Lelaki Misterius di Desa KKN

Namaku Bunga, Aku yang terbiasa dengan makan serba enak, tidur nyenyak, koneksi internet dan nongkrong di tempat keren merasa kesulitan ketika harus dihadapkan pada satu tugas kampus yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Bayangkan saja, kita menuju satu tempat yang jauh dari keramaian, menyatu dengan masyarakat di suatu Desa dan membantu mereka. Sebenarnya tidak begitu sulit, namun karena aku belum terbiasa, jadi segalanya itu terasa sangat menyusahkan.

Belum lagi, karena awalnya aku tidak kenal dengan anggota KKN lainnya, semua jadi terasa canggung. Aku sama sekali tidak menikmati tugas kuliah ini. Singkat cerita, sampailah kami di desa penempatan. Saat itu, aku yang diminta untuk memutuskan tinggal di mana. Aku memilih sebuah rumah kosong yang akan dijual. Aku memilih di sana karena rumah itu cukup besar dan berbentuk modern.

“Di sini aja ya, nginapnya. Kalo ikut di rumah warga, nanti malah nggak nyaman” kataku kepada teman-teman yang sepertinya, mengikut saja. Setelah mencari tahu siapa pemiliknya, aku langsung meminta ijin untuk meminjamnya selama KKN. Awalnya tidak boleh tapi setelah bernegosiasi, akhirnya kami di ijinkan untuk memakai rumah itu. Benar saja, rumah ini sangat sesuai harapanku. Apalagi di dalam rumahnya masih ada furniture dan perlengkapan, seperti kursi, lalu tempat tidur, dan sampai alat-alat dapur.

Kamarpun pun ada banyak, akhirnya kami langsung membereskan perlengkapan dan langsung menentukan kamar masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Aku yang kebetulan sedang menyapu di ruang tamu langsung menyambutnya. Terlihat seorang laki-laki berambut agak gondrong membawa sepeda ontel. “Ya siapa? cari siapa?”.

Orang itu pun tersenyum dan memulai perbincangan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Heri, penduduk desa ini dari RW-12 yang lokasinya tidak jauh. Kedatangannya hanya ingin menyapa pendatang baru di desa ini. Aku merasa sedikit risih dengannya. Wajahnya terkesan tidak ramah, aku jadi menjaga jarak. Suaranya yang agak serak juga terdengar mengganggu, membuatku bertanya.

“Akang, suaranya kenapa? Lagi sakit?”. Dia menjawab, katanya dulu dia tidak disukai orang-orang di sini dan sempat disantet sampai mengalami koma selama enam bulan. Setelah bangun dari koma, suaranya jadi begitu. Mendengar cerita itu, aku malah jadi makin tidak simpati dan takut. Orang yang tidak disukai sampai disantet segala pastilah bukan orang baik, pikirku. Terakhir dia menginformasikan bahwa rumahnya ada di belakang sawah yang tepat berada di depan rumah kami. “Hanya terhalang sawah dan sebuah rumah” katanya.

Karena merasa risih, aku meminta izin masuk sebentar untuk memanggil dan mengenalkan Heri kepada teman-temanku yang lain. Tidak sampai semenit aku memanggil temanku, Heri sudah tidak ada. Benar-benar orang yang aneh. Keesokan harinya, tim kami berencana untuk bertemu ketua RT dan RW untuk mendata dan melakukan pemetaan. Siang itu hujan turun dan membuatku malas. Aku beralasan tidak enak badan, dan menawarkan diri untuk menjaga barang di rumah pinjaman itu sendirian. Aku duduk santai sambil memainkan Twitter ku. Tiba-tiba “tok.. tok.. tok” terdengar suara ketukan.

Aku pun beranjak untuk membukakan pintu. Ketika sampai di depan pintu, aku mengintip terlebih dahulu. Dan yang kudapati ternyata bukan temanku, tapi Heri. Laki-laki yang kemarin datang itu. Aku tidak tahu harus membuka pintu atau tidak mengingat aku sedang sendirian juga. Aku jadi berpikiran negatif. Aku coba menghilangkan pikiran itu dan membukakan pintu. Kulihat Heri menatapku dan tersenyum, lantas aku menanyakan maksud kedatangannya.

Dia hanya bertanya apa kegiatan yang sedang kami lakukan. Aku pun menjawab bahwa kami sedang pemetaan desa. Lalu dia bertanya “Kenapa RW 12 belum didatangi?”. Aku menjawab karena RW-12 belum mendapat giliran untuk didata. Gestur dan nada bertanya Heri meninggalkan kesan canggung dan tidak nyaman untuk ku. Dia lanjut berkata meminta segelas air putih. Aku pun mundur menuju dapur membawakan air putih.

