Kuntilanak di Rumahku

Perkenalkan, nama saya angga. Saya karyawan swasta berusia 22 tahun dan tinggal di sebelah timur kota Bandung. Saya memiliki satu cerita yang mungkin sebagian orang sulit untuk mempercayainya. Tapi cerita ini benar-benar terjadi karena saya sendiri yang mengalaminya. Kejadian ini terjadi pada bulan desember 2015. Sejak sore hari hujan lebat mengguyur kota bandung, cukup lama saya berteduh di kantor bersama rekan sampai tak terasa waktu menunjukan pukul 21.00 WIB. Saat melihat ke luar ternyata hujan belum juga reda, menyisakan gerimis yang biasanya lama untuk reda.

Singkat cerita saya putuskan saat itu memaksakan untuk pulang dan sampai di rumah sekitar pukul 22.00 malam. Biasanya pada pukul 22.00 kedua orang tua dan adik saya sudah terlelap tidur, maka tak heran ketika saya datang ke rumah dengan kondisi yang sepi. Saya bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian lalu masuk kamar dan tertidur. Mungkin karena lelah maka tak membutuhkan waktu lama untuk terlelap.

Sekitar pukul 00.30 saya terbangun karena ingin buang air kecil. Sebelum keluar kamar, saya mendengar suara bebek di arah dapur yang menuju kamar mandi. Saya mengingat bahwa sekitar rumah saya tidak ada yang memelihara unggas bebek, terlebih suara itu pun berasal dari rumah saya sendiri. Saya fikir itu adalah salah dengar. Tetapi ternyata tidak! Suara yang samar tetapi jelas terdengar.

loading...

Masih di dalam kamar, saya teringat obrolan tadi di kantor dengan rekan-rekan mengenai hal-hal mistis. Tadi kami sempat membicarakan bahwa kuntilanak memiliki beberapa macam suara yang bisa manusia dengar. Seperti suara bayi, anak ayam, suara bebek, suara gemercik air, suara kuda, dan lain-lain. Dan jika kita mengikuti asal suara tersebut, maka kita akan melihat sosoknya.

Bulu kuduk mulai berdiri, perasaan takut dan was-was mulai menghampiri. Tetapi saya membuang fikiran itu jauh-jauh, saya mencoba berfikir positif. Lagi pula rasa ingin buang air kecil saya lebih besar daripada rasa takut saya. Saat itu saya memberanikan diri untuk pergi ke toilet. Beberapa langkah menuju toilet, saya mencium aroma wewangian yang asing di hidung saya.

Berubah pada saat berada di dalam toilet yang seketika datang aroma busuk yang sangat menyengat, seperti bau bangkai. ketika saya selesai buang air kecil, saya kembali ke kamar dan anehnya sesampainya di kamar saya kembali mencium wewangian yang tadi sempat saya cium aroma nya. Masih dalam kebingungan mencium aroma-aroma aneh, saya mendengar kembali suara bebek dan kini suara tersebut berasal dari kamar orang tua saya.

Terus saya dengarkan dan suara bebek menghilang digantikan dengan suara ibu saya yang menangis, ya. Saya yakin itu suara tangisan ibu saya. Karena kekhawatiran terhadap orang tua, saya setengah berlari menuju kamar orang tua dan langsung membuka pintu kamarnya. ketika melihat tempat tidur orang tua ternyata kosong tidak ada siapa-siapa dan betapa kagetnya ketika saya menoleh ke arah kiri ada sesosok makhluk membelakangi saya, memakai gaun kusut berwarna putih dan terlihat samar sedikit tembus pandang sedang duduk di kursi rias menghadap ke cermin sambil menyisir rambutnya yang panjang.

Suara tangisan kini berubah menjadi tawa cekikikan panjang yang sangat menyeramkan. Saat itu tak ada yang bisa saya lakukan, ingin berteriak dan berlari pun seperti tak mampu. Setelah itu saya tidak mengingat apa apa. Saya terbangun ketika ayah, ibu dan adik membangunkan saya yang tergeletak di lantai. Saya melihat itu sudah pagi, saya menceritakan pada mereka kejadian yang saya alami semalam.

Dan mereka pun memberi tahu saya bahwa semalam mereka tidak dirumah, ada sanak saudara yang sakit. Baru pulang subuh dan sesampainya di rumah menemukan saya yang tergeletak di lantai. Itulah pengalaman saya yang tak bisa dilupakan. Kesimpulannya, ternyata kita memang hidup berdampingan dengan ghaib di dunia yang sama dengan alam yang berbeda.

Jangan pernah menjadikan hal ghaib sebagai kepercayaan, kita harus selalu ingat pada-Nya yang maha sempurna yang menciptakan dua alam yang bebeda di dunia yang sama kepada Tuhan yang maha Esa. Sekian kisah saya, mohon maaf apabila terdapat kesalahan pada bahasa maupun penulisan, salam.

Share This: