannya sendiri, tapi Aunty yang sangat sayang dengannya terkadang ikut andil dalam menyiapkan segala keperluannya.

Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari depan rumah. akhirnya Yandi pulang kerumah dengan mengendarai mobil kantornya, dia masuk kerumah dengan senyuman bahagia. Nurul yang melihat Yandi seceria itu merasa heran tapi senang. Heran dengan suaminya yang pulang dengan tersenyum bahagia setelah mendapat makian dari Dwi, kakaknya. Tetapi juga senang karena suaminya kini telah pulang kerumah.

Dia perhatikan suaminya berjalan dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah, senyumnya mengembang sampai barisan giginya yang rapi dan bersih terawat itu terlihat, matanya memancarkan kebahagiaan, baru kali ini Nurul melihat suaminya seceria ini, ada apa gerangan? Ketika Yandi masuk rumah, baru berjalan diruang tamu tiba-tiba Kia menyambut ayahnya dengan girang.

“Ayah! Ayah kemana saja? Aku merindukan ayah”. Yandi memeluk anaknya dengan tersenyum, Kia pun membalas pelukan hangat dari sang ayah. Nurul, Yain dan Dwi hanya menyaksikan kejadian pertemuan yang mengharu biru itu. Setelah melepas pelukan dengan si bungsu kesayangnnya itu, Yandi berkata “mulai sekarang, Kia dan Yain tidak akan sekolah disini”. Mereka pun terkejut dengan perkaatan sang Ayah, terlebih dengan Dwi, dia kaget dan heran apa yang akan dilakukan Yandi sampai-sampai memberhentikan Yain untuk sekolah di sini. “Apa maksudmu?” tanya Dwi.

Sebelum menjelaskan, dengan tenang Yandi meminta maaf terlebih dahulu karena sudah beberapa hari tak pulang dan tak memberi kabar, terutama pada Nurul yang pasti telah mencemaskannya. Dia bercerita bahwa dia akan dipindah tugaskan kedalam kota, kemarin dia ke kota bersama bosnya, pak Deska. Karena kebetulan pak Deska mempunyai sahabat yang tinggal dikota bernama pak Sanusi. Pak Sanusi memang sedang menjual rumahnya dikawasan Elit. Yandi pun tergiur dengan rumah tersebut dan segera membelinya.

“Aku sudah membelinya, kami tinggal berkemas dan bersiap untuk segera pindah” kata Yandi kepada kakak iparnya itu”.
“Kota? Kalau itu urusan kerjaan lebih baik kau sendiri yang mengaturnya, jangan kau bawa adik dan keponakanku, biarkan saja istri dan anakmu disini, aku yang akan merawatnya” timpal Dwi.

“Mereka harus ikut denganku kak, mereka keluargaku, aku yang berhak menentukan, aku kepala rumah tangga dan mereka adalah tanggung jawabku”.
“Hore! Kita punya rumah baru! Hore!” seru Kia.

Yain hanya terdiam, Nurul merasa senang akhirnya bisa mendapatkan sebuah rumah idaman untuk bernaung bersama keluarga kecilnya. Semua merasa senang tetapi tidak dengan Dwi.

“Kota kan jauh sekali, kalian yakin akan tinggal disana?”.
“Kami yakin kak, aku percaya suamiku, dia tahu mana yang terbaik buat kami” jawab Nurul meyakinkan.

Tampak wajah kesedihan yang terpancar dari raut wajah Dwi

“Bagaimana aku bisa menemui keponakanku ketika aku merindukan mereka? Jaraknya jauh sekali, aku tak sanggup jika melewati perjalanan sejauh itu ke kota”.
“Aunty tenang saja, aku akan kesini setiap hari untuk menemui Aunty biar tidak merasa kesepian” jawab Kia dengan polosnya. Kami semua tersenyum.

“Yain, kau disini saja ya dengan Aunty?” kata Dwi. Belum sempat Yain menjawab ayahnya langsung menimpali
“Yain akan tetap bersama kami kak, tolong jangan pisahkan kami, Yain” menatap yain dan berkata.
“kamu akan ikut”.
“Tapi yah, aku masih tetap ingin tinggal disini”.
“tidak!”.

Yandi membentak menatap anaknya dengan tajam “kau harus ikut, titik!”. Yain yang sedari tadi duduk dikursi tamu membanting tas sekolahnya, langsung berdiri lalu berlari meninggalkan ayah, ibu, adik dan Auntynya yang masih diruang tamu. Nurul langsung berjalan mengikuti Yain karena takut akan terjadi apa-apa dengan anaknya itu. Yain berlari kedalam kamar sambil menangis kecil, wajahnya datar tetapi pancaran matanya tidak bisa membohongi perasaannya, sangat berat hatinya meninggalkan rumah Auntynya.

Dia masih ingin tetap tinggal disini. Ingin rasanya menolak, tapi apa ada daya dia tak sanggup untuk menolak keinginan ayahnya itu. Sejenak dia termenung berpikir, akhirnya dia siap menerima kenyataan harus ikut pindah ke kota. Hari itu juga segala keperluan diselesaikan, mulai dari surat pindah sekolah sampai kartu keluarga. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

loading...

Setelah seharian mengurus semuanya, mereka pun beristirahat karena besok pagi akan berangkat kerumah baru mereka. Esok harinya, semua telah bersiap untuk berangkat. Aunty Dwi hanya bisa berharap semoga Yain dan Kia sering menjenguknya. Karena Dwi sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Nurul, adik kandungnya sendiri dan 2 keponakannya itu.

Kini Dwi akan merasa kesepian didalam rumah yang cukup luas itu, rumah warisan dari orang tuanya. Terlihat Dwi meneteskan air mata ketika mengucap salam perpisahan kepada adiknya dan keponakannya itu. Mereka pun berangkat menggunakan mobil kantor Yandi. Di lihatnya mobil putih itu berjalan menjauhi rumah, dwi terus menatap sampai mobil itu hilang dalam tatapannya. Bersambung di kota mati part 2.

Yain

Fitri yain anrola

MALAIKAT BAYANGAN
konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.

informasi lebih lanjut kunjungi
Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib
http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1

(facebook : Yain
)

(wa : 081280410615
)

makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri yain anrola has write 37 posts

Please vote Kota Mati
Kota Mati
4.4 (88%) 5 votes