Saat kembali ke ruang tamu, orang itu sudah tidak ada. aku sempat merasa takut, untungnya tidak lama kemudian teman-temanku datang. Aku bercerita kepada teman-teman bahwa orang yang kemarin datang lagi dan meminta RW 12 didatangi. Sore itu, aku langsung mendatangi ketua RW-12. Aku berjalan bersama kedua temanku kesana. Ternyata, lokasi RW-12 benar-benar terpencil! Kiri kanan hanya terlihat bukit.

Dan, “aduh!” aku menginjak tanah yang gembur. Ketika aku lihat ke bawah, Di sekeliling bukit ini banyak sekali kuburan dan tempatnya pun tidak beraturan. Kami mempercepat langkah kami dan akhirnya sampai di sebuah rumah. Di situ kami disambut oleh seorang bapak tua. Dia adalah ketua RW 12. Kami berbincang-bincang dan memberi tahu maksud kedatangan kami.

Sampai aku pun bertanya “Pak, apa benar ada yang namanya Heri di RW 12 ini? Orangnya agak aneh, suaranya kayak orang sakit dan rambutnya gondrong. Katanya, sih, rumahnya di belakang sawah depan rumah kami” Bapak RW mencoba mengingat, dan bilang bahwa di sini tidak ada yang namanya Heri. Saat itu aku mulai sedikit takut. Jadi, jangan-jangan yang selama ini datang ke rumah itu orang jahat.

Ketika data berhasil kami kumpulkan, hari sudah mulai gelap. Kami baru ingat bahwa kami harus melewati bukit yang penuh kuburan itu lagi. Karena seram, kami sedikit berlari sampai karena lambat dan jarang berolah raga aku tertinggal dari kedua temanku itu. “Sari, Rafi. Di mana kalian?” Aku menghentikan lariku sejenak untuk mengambil nafas. Sekitarku kini gelap, aku juga tidak bisa melihat ke bawah dengan jelas. Aku takut yang aku injak ini kuburan.

“Sari, Rafi. Di mana kalian?” panggilku. Sampai, ada yang memegang punggungku dari belakang! Aku lihat ke belakang, tapi tidak melihat siapapun. Aku yang merasa makin ketakutan kini berlari kembali. Samar-samar aku mendengar ada yang berlari mengikutiku. Aku terus berlari dan hampir menagis karena ketakutan. Tidak lama aku berhenti ketika melihat hamparan sawah di depanku.

Di tengah sana ada sebuah pohon pisang, dan di sana aku melihat seseorang melambaikan tangannya. Seolah memintaku untuk menghampirinya. Aku pun bergegas ke sana, meskipun tidak dapat melihat jelas siapa orang itu. itu pasti teman-teman, pikirku. Belum saja sampai, aku melihat jelas orang yang melambai kepadaku itu adalah Heri. Entah kenapa aku malah jadi semakin takut dan berlari menjauh. Ketika aku lihat ke belakang, terlihat Heri berlari mengejarku.

loading...

Sambil terengah, aku terus berlari. Tak lama, terlihat sebuah warung, aku berusaha secepat mungkin sampai di warung itu dan belum sampai disana aku merasakan seperti ada sebuah tangan yang mencengkram kakiku. Aku pun terjatuh, Aku lalu meronta-ronta. “Tolong.. tolong!” Beberapa orang datang mengerumuniku dan ketika kulihat kakiku, ternyata tidak ada sebuah tangan yang mencengkram kakiku. Akhirnya aku pun diantar oleh beberapa orang kembali ke rumah.

Aku sampai di rumah dengan badan penuh lumpur. Aku menangis lalu bercerita tentang kejadian yang aku alami tadi. Seorang warga akhirnya angkat bicara. Dulu memang ada penduduk yang bernama Heri, namun karena sebuah tragedi, namanya tidak pernah disebut lagi di desa ini. Heri adalah seorang preman yang ditakuti di desa ini. Tidak ada yang berani melawannya, sampai suatu hari dia tertangkap ketika akan menjamahi seorang gadis.

Warga yang murka kali itu tidak tinggal diam. Semua orang mengejarnya, dan ketika sudah tertangkap akhirnya Heri dipukuli sampai sekarat. Dia dikubur hidup-hidup tepat di pohon pisang yang berada di tengah sawah. Sampai saat ini, tidak ada yang berani menyebut nama itu. Katanya sosok Heri masih suka berdiri dan memanggil orang-orang yang lewat, Mungkin juga dia masih mencari korbannya.

Share This: