Legenda Dewi Anjani Sang Penguasa Gunung Rinjani

Sebelum memulai cerita ini saya ingin mohon maaf apabila ada kesalahan kata-kata selama ini atau yang akan datang baik pada teman-teman dan pembaca KCH maupun pada orang atau makhluk lain yang merasa tidak nyaman dengan apa yang saya tulis. Dan dibulan Syawal yang penuh maaf dan ampunan ini yang masih dalam suasana Fitri saya mohon maaf lahir dan batin. Cerita ini mungkin berbeda dengan cerita yang ada didalam buku sejarah tentang gunung Rinjani karena ini versi cerita dongeng yang sering diceritakan oleh ayahku diwaktu luangnya dan lebih sering diceritakan saat sebelum tidur.

Jadi kebenarannya gak berani saya jamin, namanya saja dongeng bisa jadi ini adalah cerita fiktif belaka, ada atau tidaknya unsur kebenarannya tidak saya ketahui secara pasti jadi saya cuma bisa bilang entahlah. Untuk lebih jelasnya mari kita mulai dongeng tentang Dewi Anjani ini. Tetapi terlebih dahulu harus dimulai dengan kata-kata ini (kebiasaan ditempatku). Yang bercerita akan mengucapkan “Man Cerita” terus kita sebagai pendengar menjawab “Man” terus yang cerita berkata (aku agak lupa sih tapi kurang lebih berkata seperti ini) “lok keman ponggok kisa” yang artinya si keman gotong kisa.

Aneh sih kedengarannya tapi kami memaknainya si Keman ini akan mengambil anak yang duduk paling pinggir atau yang tertidur sebelum cerita selesai. Dan sampai sekarang kami tidak tahu siapakah si Man atau si Keman ini manusia atau bukan *hehe. Alkisah di zaman dahulu kala setelah pulau Lombok dikuasai oleh penguasa yang menganut ajaran agama Islam ada sebuah kerajaan besar bernama kerajaan Selaparang (sekarang nama kerajaan ini di abadikan sebagai salah satu nama jalan utama di kota Mataram yang sekarang *beken dengan Pura juga Taman Mayura dan yang terbaru dengan TransMart-nya).

loading...

Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyat kerajaannya waktu itu makmur dan sejahtera. Daerah kekuasaannya meliputi seluruh pulau Lombok yang saat itu sebenarnya terdiri dari beberapa kerajaan kecil tetapi semuanya tunduk pada kekuasaan Kerajaan Selaparang. Baginda Raja memiliki empat orang anak, tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan.

Dalam cerita ayahku nama anak laki-laki sang Raja tidak pernah disebutkan, yang disebut cuma nama anak-anak bungsu sang Raja yaitu Dewi Anjani. Si bungsu Dewi Anjani dikisahkan merupakan anak yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan melebihi kakak-kakaknya yang tentu saja membuat bangga sang Raja karena walaupun dia anak perempuan tapi merupakan orang yang sangat disegani karena kecerdasan dan kesaktiannya. Dan segera saja sang Dewi menjadi anak kesayangan ayahnya.

Waktu berjalan lambat laun semakin membuat para saudaranya menjadi iri hati atas kemampuan adiknya yang selalu menjadi kebanggaan sang Raja. Rupanya kegundahan hati anak-anak lelakinya terbaca oleh sang Raja, sampai pada suatu hari Baginda Raja mengumpulkan keempat anaknya tersebut disebuah taman belakang kerajaan. Sang Raja pun kemudian menanyakan kepada anak-anak lelakinya apa sebenarnya yang menyebabkan mereka gundah dengan kasih sayangnya pada adik bungsunya.

Si kakak tertua kemudian mulai berbicara mewakili adiknya bahwa mereka merasa kalau Baginda Raja terlalu membanggakan kemampuan adiknya yang mereka anggap bahwa sebenarnya kemampuan mereka tidak akan kalah atau bahkan lebih tinggi dari kemampuan si adik bungsu. Mendengar itu Baginda Raja menghela nafas panjang kemudian dia mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak pernah pilih kasih dalam mengasuh anaknya, tetapi khusus si bungsu sang Raja memang melihat ada kelebihan-kelebihan lain yang sangat mencolok yang mengakibatkan dia memberikan perhatian ekstra kepada si bungsu agar dengan kemampuannya itu bisa mengontrol dan menggunakannya untuk tujuan kebaikan.

Bahkan sang Raja mengatakan bahwa dia memiliki firasat kalau nantinya anak perempuannya itu akan menjadi Raja bahkan penguasa besar yang abadi dan akan dikenal turun-temurun dalam waktu yang sangat lama. Mendengar perkataan Sang raja ketiga anak lelaki ini kemudian meminta Ayahnya untuk mengadu kemampuan dan kesaktian dengan adik bungsunya. Mereka ingin membuktikan bahwa sebenarnya merekalah yang pantas dibanggakan oleh Baginda Raja.

Sang Raja kemudian tersenyum dan akhirnya berkata akan mengadakan perlombaan untuk membuktikan perkataannya kalau si bungsu memiliki keistimewaan melebihi kakaknya. Sang raja memutuskan perlombaan yang akan dilakukan adalah perlombaan memanjat pohon tua dibelakang istana. Pohon ini adalah pohon yang sudah sangat tua dan menjulang tinggi melebihi pohon-pohon lain disekitarnya bahkan melebihi ketinggian pohon pada umumnya.

Dan satu lagi yang menjadi tantangannya pohon ini memiliki duri-duri tajam dari pangkal sampai pucuknya dan kelebihan lainnya segala ilmu kesaktian tidak mempan melawan duri-duri ini karena siapapun yang memegangnya pasti akan tertusuk duri ini setinggi apapun ilmu kesaktiannya dan sekeras apapun kulitnya. Hari yang ditentukan pun tiba keempat anaknya berkumpul ditaman belakang istana untuk memulai perlombaanya, disaksikan oleh sang Raja bersama berapa menteri dan prajurit penjaga istana serta ibunda dari anak-anak ini.

Pertandingan akhirnya dimulai yang pertama kali memanjat pohon ini adalah putra ketiganya. Segera saja dia bersiap dibawah pohon. Dengan merapal mantra dan mengeluarkan ilmu kesaktiannya dia segera melompat mulai memanjat pohon itu tetapi begitu tangannya menyentuh pohon itu segera saja dia tertusuk duri pohon itu. Dengan menahan rasa sakit dia kembali melompat dan memanjat, tetapi malang belum sampai seperempatnya dia sudah tidak kuat lagi dan akhirnya terjatuh. Kemudian dilanjutkan dengan putra keduanya, sama seperti yang dilakukan adiknya dia terlebih dahulu merapal mantra dan mengeluarkan kesaktiannya kemudian segera melompat untuk mulai memanjat, lompatan pertama berhasil dilaluinya, kemudian kembali dia melompat dan berhasil naik sampai lompatan ketiga.

Dia akhirnya jatuh ke tanah dengan tangan penuh luka sama seperti sang adik. Akhirnya tibalah saatnya kepada si sulung, sama seperti ritual yang dilakukan adiknya dia kemudian mulai melompat naik. Satu lompatan, dua, tiga, empat, lima lompatan berhasil dilakukannya. Adiknya yang terlebih dahulu jatuh terlihat optimis melihat sang kakak yang sudah sampai setengah jalan dari tinggi pohon itu. Tetapi naas begitu sampai pada lompatan ketujuh dia terjatuh dari pohon itu, untungnya dengan keterampilan dan kesaktiannya dia bisa mengendalikan tubuhnya dan jatuh mendarat dengan baik tanpa cedera, tetapi tetap saja tangannya berdarah-darah tertusuk duri dari pohon itu sama seperti adik-adiknya.

