Kucing Hitam

Kisah kucing hitam ini telah menjadi pelajaran berharga buatku, agar lebih berhati-hati lagi. Kejadian ini aku alami ketika kuliahku menginjak semester lima. Saat itu, tugas kuliah yang tidak ada habisnya membuatku merasa bosan, ditambah praktikum lab yang sangat menyita waktu. Semua hal itu membuatku hampir tidak punya waktu untuk beristirahat. Ingin rasanya aku meluangkan waktu untuk melepaskan diri dari aktivitas perkuliahan, tetapi tetap saja aku tidak pernah punya waktu untuk beristirahat. Bahkan, hari libur pun selalu kuhabiskan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah.

Akhirnya, aku memberanikan diri dan tidak memikirkan itu semua. Kuputuskan untuk meninggalkan semua urusan kuliah sejenak. Supaya lebih bebas, untuk sementara aku tinggal di rumah kakek, di Ujungberung. Sebuah kompleks perumahan di bawah kaki Gunung Manglayang. Tempat yang sangat cocok bagiku untuk menyegarkan diri.

Rumah kakek yang terletak tepat di tengah kompleks perumahan itu memang terbilang sepi dan tenang. Sejak menginap di sana, aku mulai merasa relaks dan tanpa beban. Perasaan seperti ini yang sudah lama kutunggu. Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan, hingga suatu malam sebuah kejadian aneh datang menimpa. Malam itu, aku sedang berkeliling komplek untuk sekedar mencuci mata sebelum beristirahat.

Sepeda motor yang menemaniku malam itu melaju mengelilingi setiap sudut kompleks perumahan. Setelah puas mengelilingi beberapa blok, aku melajukan sepeda motor ke lapangan komplek. Di lapangan komplek aku bertemu teman-teman lama. Karena rindu, di sana kami pun mengobrol banyak sampai lupa waktu. Saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Aku segera pamit pulang, begitu juga dengan teman-temanku yang sudah mulai mengantuk.

loading...

Angin malam itu sangat dingin, sesekali tubuhku merinding karena tak kuat dengan hembusan angin yang begitu tajam. Lalu, aku melajukan sepeda motorku sedikit kencang agar cepat sampai di rumah kakek. Dalam perjalanan, pandanganku teralihkan pada sebuah rumah yang cukup besar dan gelap. Sepertinya, rumah itu kosong. Saat melewati rumah itu tiba-tiba aku merasakan sepeda motorku terguncang karena melindas sesuatu.

Awalnya, aku mengira itu polisi tidur, tapi guncangannya terasa begitu berbeda dan bersuara. Sejenak, aku menghentikan motor dan menengok ke belakang, jalanan cukup gelap. Karena penasaran, aku turun dari sepeda motor dan mendekati sumber guncangan itu. Aku pun menyalakan lampu ponsel dan kuarahkan ke jalan agar tidak terlalu gelap. Ketika aku melilhat apa yang aku lindas tadi.

Aku terkejut ketika mendapati seekor kucing hitam tergeletak di sana. Kucing hitam itu tidak bergerak dan matanya terbelalak. Aku merasa bingung harus berbuat apa. Perasaan bingung bercampur takut membuatku tidak bisa tenang. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan bangkai kucing hitam itu, lalu bergegas kembali berkendara menuju ke rumah kakek.

Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar. Kucoba untuk tidur dan melupakan kejadian tadi. Tapi saat aku berbaring dan hampir tertidur. tiba-tiba aku mendengar suara kucing mengeong. Kucing? Suara itu terdengar dari arah luar kamarku. Karena penasaran, aku membuka gorden jendela dan kulihat seekor kucing berada dekat sebuah sumur di luar kamar. Kucing itu berwarna kuning. Aku pun cukup tenang ketika itu ternyata bukan kucing hitam yang kulindas tadi.

Setelah beberapa lama, kucing itu masih saja mengeong-ngeong. Aku pun sempat berpikiran hal yang macam-macam. Mana mungkin, pikirku. Sesaat ketika akan menutup gorden. Kucing itu medadak meloncat naik ke mulut sumur. Dan Kucing itu meloncat masuk ke dalam sumur. Kontan, aku langsung membuka jendela. Waktu kulihat, kucing itu sepertinya memang benar-benar masuk ke sumur. Aku ingin memastikannya dengan keluar dan melihatnya, tapi aku mengurungkan niat itu ketika tiba-tiba saja muncul bau menusuk. Bau itu terasa dekat dan sangat menyengat.

Aku coba rasakan lagi ini seperti bau bangkai. Dan, lama-lama terdengar suara kucing. Hanya saja kali ini terdengar berbeda dan menyeramkan. Secara reflek aku melihat ke sekitar, tapi tidak menemukan apa-apa. Aku mulai merasa ketakutan, kucoba untuk membaca doa-doa yang aku tau dalam hati. Lalu, dari balik pintu kamarku, terdengar suara cakaran dengan di iringi suara kucing yang terus terdengar semakin kencang. Langsung saja kuambil sebuah benda di dekatku dan kulemparkan ke arah pintu lalu suara itu pun hilang.

Bulu kuduk kini sudah berdiri semua. Aku cepat-cepat coba menutup jendela kamar. Namun belum sampai jendela itu tertutup, terdengar lagi suara kucing. Kali ini suara itu terdengar sangat dekat. Seperti ada di bawah, dari dekat kakiku. Dengan ketakutan dan perlahan, aku melihat ke bawah. Terlihat sesosok wanita sedang jongkok memakai gaun hitam dengan rambut yang panjang. Wajahnya pucat, matanya berwarna kemerahan.

Mulutnya menganga dan mengeluarkan suara kucing. Sosok itu terus menatapku dan badanku seolah tidak bisa bergerak. tiba-tiba sosok itu meloncat ke arahku. Refleks badanku terjatuh ke belakang dan sosok wanita itu pun melayang keluar lewat jendela kamarku sambil tertawa cekikikan. “Hihihi”. Semua menjadi gelap dan aku tidak sadarkan diri. Saat sadar, aku mendapati diri sedang berada di dalam kamar. Kulihat kakek berdiri di sebelahku.

Dia terlihat sangat khawatir. Dengan raut wajah khawatir Kakek bercerita, dia menemukanku tergeletak di lantai kamar, dengan posisi yang tidak wajar dan suhu badan yang panas. Kakek menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun menceritakan semuanya dengan detail. Kakek berkata, bahwa rumah kosong tempat aku tak sengaja melindas kucing hitam itu memang angker. Banyak kejadian mistis yang dialami oleh warga di sekitar situ. Dan jika melihat ada kucing hitam di sekitar sana, jangan pernah sekali-kali mengganggunya.

Konon, kucing hitam itu adalah kucing peliharaan seorang wanita yang tinggal di rumah itu. Wanita misterius yang diasingkan dari desa asalnya karena dituduh mempelajari ilmu gelap. Suatu saat, wanita itu menghilang, dan sampai sekarang tidak ada yang tahu di mana keberadaannya. Tapi, rumor yang beredar dia berhasil mengubah diri menjadi kucing hitam sebagai bagian dari syarat ilmunya. Setelah menjelaskan semua itu, Kakek beranjak untuk membawakanku minum. Tak lama, tiba-tiba saja.

“Meong…”

Datang mendekatiku seekor kucing. Kucing itu berwarna kuning persis seperti yang kulihat semalam meloncat ke dalam sumur.

Share This: