Lemari Antik Kayu Jati

Selamat malam jumat KCH, kembali lagi bersama saya “John”. Cerita malam ini, adalah lemari antik yang dibeli oleh seorang ibu yang suka mengoleksi barang-barang antik dirumahnya. Lalu lemari tersebut di simpan di dalam kamar anaknya yang merupakan seorang perempuan, ternyata lemari tersebut menyimpan sebuah misteri. Sebelum membaca kisah ini, saya ingatkan untuk berdoa terlebih dahulu dan Jangan pernah baca ini sendirian.

Aku tidak tahu alasan kenapa Ibuku suka sekali mengumpulkan benda-benda antik di rumah. Mulai dari kaca, perabotan rumah tangga dan sebagainya, aku tidak pernah bertanya apapun soal hobi ibuku itu padahal aku sangat kesal. Karena ibu sering menghabiskan uang nya untuk hal-hal yang nantinya jadi sampah dan hanya memenuhi perabotan di rumah.

Seperti lemari usang dari kayu jati yang ibu taruh di kamarku. Awalnya aku sangat marah ketika ibu menyimpan lemari itu dikamarku, karena lemari itu membuat kamarku menjadi sempit. Tapi bagaimana lagi, ibu memaksaku dan kata ibu biar kamarku lebih terlihat artistik. Ya sudah, aku tidak bisa melawan, mungkin ibu ingin rumahnya sedikit bertema walaupun lemari itu sudah usang dan benar saja benda-benda yang ada di dalam rumahku menyimpan banyak cerita.

Termasuk lemari besar yang berada di kamarku. Di rumah yang menurutku cukup besar, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah dan ibuku. Kamarku terletak di ujung rumah berdekatan dengan taman, aku yang memilih kamar itu biar ada sedikit udara dan bebas kalo aku pulang malam, aku bisa masuk jalan belakang. Di rumahku yang besar, kamarku paling kecil tapi cukup untuk aku sendiri atau kalo aku mengundang teman-temanku, kami bisa tidur berhimpitan.

Hingga suatu malam, cerita lemari besar yang berada di kamarku terkuak juga. Malam itu aku belum tidur, tanganku masih bergerak tidak beraturan menekan tombol-tombol yang berada di laptopku. Tugas kuliahku cukup banyak, jadi terpaksa aku memutar otak dan membiarkan mataku terus terbelalak. Aku sempat keluar kamar untuk mengambil segelas air putih, ketika aku lihat ruang tengah sudah gelap.

Aku berjalan menyusuri lorong gelap menuju dapur, dan seperti ada yang bernafas di punggungku. Bulu kuduk mulai berdiri, membuatku mulai bergidik dan dengan cepat aku menyambar gelas minum yang berada di atas meja. Aku langsung berlari ke kamar, tapi ketika beberapa langkah lagi menuju pintu kamar. “Loh, kok pintu kamarku tertutup rapat” bukan nya pas aku keluar barusan pintunya aku biarkan terbuka.

Perasaanku mulai tidak enak, aku perlahan mendekati pintu kamar. Tanganku memegang gagang pintu kamar dan perlahan mulai membukanya. Sangat gelap, siapa yang matikan lampu kamar dan astaga tiba-tiba pintu lemari terbanting dan menutup sendiri. Aku menyalakan saklar lampu kamar, semuanya tampak rapih, masih ramah dan lemari tua itu nampak tertutup. Aku memperhatikan lemari itu, dan tidak ada apa-apa.

Aku kembali duduk dan mulai mengerjakan tugas lagi, entah kenapa tiba-tiba kamarku menjadi dingin dan aku mulai merasakan ke aneh an. Aku melihat kanan kiri sambil ketakutan, dan dalam suasana itu tiba-tiba, samar-samar aku mendengar.

loading...

“Satu, sudah tidur… dua, sudah tidur… tiga, belum tidur…”

Hah, pintu lemari terbuka dan aku sontak langsung melihat ke arah lemari. Astaga sesosok menyeramkan dengan gerakan kaku keluar dari lemari itu. Sesosok wanita tua dengan kulit keriput dengan rambut putih panjang sampai ke lantai, di tambah muka yang pucat serta bola mata yang hampir keluar, dia bergerak menghampiriku sambil menjulurkan tangan nya.

Aku tidak bisa bergerak, tangan putih pucat keriput itu kini sudah menggenggam tanganku. Aku tidak bisa apa-apa, badanku gemetar dan aku sangat ketakutan. Sosok itu seperti menarik aku ke dalam lemari, aku tidak bisa berteriak dan aku hanya bisa menangis sambil membaca doa-doa yang aku hapal. Astaga, dia terus menarik tanganku hingga aku terjatuh dari kursi.

Setelah itu aku lupa apa yang terjadi, aku tidak tahu sama sekali. Sampai, aku mendengar suara ibu memanggilku. Aku membuka mata dan astaga, “ibu tolong, aku dalam lemari bu” aku mendengar ibuku berlari dan berusaha membuka lemari. Aku juga mendengar suara ayahku yang memukul-mukul pintu lemari. Aku ketakutan, pintu lemari terbuka dan ibu langsung memeluk aku.

Ibu terus bertanya, ada apa denganku dan kemudian ibu memapahku dan mendudukanku dikursi. Ibu memeluk aku dan aku mulai menceritakan apa yang terjadi, ibu dan ayahku hanya terdiam. Mereka bilang kalo mereka akan memindahkan lemari itu. Seminggu kemudian, orangtuaku memindahkan lemari itu. Dan ibu berjanji kalo dia tidak akan membeli barang-barang antik lagi.

Karena setelah kejadian itu, aku sangat trauma setiap melihat barang-barang antik dirumah. Ibu lalu mulai menjual satu persatu barang antik yang ada dirumah dan menggantinya dengan furniture yang baru.

Share This: