Kuntilanak di Perkebunan Ubi

Kisah ini ku alami sewaktu masih kecil, saat itu usiaku masih 6 tahun dan sekarang aku sudah berusia 25 tahun. Dulu aku beserta kakak dan adikku tinggal bersama nenekku di perkampungan trans daerah Palembang. Dikampung itu terbagi atas beberapa blok dari blok A sampai blok F. Kami tinggal di blok E. Setiap sore menjelang maghrib, aku beserta kakak dan anak-anak lain disana pergi ke masjid yang berada di blok F, untuk mencapai masjid dari rumah kami harus melewati kebun ubi yang cukup luas membentang tepatnya dari belakang rumah nenek hingga perbatasan blok E-F.

Diujung kebun ubi terdapat beberapa pohon kapuk yang cukup besar dan salah satu batang pohonnya ada yang melengkung kesamping seperti bangku. Setelah sholat maghrib berjamaah biasanya kami lanjutkan dengan mengaji Iqro’ dan Al-Qur’an dan dilanjutkan lagi dengan sholat Isya berjamaah. Suatu hari seperti biasa aku dan kakakku pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dan ngaji, tapi malam itu selepas sholat maghrib aku merasa sangat lelah dan ngantuk mungkin karna bermain seharian dan tidak tidur siang.

Aku mengajak kakakku pulang tapi ia menolak karna ingin mengaji dan sholat Isya berjamaah, sedang di masjid kami dilarang tidur saat ibadah berlangsung, jadinya aku memberanikan diri untuk pulang sendiri. Kakakku sempat ragu membiarkanku pulang sendiri tapi kuyakinkan bahwa aku berani yang kami takutkan saat itu tak lain adalah babi hutan yang sering keluar masuk perkebunan warga. Saat itu aku belum mengenal yang namanya hantu, karna aku jarang mendengar cerita-cerita itu dan belum cukup paham.

Untuk memastikan aku pulang dengan selamat, kakakku beserta temannya mengawasi perjalananku pulang dari depan masjid. Aku berjalan menuju rumah dengan diterangi cahaya bulan. Sesekali ku lihat kebelakang kakak beserta teman-temannya masih berdiri diujung jalan depan masjid. Tibalah aku diperbatasan blok F dan siap memasuki blok E menuju rumah. Awalnya aku hanya mendengar suara jangkrik yang nyaring bersahut-sahutan, lambat laun aku seperti mendengar suara perempuan bernyanyi.

Suaranya sangat lirih nyaris tak terdengar. Kuperhatikan sekitar jalan depan dan belakangku tak ada orang lain yang lewat. Ku lihat kanan dan kiri jalan yang dipenuhi pohon ubi dan juga pohon kapuk mataku terfokus pada sosok perempuan duduk manis sambil mengayunkan kakinya yang tertutup pakaian putih kumal di batang pohon kapuk yang melengkung. Wajahnya putih pucat, ia tersenyum padaku dan akupun balas senyum. Saat itu aku heran saja kenapa malam-malam begini ada perempuan duduk di pohon kapuk yang sunyi dan semak itu batinku.

Aku melanjutkan perjalananku melewati pephonan ubi yang semakin mendekati rumah dan semakin jauh dari pohon kapuk, tapi suara nyanyian yang ku dengar justru semakin kuat kurasa. Hingga tibalah aku dirumah nenek, kuketuk pintu dan mengucapkan salam, tak berapa lama aku mendengar nenek menjawab salamku dan membukakan pintu. Langsung ku cerita pada nenek.

loading...

“nek, di pohon kapuk tadi ada ibu-ibu duduk sendiri sambil nyanyi”
“Ibu-ibunya gimana? Tanya nenekku”.
“Mukanya putih, pakai baju panjang dan rambutnya panjang dia nyanyi tadi, jawabku”
“Oh, itu teman nenek, ya sudah sekarang bobo ya, cuci muka dulu sama cuci kami, kata nenek”

Akupun bergegas menuruti perintah nenek. Esokny kampung kami gempar dengan cerita warga yang mendapat informasi dari bapak-bapak yang bertugas bahwa pak Sukri kemarin malam mengejar kuntilanak dari perkebunan ubi dibelakang rumah nenek. Saat itu juga ku tanya pada nenek “nek, kuntilanak itu apa sih?”, dan nenek menjelaskan “Kuntilanak itu orang yang suka culik anak-anak yang suka main malam-malam, makanya kalau sudah malam anak-anak gak boleh main diluar, kata nenekku” akupun mengangguk seolah faham.

KCH

fadila

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

fadila has write 2,670 posts