Setelah itu kemudian sang ayah memerintahkan si bungsu Dewi Anjani untuk mulai memanjat pohon tersebut. Si bungsu segera mengikuti perintah Ayahandanya, sesampainya dibawah pohon itu tanpa merapal mantra dia segera saja melompat memanjat pohon itu. Gerakannya cepat sekali sehinga sebentar saja dia sudah sampai dipucuk pohon itu dan berdiri diatasnya. Badannya terlihat sangat ringan dan dia berdiri tegak dipucuk pohon yang merupakan bagian yang lunak karena rantingnya masih muda.

Beberapa saat diatas dia kemudian melompat turun melayang ringan sampai kakinya menyentuh tanah. Sesampainya dibawah kakaknya segera mendekatinya dan ternyata tangannya tidak terluka sama sekali bahkan tergores pun tidak. Akhirnya mereka memohon ampun kepada ayahnya karena sempat tidak percaya atas perkataan Baginda Raja bahwa adik bungsunya memang memiliki bakat kesaktian yang sangat istimewa melebihi ilmu kesaktian yang mereka miliki.

Mendengar pengakuan mereka baginda Raja tersenyum dan berkata untuk si sulung dia akan mewarisi tahta kerajaan Selaparang, untuk putra keduanya dia akan mewarisi kerajaan kadipaten Pejanggik, dan untuk putra ketiganya akan mewarisi kerajaan kadipaten Langko. Dan untuk putri kesayangannya karena aturan kerajaan yang mewarisi kekuasaan kerajaan adalah anak laki-laki maka sang raja menghadiahkan anaknya ini sebagai penguasa gunung Rinjani yang berbatasan dengan semua wilayah yang diwariskan kepada kakaknya dan sebagai penjaga keseimbangan dan perdamainan antar kerajaan saudaranya.

Semenjak itulah akhirnya dia menjadi penguasa gunung Rinjani sampai saudaranya meninggal sampai semua kerajaan yang diwarisi saudaranya hancur dia masih menjadi penguasa gunung Rinjani bahkan sampai sekarang tidak ada satupun yang berani mengklaim wilayah kekuasaannya tersebut. Meninggalnya sang Dewi tidak diketahui waktunya, malah sampai sekarang dipercaya dia masih hidup dan masih menguasai kerajaannya walaupun jasad kasarnya sudah tidak terlihat tetapi jasad halusnya masih menjadi ratu digunung Rinjani yang abadi sampai sekarang.

Dengan kesaktiannya sang Dewi selain memiliki pengikut manusia dia juga menjadi Ratu dari seluruh makhluk halus digunung Rinjani dan kerajaannya meliputi dua alam yaitu alam nyata dan alam gaib. Konon sebenarnya nama gunung itu adalah gunung Samalas yang kemudian meletus dan terbentuk gunung baru yang belum memiliki nama sampai sang Dewi Anjani ditunjuk oleh Ayahandanya sebagai penguasa maka semenjak itu namanya menjadi gunung Rinjani.

Sampai sekarang gunung Rinjani dipercaya tetap sebagai penyeimbang keberadaan pulau Lombok. Selama masyarakatnya masih berlaku baik dan menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran agama, maka gunung ini akan tetap tenang, dan jika masyarakat mulai meninggalkan kebaikan dan ajaran agama maka sang Dewi akan membuat peringatan untuk masyarakat pulau Lombok. Sekian.

Yandi Lalu

Yandi Lalu

You Shouldn't Read Alone (english)Ndak Bae Mece Mesak-Mesak (sasak)Suka Segala Sesuatu Tentang Pesawat Khususnya Pesawat Tempur, Alutsista, Militer, Film, Cerita Hantu, IT, Astronomi, History ect.Fb. Yandi LaluInstagram. @yandilalu

All post by:

Yandi Lalu has write 71 posts