Maafkan Aku Mas Gen

Assalamualaikum reader KCH. Ketemu lagi sama mawar. Aku mau cerita tentang pengalamanku di taksir hantu tukang ojek muda. Jadi begini ceritanya, 6 tahun yang lalu, tetanggaku sebut saja namanya Gen. Gen ini tukang ojek, usianya kira-kira 24-25 tahun. Dia suka banget sama aku, sampai bilang mau tunggu aku sampai lulus sekolah, padahal aku masih kelas 1 SMP.

Setiap hari dia main ke rumahku dengan alasan ingin ngopi bareng abangku, atau alasan-alasan lain yang sering bikin muak. Setiap kali dia datang ke rumah, dia selalu nyetel lagunya mulan jameela yang judulnya “cinta mati 3”. Dia juga suka datang malam hari kalau lagi mati lampu. Setiap kali dia datang malam hari dia pasti menyorotkan cahaya ponselnya ke kaca jendela rumahku, dan tak ketinggalan lagunya mulan jameela yang selalu di setel.

Setiap kali aku mendengar lagu itu, aku bisa tahu kalau ada Gen di sekitar rumahku. Hari terus berjalan, hingga tak terasa aku sudah naik kelas 2 SMP. suatu hari saat aku pulang sekolah jalan kaki, aku bertemu dia sedang nongkrong di depan gedung minton, lalu dia menemaniku jalan. Lalu dia bertanya padaku.

Gen : mawar? Kamu mau gak jadi istri aku?
Aku : ogah! (Sambil jutek).
Gen : benar? Gak ada lagi loh cowok yang cinta sama kamu seperti aku mencintai kamu.
Aku : hoh! Dalam mimpi kamu!

Lalu aku lari sekencang-kencangnya. Lalu suatu malam, tepatnya habis maghrib. Dia minta aku temeni dia ke desa yang jaraknya agak jauh dari rumahku. Awalnya aku tolak karena takut itu cuma modus. Tapi adiku tiba-tiba bilang mau ikut asal pulangnya harus beli eskrim. Akhirnya aku ikut temeni dia. Sampai pulang jam 9 malam, kami membeli mie instan untuk di masak di rumah.

Sampai di rumah ibuku memasak mie. Selesai makan mie bersama, Gen bilang kalau besok dia harus ngantarin Tewi (nama samaran) ke terminal. Lalu ibuku berpesan untuk hati-hati. Tapi entah mengapa aku melihat wajahnya seperti bimbang. Entah apa yang dia pikirkan. Lalu dia bilang padaku “kamu jangan cemburu ya aku boncengin si tewi”. Aku tak meresponnya, hanya memperhatikannya. Entah kenapa saat aku melihatnya tertawa, hatiku serasa di remas, berasa sedih. Seakan itu tertawanya yang terakhir.

Keesokannya, saat aku baru sampai di rumah sepulang sekolah, Gen datang ke rumah untuk pamit padaku dan ibuku. Entah kenapa aku merasa sedih melihat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya aku ramah padanya dan mencium tangannya. Lalu saat jam 4 sore, aku mendengar kabar bahwa Gen kecelakaan. Motor yang di tumpanginya di tabrak truk dari arah belakang hingga Gen terpental jauh sampai kepalanya membentur trotoar.

Ya Allah, mungkinkah perasaan aku ini adalah firasat? Keesokannya, saat aku dan para tetangga akan menjenguknya di rumah sakit, salah satu keluarga Gen meneleponku mengabarkan bahwa Gen sudah tidak ada, dan aku di minta memberi tahu pak ustad untuk mempersiapkan pemakaman. Lalu saat jenazah sampai di rumah duka sebelum maghrib, saudara Gen yang meneleponku tadi menyampaikan wasiat terakhirnya, bahwa dia ingin aku melihatnya untuk yang terakhir kalinya.

Dan untuk pertama kalinya aku menangis untuknya di depan jenazahnya. Aku melihat luka yang begitu parah. Wajahnya rusak sebelah karena bergesekan dengan aspal sebelum membentur trotoar. Kepalanya luka. Aku tak sanggup melihatnya. Lalu jenazah di mandikan, dan di kubur malam itu juga. Keesokannya saat aku tidur siang, aku bermimpi melihat Gen tersenyum padaku, tapi entah dimana itu, hanya ada ruang gelap, dan hanya Gen yang aku lihat.

Lambat laun Gen semakin jauh, dan akhirnya hilang. Aku langsung terbangun dan berlari keluar rumah. Lalu di malam ke 7 hari setelah Gen meninggal, di desaku mati lampu. Seperti biasa, aku duduk di dekat jendela sambil bercerita dengan adik dan ibuku. Lalu sayup-sayup aku mendengar lagu “cinta mati 3” mulan jameela. Aku tak ingat kalau Gen sudah meninggal, lalu tanpa berpikir aku berkata “tuh lagunya mulan jameela, pasti mas Gen mau kesini” tiba-tiba adikku langsung memeluk ibuku.

Astaghfirulloh Aku baru ingat, bahwa dia sudah gak ada. Lalu saat aku menengok ke jendela, samar-samar terlihat cahaya sepertinya dari ponsel. Aku langsung menjerit, dan memeluk ibuku. Sungguh aku takut sekali. Lalu ibuku bilang untuk meng-khadorohinya fatikhah. Kami pun membaca surat Al-fatihah untuk Gen. Dan di beberapa malam sebelum 40 hari meninggalnya Gen, jika aku duduk di dekat jendela atau saat mati lampu malam hari, aku masih sering melihat cahaya seperti dari ponsel.

Namun aku sudah tak takut lagi, mungkin dia hanya ingin menengokku. Dan semakin hari, banyak tetangga yang bilang mereka melihat sosok Gen di tempat-tempat biasa dia nongkrong sambil ngopi. Tapi alhamdulillah setelah 40 hari tidak ada lagi warga yang bilang di takuti atau melihatnya lagi. Sudah dulu ya para pembaca, maaf kalau tidak seram. Tapi ini benaran loh, aku alami sendiri. Wassalammualaiku, wr, wb.mm

loading...