Maafkan Aku, Kawan dan Jangan Ganggu Aku!

Assalamualaikum buat sahabat KCH. Perkenalkan Namaku Muhammad Fardiansyah atau dipanggil Fasya Raffasya. Aku ingin berbagi kisah tentang pengalamanku bertemu dengan temanku yang sudah meninggal. Ini ceritaku yang ke-3 kalinya. Cerita ini sudah lama terjadi 2009 sebelum aku pindah ke Malaysia. Kita langsung saja mulai ceritanya.

Pada awal 2009, aku melaksanakan perintah agama yaitu khitan/sunat. Khitan/sunat diwajibkan bagi agama Islam dan agama Yahudi. Waktu itu aku mempunyai sahabat dekat yang bernama Mohammad Lubis. Saking dekatnya aku dan dia tidak ada yang dapat memisahkan persahabatan kita kecuali kematian. Sehari sebelum sunatan, aku menceritakan bahwa aku akan sunat. Dia hanya tertawa dan mengatakan sakitnya seperti digigit harimau.

loading...

Aku hanya membalas leluconnya dengan senyum datar. Tiba-tiba, kulihat dia menggigil. Aku pegang dahinya, “auww, kok panas.” Dia kemudian menceritakan bahwa dia sedang demam. Aku pun mengantar dia pulang ke rumahnya, “Mudah-mudahan cepat sembuh!” kataku. Setelah mengantarnya pulang ke rumahnya, ia berterima kasih kepadaku. Aku kembali ke rumahku bergegas meninggalkan rumah Lubis. Sesampai dirumah aku bergegas mandi kemudian berwudhu untuk sholat Maghrib.

Setelah sholat maghrib, aku mengecek pesan di account Facebook. Kuarahkan mataku ke pesan yang baru saja dikirim Lubis, “di, bisakah kamu ikut mengantar saya ke dokter?” tanya nya. “Bo.. boleh, Mudah-mudahan cepat sembuh ya!” Aku membalas pesannya. Aku kemudian meminta izin kepada ibuku untuk ikut mengantar Lubis ke dokter. Ibu pun membolehkan aku mengantar Lubis ke dokter. Ia pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R.D. Kandou karena demamnya bertambah parah sejak sore tadi. Mungkin sampai disini persahabatan kita karena esoknya ia sudah tiada.

Esoknya, aku tidak mengetahui kabarnya. Hanya di setiap sujud terakhir, Aku berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan sahabatku itu. Siangnya, aku sibuk mempersiapkan diri untuk sebentar malam nanti kerana sebentar malam nanti aku akan disunat makanya perlu persiapan yang matang. Waktu mengambil nomor antri, aku berada di nomor 22. lama juga bagi orang yang gak sabaran. Saat sedang menunggu giliranku untuk disunat, aku mengirim pesan ke account facebook miliknya. “Gimana kabarmu? apa sudah stabil atau belum? Mudah-Mudahan cepat sembuh!”.

Aku menunggu balasan dari accountnya namun sampai setelah giliranku, dia tetap tidak membalasnya. Aku mulai khawatir dan berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan cepat sembuh dan dikaruniakan umur yang panjang. Setelah sampai dirumah, aku membuka facebook kembali dan melirik pesan yang kukirim sebelum giliranku disunat tadi. Alhasil, pesanku sudah dia balas. “Amin, Aku baik-baik saja. Aku akan tenang disana.” aku hanya menggelengkan kepala dan tidak mengerti mengapa dia mengucapkan kata-kata ini. Aku menutup facebook ku dan beranjak tidur masih dengan kain sarung yang membalutku ketika disunat.

Aku terbangun, segera ku mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Siangnya ketik aku sedang santai tidur di sofa, aku melihat iringan jenazah lewat didepanku dan bertanya kepada adik ku, si.. siapa yang meninggal? Adikku bilang yang meninggal adalah Lubis, Teman dekatku. Hanya air mata yang aku cucurkan. Aku kembali bertanya, kapan dan dimana dia meninggal? namun adikku tidak menjawabnya, dia langsung bergabung dengan barisan pengiring jenazah bersama teman-temanku.

Sebulan setelah kematiannya, aku sering merasakan dia menggangguku dan mulai saat itu dia menggangguku. Ketika aku mandi tiba-tiba, lampu kamar mandi mati dan aku menyalakan kembali lampu kamar mandi dan melihat tidak ada seorang pun di sekelilingku. Tiba-tiba, lampu kamar mandi padam kembali dan ada sosok yang menggantung dan menghembuskan nafas di bokongku sambil berkata, kenapa kamu tidak mengantarkan aku ke pemakamanku, mendoakanku dan menghibur keluargaku?.

Aku pun menangis sekeras-kerasnya, tidak tahu harus berbuat apa dan jatuh tak sadarkan diri. “Astaghfirullah, ma lihat ma!” Saudaraku menemukanku jatuh tak sadarkan diri dan membawaku ke kasur. Saudara-saudaraku dan teman-temanku berkumpul mengelilingiku. Aku lihat Lubis di sebelah kiriku sambil memegang kepalaku, aku mencoba memberontak namun ia tidak melepaskanku. Salah satu saudaraku membaca doa diikuti saudaraku yang lain dan kulihat Lubis melepaskan cengkeramannya dariku.

Setelah merasa tenang aku tertidur dan bermimpi Lubis mengucapkan kata-kata tadi. Aku terbangun sambil menangis kecil membayangkan wajah Lubis. Kemudian saudaraku menenangkanku, aku tertidur kembali dan kembali bermimpi Lubis memegang kepalaku dan mengucapkan kata-kata tadi juga membawa darah yang mendidih untuk disiram kepadaku. Aku terbangun kembali dan menangis histeris. Kulihat jarum jam tepat pada pukul 01.33 waktu setempat.

Ibuku dan Saudara-saudaraku berusaha menenangkanku. Ku lihat kembali Lubis memegang kepalaku dan aku mulai memberontak. Semakin keras pemberontakan yang kulakukan semakin keras juga cengkeramannya. Aku meminta tolong kepadanya untuk melepaskan cengkeramannya dariku. Akhirnya aku tenang kembali dan menangis kecil sambil berucap, “Maafkan Aku, Kawan dan Jangan Ganggu Aku! Mudah-mudahan engkau tenang di alam sana!” kataku. Aku pun mengajak saudara-saudaraku dan teman-temanku berziarah ke makam Lubis. MALAM ITU JUGA!!.

Share This: