Lukisan Wanita Berkebaya

Beberapa hari yang lalu aku mendengar cerita tentang sebuah lukisan wanita berkebaya yang ada di salah satu penginapan di kota Jakarta. Hal tersebut membuatku ingin bercerita sebuah kejadian yang aku juga alami, saat sedang menginap di suatu penginapan di kota ini. Namaku Vina, kejadian ini aku alami saat aku sedang dinas di kota ini. Aku harus menemani atasanku saat meeting dengan klien di daerah Jakarta Utara.

Karena meetingnya pagi sekali, atasanku dan beberapa orang bawahannya menginap di penginapan yang berada dekat dengan lokasi meeting, sebenarnya kami dijadwalkan untuk tiba sore hari di jakarta. Akan tetapi karena suatu hal, kami tiba di penginapan pada sore hari. Tempat penginapan ini bukanlah tempat dengan kesan menyeramkan malah tempat penginapan ini cukup mewah dan bergaya modern. Karena besok hari harus pergi pagi hari, kami semua masuk ke dalam kamar masing-masing.

loading...

Rekan kerjaku yang lain sedang berbagi kamar, dan karena aku satu-satunya wanita. Aku diberikan kamar sendiri. Kami berpisah di koridor lantai yang sama, kamar kami berdekatan satu sama lain. Aku langsung masuk kekamar dan menaruh barang-barang. Aku melihat sekeliling kamar, perabotannya bagus dan lengkap. Dindingnya banyak lukisan, dan aku berjalan ke lukisan itu terlihat sebuah lukisan wanita yang sedang membawa padi dengan pemandangan sawah dibelakangnya.

Entah kenapa, ada sesuatu tertarik dengan lukisan wanita itu. Karena sangat tertarik, tanpa sadar jarak aku dengan lukisan itu tinggal sejengkal lagi sampai menyentuh lukisan wanita berkebaya itu. Aku langsung mundur ke belakang lalu terdiam. Aku membalikan badan karena aku merasakan sesuatu yang aneh, aku merasa seperti diawasi oleh lukisan itu. Ada aura ganjil yang terasa dari lukisan itu, tiba-tiba aku merasa ketakutan mungkin suasana penginapan inilah yang membuatku takut.

Maka aku menyalakan televisi biar agak sedikit ramai. Kemudian aku baru ingat, aku belum mandi. Aku pergi ke kamar mandi dan segera menyalakan shower. Setelah selesai mandi dan ganti pakaian, aku tiduran sambil bbm an dengan pacarku. Entah berapa lama kemudian aku pun terlelap. Tiba-tiba aduh, ini kenapa kasurnya goyang-goyang, Gempa. Aku menggedor-gedor kamar rekan kerjaku di sebelah dengan panik.

“Mas heru, mas surya ada gempa”. Mas heru membuka pintu kamar dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menanyakan padanya kalo barusan ada gempa besar, dia kaget kalo dari tadi dia menonton tv dan tidak merasakan apa-apa lalu dia berkata mungkin tadi hanya perasaanku saja. Aku sangat yakin kalo tadi itu adalah gempa, aku pun menceritakan kalo tadi aku sampai terbangun karena merasakan ranjangku bergoyang oleh gempa.

Mas surya, datang dari kamar dengan raut muka kusut dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah menceritakan apa yang tadi aku alami, dia terlihat bingung. Dia tidak merasakan apa-apa, dan katanya dia tidak akan terbangun kalo aku tidak menggedor pintu. Lagi pula menurut mas surya kalo memang ada gempa pasti semua orang sudah berlari keluar dan berada di koridor tapi nyatanya koridor didepan kamar kami kosong melompong.

Aku pun tersadar, aku merasa malu dan tidak enak kepada mereka. Aku meminta maaf dan kembali ke kamar tapi aku masih penasaran jadi tadi yang aku alami itu apa. Aku pun memeriksa ranjangku, namun ranjang itu terlihat kuat dan baik-baik saja. Aku menyerah dan memutuskan apa yang tadi aku alami adalah mimpi.

Aku melihat jam dinding sudah hampir jam 2 pagi, gawat bisa-bisa besok telat bangun. Aku kembali ke ranjang dan mencoba tidur lagi. “Tok, tok, tok” Aduh, padahal aku hampir tertidur. Aku jadi kembali terjaga, karena terdengar suara ketukan dan muncul sebuah suara perempuan.

“Permisi”.

Perasaan aku tidak ada urusan dengan siapa-siapa jam segini, aku pun meyakinkan diri kalo suara ketukan itu berasal dari pintu sebelah. Namun, baiklah aku memberanikan diri untuk berjalan ke pintu. Aku tidak langsung membuka kamar, melainkan mengintip dulu dari lubang pintu. Kudekatkan mataku dan berharap yang kulihat bukanlah sesuatu yang aneh-aneh.

Tapi ternyata yang kulihat tidak ada siapa-siapa, namun begitu aku melangkahkan kakiku menjauh dari pintu. Suara ketukan dan suara wanita itu terdengar lagi.

“Permisi”.

Suaranya semakin keras, itu siapa sih. Aku perlahan menggerakan badanku ke arah pintu, aku melangkah kembali ke pintu tapi kali ini aku langsung membukanya. Di hadapanku berdiri seorang wanita setengah baya, memakai baju kebaya hijau dan bawahannya kain batik. Muka wanita itu pucat tanpa ekspresi, yang aneh dia memakai topi dari jerami dengan tali menjuntai dibawah lehernya. Entah bagaimana aku pernah melihat sosok wanita ini disuatu tempat.

“Maaf mau ikut masuk”.

Aku terdiam sambil menganga sekaligus kaget, siapa wanita ini. Kenapa dia memakai baju seperti ini dihotel mewah terus kenapa dia mau masuk ke kamarku. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya mematung di pintu tapi tiba-tiba wanita itu mendekat ke arahku.

“Maaf mau ikut masuk”.

Dan dia melayang menembus badanku, sontak bulu kuduk langsung merinding dan langsung terduduk dilantai. Aku tidak berani melihat kedalam kamarku. Aku merangkak ke kamar mas heru dan mas surya, aku kembali mengetuk kamar mereka dengan keras. Mas heru dan mas surya membuka pintu dengan kesal, tapi melihat wajahku yang pucat mereka langsung berubah sikap. Aku menceritakan apa yang aku lihat, dan minta ditemani datang ke kamarku saat kami bertiga masuk kekamar.

Ruangan itu kosong dan tidak ada apa-apa, mas heru dan mas surya aku minta untuk tinggal dikamarku sampai aku tertidur. Didalam mimpi aku didatangi lagi oleh sosok wanita berkebaya itu, tapi sosok wanita itu hanya tersenyum. Saat pagi hari tiba, mas heru dan mas surya sudah kembali kekamarnya entah sejak kapan.

Aku lalu berjalan menuju jendela kamar untuk membiarkan sinar matahari masuk, sinar matahari masuk tepat ke arah lukisan yang menempel di dinding. Perhatianku langsung terpusat menuju lukisan wanita berkebaya itu, dan seluruh badanku langsung terasa lemas. Aku baru sadar, sosok wanita berkebaya yang aku lihat adalah sosok wanita yang berada didalam lukisan itu.

Share This: