Legenda Gereja Terbakar

Legenda gereja terbakar ini berasal dari daerah Utara Canada. Wanita itu sangat pintar, cerdas dan berbudaya. Hal ini juga sangat mengherankan bagi para penduduk disekitarnya. Seorang guru seperti dia harusnya memimpin sebuah sekolah wanita di London atau New York, bukannya malah mencari posisi di sebuah kota kecil di Georgia. Tetapi pada saat itu, mereka terlalu senang dengan permohonan wanita itu untuk mengajukan pertanyaan.

“Ini akan menjadi hal baik untuk putri kami dalam mempelajari beberapa budaya,” kata seorang istri pengacara pada istri pendeta.
“Dan anak laki-laki kita akan tahu tentang tata cara makan dengan sopan” jawab istri pendeta sambil tersenyum.

Sekolah juga sering membuat sebuah pertemuan di gereja lokal setelah kedatangan guru tersebut. Dan anak-anak juga mendapat nilai raport yang cemerlang. Guru kami sangatlah istimewa. Guru mengajari mereka sopan santun dan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Semua anak-anak disana mencintai sang guru.

Para orang tua juga sangat senang dengan kemajuan anak-anak mereka di sekolah tersebut. Guru ini adalah suatu keajaiban yang dikirim oleh tuhan, kata istri pendeta. Tapi tidak semua orang di kota itu senang dengan keadaan tersebut. Salah seorang penduduk lokal yang biasa dipanggil Smith, memiliki cerita lebih jahat tentang guru tersebut.

loading...

“Wanita itu sangat aneh” katanya kepada pandai besi sambil melambaikan sebotol wiski untuk penekanan.
“Saya melihat dia di hutan setelah gelap, menari di sekitar api unggun dan menyanyikan lagu dalam bahasa yang aneh”.
“Omong kosong,” tukas pandai besi, yang tetap terlihat tenang sambil menempa batang besi berkepala pada landasannya.

“Mereka mengatakan dia punya altar dikamarnya dan itu tidak ditujukan bagi Yang Maha kuasa” tegas Smith, sambil mencondongkan badannya kedepan dan meniup napas mabuknya kepada wajah pandai besi.
“Kau mabuk” kata pandai besi, sambil mengangkat besi panas sehingga menghalangi orang tadi mendekat lagi.
“Pulanglah dan segera tidur”.

Smith meninggalkan bengkel, tetapi dia terus membicarakan tentang guru itu dalam minggu-minggu berikutnya. Selama minggu-minggu tersebut, anak-anak sekolah tersebut mulai berubah tingkahnya. Mereka menjadi sangat ribut. Senyum mereka mulai mereda. Dan mereka berkelakuan buruk pada skala yang jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya. Barang-barang mulai menghilang dari rumah dan peternakan. Barang-barang mahal seperti perhiasan, alat-alat pertanian, dan uang juga menghilang. Dan ketika mereka berbicara kepada orang tua mereka, mereka menggunakan nada tinggi dan tidak sopan, dan mereka tidak meminta maaf untuk kekurang-ajaran mereka, bahkan ketika dihukum.

“Dan putriku berbohong kepadaku kemarin” kata istri pengacara kepada istri pendeta dengan cemas.
“Aku melihat dia memukul adiknya dan mencuri sebuah apel dari dia, dan dia menyangkal hal itu didepan wajahku, dan malah memanggilku pembohong”.
“Permainan yang anak-anak lakukan di hutan juga menakutiku” kata istri pendeta.

“Mereka menyanyikan lagu dalam bahasa yang aneh, dan mereka bergerak dengan gerakan yang aneh juga. Hampir seperti tarian ritual”.
“Mungkinkah itu sesuatu yang mereka pelajari di sekolah?” tanya istri pengacara.
“Tentu saja tidak! Guru itu adalah sosok yang manis dan berbudaya” kata istri pendeta.

Tapi mereka bertukar pandang gelisah. Di sisi lain smith sangat yakin. “Guru Itu telah memutar akal para pemuda pada Iblis, itulah apa yang dia lakukan”. Dia menyatakan hal itu dengan turun kejalan-jalan kota.

