Kuntilanak Laki-Laki (Kuntilaki)

Assalamualaikum semua, Weni lagi nongol disini. Seperti biasa, disini aku akan menceritakan kisah yang dialami teman sekaligus abang ku hehe. Karena jujur pengalamanku sama MG tu minim banget. Mungkin dari judulnya kalian bertanya-tanya apa ada kuntilaki? Tapi ini memang nyata, menurut info perbedaannya terletak pada cara tertawanya, jika kunti pada umumnya *hihihi kalau kuntilaki dia tertawa seperti ringkikan kuda. Oke langsung ke cerita.

Ini kisah yang menyeramkan dan agak konyol menurutku yang pernah ku alami, tapi ini nyata, namaku Arif. Kejadian ini terjadi ketika aku bersama rekan-rekan ku akan pergi ke acara pernikahan rekan ku yang lain. Kebetulan salah satu diantara kami saat itu seorang ustadz. Pada hari aku dan temanku yang seorang ustadz itu dapat undangan nikah sahabatku di luar kota, lalu kami berangkat sekitar 21:30 malam.

Kami berjumlah 4 orang dengan 2 motor, disaat perjalanan ustadz ini kebelet buang air kecil. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak, dan si ustadz turun dari motor lalu berjalan menuju sebuah pohon. Namun ustadz sudah ijin sebelumnya dan bilang “permisi saya numpang buang air kecil ya bapak/ibu/abang/kakak” setelah itu saat ustadz pergi ke arah pohon blinjo ketika sedang buang air dia di kejutkan dengan lemparan batu dari atas pohon.

loading...

Ternyata dia melihat dua sosok kuntilaki lalu ustadz itu bilang “aku gak ingin ganggu kamu tapi kenapa kamu ganggu aku kan sebelumnya saya sudah minta ijin” lalu kuntilaki itu turun dengan cara menyeramkan. Tapi bagi saya itu lucu, karena dia turun dari pohon dengan cara merangkak seperti sipderman sedangkan wujudnya hanya memakai popok layaknya tuyul hanya saja kepalanya tidak plontos.

Selang beberapa menit terdengar olehku ada keributan dari pohon blinjo. Lalu aku mendekat, sebenarnya agak takut tapi alhasil kuntilaki itu kalah dan hilang entah kemana perginya. Sesampainya di tujuan kami menceritakan pada teman yang sedang punya hajatan itu dan ternyata dia pernah mengalami hal yang sama seperti ustadz. Sejak saat itulah kami berfikir kok ada ya kuntilaki.

Share This: