Laboratorium Teknologi Berhantu

Namaku Agus Gurniwa ceritanya begini, aku adalah salah seorang seorang mahasiswa teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang gemar bermalam di lab, bukan karena aku nggak punya kost, tapi karena aku sedang mati-matian mengejar deadline TA (tugas akhir) 5 bulan kedepan. selama 4 tahun aku kuliah di ITB, hampir tiap minggu aku pernah nginep atau sekedar mengerjakan tugas di laboratorium.

Dan aku nggak cuma sendiri, banyak teman, senor dan junior juga melakukan hal yang sama. Aku sudah tidak merasa takut lagi berjalan kaki di sekitar kampus ITB yang menurut teman-temanku angker. kejadian ini aku alami sudah lama sekali, saat aku mengerjakan bab III dari TA ku. Disuatu malam, kira-kira hari senin, aku berjalan dari kost temanku yang berada di daerah kebon bibit, awalnya aku berjalan berdua dengan temanku itu, kita sempat melewati jalan gelap yang suasananya waktu itu sangat hening dan mencekam.

Singkat kata, aku dan temanku berpisah di dekat salman, karena temanku berjalan menuju arah dago, sedangkan aku berjalan menuju kampus. Biasanya, aku langsung menuju Laboratorium Teknologi VIII yang berada di lantai tiga, tapi entah kenapa malam ini aku memutuskan untuk menengok ruangan himpunan elektro, yang terletak di basement. Niatku tadinya mau mengambil buku yang aku jadikan sumber dalam penulisan TA ku ini.

Setelah sampai di ruang himpunan, kemudian mengobrol bersama beberapa teman yang ada disana, aku segera mengambil buku yang dimaksud dan bergegas keluar menuju ruangan lab. Aku melihat arloji di tangan, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Masih sore fikirku. Tiba-tiba, aku berhenti di depan lift. Aku bimbang, antara naik lift atau tidak. Akhirnya setelah sepersekian milisekon, aku memutuskan naik lift yang anehnya pada waktu itu pintunya langsung terbuka padahal aku tidak memencet tombolnya sama sekali.

Waktu itu, tanpa berpikiran macam-macam, aku langsung naik lift dan memencet tombol 3 karena Laboratorium Teknologi (labtek) VIII berada di lantai tiga. Anehnya, baru sampai lantai 2, lift tiba-tiba berhenti. Kemudian pintu lift terbuka sendiri memperlihatkan suasana lorong yang gelap di lantai dua. Aku mengeluarkan kepala dan menengok ke kanan dan ke kiri. Karena tidak ada orang, aku memutuskan untuk menutup lift.

Akhirnya, pintu lift pun terbuka tepat di lantai 3, ketika aku berjalan keluar dari lift, tas yang aku selempangkan di bahu tiba-tiba terasa seperti ada yang menyenggol. Aku sempat terdiam beberapa saat tetapi karena terburu-buru, aku mengacuhkan kejadian barusan. Setibanya di labtek, aku sedikit terkejut karena ternyata teman-temanku sudah ada disana. Mereka nampak sibuk mengutak-atik beberapa alat, aku sempat mengucap salam tapi anehnya tidak ada yang menjawab.

Mungkin mereka sedang serius, fikirku dalam hati. Karena tidak mau mengganggu akhirnya aku memutuskan untuk duduk di depan sebuah komputer dan mulai tenggelam dalam kegiatan menulis TA. Tak terasa, sudah hampir 3 jam aku menikmati suguhan layar monitor model lama dan komputer lab yang sudah usang itu. Aku melihat sekeliling, ternyata teman-teman masih asyik mengerjakan tugasnya. Aneh juga sih sedari tadi aku tidak mendengar suara apapun, padahal biasanya selalu terdengar celotehan-celotehan kecil ketika seseorang sedang gagal bereksperimen.

Tapi lagi-lagi aku mengacuhkannya. Dengan penuh rasa lelah, aku mengambil tas, kemudian berjalan keluar dari lab, meninggalkan teman-temanku di sana. Hampir 2 bulan lebih aku melalui hari-hari di lab dengan suasana sunyi seperti itu, padahal teman-temanku ada disana. Aku sebenarnya merasa heran kenapa selama berada di lab, mereka mengacuhkan aku ya? tetapi karena otak ku dipenuhi deadline TA, aku menafikan pikiran-pikiran aneh tersebut sampai akhirnya datanglah hari dimana aku sidang, dan alhamdulillah lulus dengan nilai memuaskan. Singkat cerita, sewaktu hari wisuda, di sabuga, hatiku merasa tergelitik untuk bertanya kepada teman-teman.

“hey, kalian kok sombong sekali waktu ada di lab? tiap aku salam ndak pernah dijawab?” tanyaku kepada tiga orang temanku yang juga lulus bersamaan denganku.
“di lab? memang kapan gus?” tanya adri, teman asal jakarta.
“iya, memangnya kapan kau pernah menyapa aku?” tanya uli, teman asal sibolga dengan logat bataknya yang kental.
“lho.. tiap kali aku datang ke lab, aku kan selalu menyapa kalian? mengajak ngobrol kalian tapi kalian malah diam saja. sombong benar” tanyaku dengan kesal.

Ketiga temanku saling berpandangan satu sama lain, kemudian dengan tatapan heran mereka memandangku.

“memang kapan kamu ke lab?” tanya tito, teman asal pekalongan.
“lho.. selama 2 bulan terakhir ini kan aku selalu mengerjakan TA di lab, bersama kalian kan? masa lupa? parah betul kalian ini.” tanyaku tak kalah heran.
“heh.. jangan asal bicara kau. aku pergi ke lab hanya berdua dengan tito. tidak pernah bertemu kau” teriak uli dengan nada tinggi.
“iya gus, saya juga 3 bulan terakhir ini tidak pernah bertemu kamu di lab, hanya bertemu senior saja.” jawab adri yang menatap lekat ke arahku.
“wong edhan! lha wong aku tiap hari bertemu kalian kok.” jawabku.

“lha.. memang kau pergi ke lab jam berapa?” tanya uli.
“jam 10 atau jam 11.” jawabku.
“bodoh kali kau, aku saja jam 8 sudah pulang! mana mungkin aku bertemu kau jam 10!” teriak uli yang disambut oleh anggukan tito.
“saya juga gus, sebelum isya sudah pulang ke kosan. pernah sekali waktu telat kemudian bertemu uli dan tito, tapi tidak pernah bertemu kamu.” ucap adri.
“masa? tapi aku jelas-jelas melihat kalian di..” jawab ku dengan nada bicara yang mulai ragu.
“di mana?” tanya uli.

Aku tidak menjawab pertanyaan uli, aku langsung tenggelam dalam lamunanku sendiri, berusaha memutar balik kejadian-kejadian aneh yang terjadi selama 2 bulan terakhir aku mengerjakan TA. Iya, aku ingat sekarang, lift yang pintunya selalu terbuka sendiri, teman-teman yang ada di lab begitu hening tak bersuara sedikitpun, dingin nya tangan uli waktu kupegang di lab, entah itu benar tangan uli atau bukan yang kupegang.

loading...

Kemudian entah bau wangi aneh yang sesekali menusuk hidung ketika aku sedang asik mengetik dan pernah suatu waktu aku mengerjakan TA sampai subuh, tiba-tiba ketika adzan subuh berkumandang, semua orang yang ada di lab tiba-tiba menghilang. Awalnya aku sempat berpikir mereka solat subuh di salman, tapi aneh, karena aku tidak mendengar suara pintu dibuka atau langkah kaki mereka ketika meninggalkan ruangan.

Untuk menuntaskan rasa penasaran, aku kemudian mengajak 3 orang temanku untuk mendatangi kembali labtek VIII di malam hari, tepat pukul 10 malam, kami mendatangi lab tersebut dan ternyata, normal. Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan. Ketika berjalan keluar dari lab aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh, kenapa lorong ini terasa berbeda dari tempat yang biasa aku lewati tiap malam.

Kecurigaanku semakin bertambah, dengan rasa cemas, aku menaiki lift kembali diikuti teman-temanku, ketika memencet angka 2, ternyata tidak bisa karena tombol lift hanya bisa berhenti pada lantai-lantai tertentu saja. Aku mengajak ketiga temanku untuk menaiki tangga menuju lantai dua, dan benar saja, suasana di lorong lantai dua yang gelap dan sepi itu terasa jauh lebih familiar dibandingkan dengan suasana di lorong lantai tiga.

Aku lalu tersadar, kenapa akhir-akhir ini pintu lift selalu terbuka di lantai dua, dan kenapa aku terkadang merasa asing dengan suasana labtek. Ternyata, selama 2 bulan terakhir ini aku tidak pernah mengerjakan TA di ruang labtek. Aku bahkan tidak pernah sampai di lantai tiga karena entah bagaimana caranya, selama dua bulan aku mengerjakan TA di lantai 2.

Tiba-tiba sewaktu kami berempat terdiam di tengah lorong, tiba-tiba pintu lift kembali terbuka disertai bunyi berisik dari dalam ruangan kelas di sebelah. Setelah beberapa detik kami saling berpandangan, akhirnya kami berempat langsung lari terbirit-birit menuruni tangga meninggalkan gedung fakultas kami tercinta ini. Untung kita semua sekarang sudah lulus.

Share This: