Kuburan Jeblong

Apa kabar pembaca KCH? Ketemu lagi denganku Toby. Ini ceritaku yang ke-4, terjadi waktu aku kelas 4 SD. Karena kejadian ini aku sampai sakit hampir 1 bulan dan seperti hilang kesadaran. Lalu yang aku rasakan saat itu adalah ketakutan tapi tak bisa cerita ke siapapun. Seperti ada yang menghalangi. Bahkan sampai sekarang pun aku masih merasa takut bila mengingatnya. Ok, sahabat KCH langsung ke cerita saja ya!

Seperti anak SD umumnya waktu itu suka sekali main-main. Waktu itu kalau tak salah hari kamis, di sekolah aku merencanakan main ke rumah kawan yang beda kampung. Kasturi namanya, bersama Supri. Singkat cerita jam sekolah sudah usai. Aku tak langsung pulang saat itu, tapi ke rumah Supri bersama Kasturi menunggu dia ganti baju. Aku saat itu masih pakai seragam kalau harus pulang dulu kelamaan. Jadi aku tak minta ijin orang tua juga.

Selesai ganti baju kita bertiga langsung menuju ke rumah Kasturi. Dalam perjalanan ke rumah Kasturi inilah yang buat aku trauma saat ini. Rumah kasturi letaknya dekat kuburan desaku. Kuburan desaku ini kuburan paling angker di wilayahku. Bahkan mungkin tak ada kuburan yang seperti kuburan desaku. Pohon yang tumbuh disana umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Kalau di lihat dari luar tak tampak kuburan lebih mirip hutan belantara.

Dan yang paling bikin aku kaget dan merinding Kasturi mengajak lewat tengah kuburan biar cepat sampai rumahnya karena kalau lewat jalan besar harus memutar jadi lama. Awalnya aku tak mau, ingin balik saja tapi karena di desak mereka berdua terpaksa aku ikut. Karena kuburannya tidak tersusun rapi kami berjalan harus melompati kadang harus menginjaknya. Saat itu tiap menginjak ataupun melompati kakiku seperti ada yang menarik, berat banget rasanya.

loading...

Sampailah di tengah-tengah kuburan tiba-tiba Kasturi bilang “mau ku tunjukan sesuatu gak? Ayo ikuti aku”. Dari situ aku mulai merinding, Supri pun merasa hal yang sama. Kasturi malah cengengesan. Mau tak mau sudah di tengah kuburan kita ikuti saja si Kasturi. Sampai di kuburan yang baru Kasturi berhenti, dia korek-korek daun yang di atas kuburan tersebut. “Lihat ini kuburan jeblong (bolong)”.

Aku mendekat alangkah kagetnya aku kuburan tersebut berlubang sekitar 1 meter. Bukan ambles, Tapi semacam seperti lubang yang cukup besar tepat di perut. Anehnya aku tak bisa melihat dalamnya karena gelap banget. Aku sudah keluar keringat dingin. Sudah tak sanggup rasanya, seperti ada yang memanggil dari dalam kuburan itu.

Aku terpaku tak bisa bergerak cuma bisa melihat lubang itu, tanpa ku sadari aku di tinggal mereka berdua. Tersadar setelah di teriakin mereka. Rupanya mereka sudah sampai pinggir kuburan dan aku masih di tengah. Cepat-cepat aku lari menyusul mereka. Anehnya badanku ringan sekali seperti terbang tapi kawanku tak ada yang menyadarinya.

Sesampai di rumah Kasturi, aku marah. Kenapa aku di tinggal, mereka jawab katanya aku ngikuti mereka di belakang. Mereka baru sadar setelah di ajak ngobrol tak ada jawaban. Setelah menoleh ke belakang ternyata aku masih terpaku di depan kuburan jeblong. Sedang yang aku rasa saat itu mereka masih di sampingku.

Puas bermain di rumah Kasturi akhirnya aku dan Supri pulang. Tapi aku tak mau lewat tengah kuburan lagi. Sudah kapok, Supri pun setuju. Kita lewat jalan saja. Sampai di rumahaku ganti baju dan langsung tidur. Aku bermimpi datang ke kuburan itu lagi. Aku terbangun, di bangunkan orang tuaku. Katanya aku tidur sambil teriak-teriak ketakutan. Di tanya kenapa tapi aku tak menjawab.

Keesokan paginya aku sakit, makin hari makin parah. Aku seperti tak ada semangat bicara dengan siapapun. Lalu yang ku ingat bayangan kuburan jeblong itu terus. Di bawa ke dokter minum obat hasilnya nihil. Akhirnya orang tua bawa aku pergi ke kyai desaku. Di sana aku di tanya sambil di pegang jempol tanganku oleh pak kyai. Rasanya sakit banget dan panas.

Pak kyai bertanya ke aku. “Apa yang kamu lakukan le kemarin kok sampai begini?”. Awalnya aku gak mau jawab sepertinya mulutku ada yang mengunci seperti ada yang melarang. “Kalau kamu tak mau ngomong bapak pegang terus jempolmu biar kesakitan”. Orang tuaku makin kuatir. Akhirnya aku mau bicara. Ku ceritakan apa yang terjadi di kuburan tempo hari, sambil menangis. orang tuaku kaget saat itu.

Aku di mandikan pak kyai dan di beri air untuk di minum. Setelah 3 hari dan 7 hari harus balik lagi. Alhamdulillah sakitku sembuh. Pak kyai cuma bilang banyak yang ngikut aku saat itu. Dan karena itu aku di larang kerumah kawanku lagi.

Toby

All post by:

Toby has write 5 posts