“Jangan konyol” kata pendeta ketika dia lewat didepannya.
“Aku nggak konyol, kaulah yang buta” kata Smith kepada pendeta.
“Guru itu harus dibakar di tiang, seperti mereka membakar para penyihir”.

Pendeta menjadi pucat dan marah dan langsung mengusir smith dari hadapanya. Tapi kata-kata dari smith telah berdering dalam pikirannya. Dan anak-anak terus berperilaku aneh. Hampir seperti mereka sedang dikendalikan. Pendeta itu memutuskan untuk melihatnya secara langsung, secepatnya. Hari itu datang lebih cepat dari yang dia pikirkan.

Senin berikutnya, anak laki-lakinya jatuh sakit, dan ibunya menyuruhnya pulang dari sekolah. Ketika sang pastur kembali dari tugasnya untuk makan siang, istrinya datang berlari kepadanya setelah dia memasuki pintu. Dia terlihat sangat pucat dan ketakutan.

“Aku mendengar dia meneriakan sesuatu secara berulang-ulang dari kamar tidurnya” dia tersentak.
“Jadi aku mendekatkan diriku kearah pintu untuk mendengarkan lebih jelas. Dia melafalkan doa-doa secara terbalik, dari belakang”.

Pendeta terkesiap dan mencengkeram Alkitab kearah dadanya, dia merinding, seolah-olah hatinya akan meletus.
Ini merupakan perbuatan dari Setan. Dan tidak ada tempat anak itu bisa mempelajari hal seperti itu di kota ini, kecuali dia mempelajarinya di sekolah. Pada saat itu, istri pengacara datang dengan tergesa-gesa dari pintu belakang.

“Pendeta cepat, cepat” serunya.
“Smith berjalan ke kota dengan membawa obor, dia mengatakan akan membakar gereja tempat anak-anak belajar. Anak-anak masih ada didalam”.

Pendeta berlari keluar rumah dengan dua wanita dibelakangnya. Mereka dan warga kota lainnya juga mengikuti. Tiba-tiba mereka melihat asap yang membumbung yang sangat banyak yang datang dari arah gereja, dimana anak-anak sekolah mendapatkan pelajaran mereka. Bangunan itu sudah terbakar sebagian orang tua yang panik segera berusaha memadamkan api dengan karung basah, atau melemparkan ember air dari pompa kedalam neraka itu.

Smith tertawa terkekeh-kekeh dari sisi yang jauh dari bangunan, yang penuh dengan jeritan para siswa yang terjebak dan guru mereka. Api berkobar dengan semacam kekuatan supranatural, dan pendeta merasa bisa mendengar suara guru tertawa dari dalam gedung mengetahui tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Gereja itu terbakar selama beberapa jam, dan ketika itu akhirnya padam, tidak ada yang tersisa sama sekali.

Para orang tua mencoba menemukan sisa-sisa dari anak-anak mereka untuk dikuburkan, dan Smith menghilang dari kota, misinya terhadap karya setan selesai. Tubuh guru yang terbakar dikubur dalam tanah dan ditutupi dengan makam batu bata. Tubuh anak-anak kecil juga dimakamkan dibawah salib kayu. Dari semua siswa di sekolah yang terbakar itu, hanya anak dari pendeta selamat (yang saat itu disuruh pulang karena sakit).

Sampai hari ini, kita dapat mendengar suara-suara di kuburan bekas gereja yang terbakar itu, nyanyian dengan kata-kata yang tidak dapat dimengerti, nyanyian yang pernah dinyanyikan oleh anak-anak sekolah dan guru itu di hutan diluar kota. Kadang-kadang penampakan juga terlihat, sesosok gelap yang berkeliaran di kuburan di malam hari. Dan mereka mengatakan bahwa batu bata yang diambil dari makam guru jahat tadi dapat membakar benda apa saja ditempat batu bata itu diletakkan.

Arie R

Arie R

Suka berbagi cerita dan senang membaca website seperti KCH!

All post by:

Arie R has write 73 posts

loading...