Main Petak Umpet Lucu Tapi Horor Part 2

Cerita sebelumnya main petak umpet lucu tapi horor. Kacang pendek, yang pendek jaga. Kacang panjang, yang panjang jaga. Begitulah ritual untuk menentukan siapa yang menang dan kalah 1 per 1. Karena di ujung kalimat di bolak-balik dan di baca cepat. Akhirnya banyak yang grogi untuk menentukan tangan yang mana yang harus di tunjukan, tangan di panjangkan atau di tekuk ke bahu sesuai lantunan itu.

loading...

Di iringi suara canda tawa ria setiap ada yang salah tangan, atau sebagian salah dan benar. Jika yang salah lebih dari 4 orang, maka yang salah akan mengulanginya dengan cara hom-pim-pah. Akhirnya selesai sudah, yang berjaga adalah desta, arif, fian dan ahmad. Mereka terkenal jeli penglihatan dalam gelap, terutama ahmad. Sehingga sebisa mungkin kita harus bersembunyi tanpa di ketahuinya.

1, 2, 3, 4-20 suara dari mereka yang berjaga sudah memulai permainan. Sontak yang lain pada kabur untuk bersembunyi. Julaiha, hana dan hayah entah lari kemana. Aku, saroh, eka, wati, dan fitri lari bersama menuju arah belakang rumah david. Dan berlari menyusuri pekarangan kosong yang angker, dan dulu saya pernah di hantui di pekarangan ini.

Wati: “tungguin sih, larinya jangan ngebut-ngebut, pokoknya saya jangan sampai di tinggalin”. (Maklumlah wati kan paling penakut di antara kami, *hehe).
Saroh: “tenang sih wat, gak bakalan tak tinggal, pegang nih tanganku”. (Sambil menggandeng tangan wati dalam gelap).

Lalu tiba-tiba, sandalku terlepas sebelah, alhasil aku meraba-raba ke tanah dalam gelap (macam nenek-nenek mencari tongkat jatuh, *hehe).
Aku: “eh tungguin dong, sandalku ketinggalan sebelah nih!” (Teriakku pada mereka, sambil cemas).
Sepertinya mereka tidak peduli dan malah meninggalkanku sendirian di pekarangan kosong ini. Ah, ada saja nih sandal pakai lepas segala seperti cerita cinderlela saja, *hehe (gerutuku dalam hati). Sambil tangan meraba-raba tanah, namun mata melihat ke atas, karena gelap. Lalu terdengar suara para penjaga menemukan salah satu peserta.

Aku: “waduh, gawat, mana nih sandalku. Aku tidak mau ketahuan”. (Gumamku dalam hati). Sempat takut salah pegang, alias takut kena kotoran kerbau. Karena pekarangan kosong ini tidak jauh dari kandang kerbau tempat david. (Kan gak lucu kalau sampai pegang itu roti kerbau hitam) *hehe. Tidak berapa menit kemudian, akhirnya ketemu deh itu sendal, lalu melanjutkan lari.

Setelah sampai di depan rumah mbah minem yang belum ada penerangan listriknya. Ku kira teman-temanku pada sembunyi di balik bunga pekarangan depan rumah mbah minem, yang sepertinya ada gerakan daun bergoyang. Tanpa pikir panjang, aku pun menuju bunga itu lalu mengambil posisi jongkok, sambil berkata.

Aku: “huh, asyem kalian ya, suruh nungguin malah pada ninggalin aku, untung aku cepat nyusul”. (Sambil ngomel-ngomel tak jelas, *hehe). Tapi tidak ada jawaban dari teman-temanku, sontak aku terkejut. Ku lihat ke arah kananku.
Aku: “what! Tidak ada siapapun, jadi dari tadi aku ngomel sendiri!” (dalam hati). Sempat panik, karena ternyata aku bicara sendiri, *hehe. Terus yang ku lihat tadi ada yang sembunyi disini siapa? Belum hilang rasa heran. Tapi ketika aku mau pindah tempat,tiba-tiba ada ahmad si penjaga datang.
Ahmad: “woi, itu di belakang rumah mbah minem, eka dan fitri, kena kau, saroh wati juga”. (Sambil berlari mengejar mereka).

Aku hanya diam di tempat, tidak peduli barusan yang terjadi, terus mereka berempat keluar dari persembunyian. Dan ahmad pergi mencari peserta yang lain.
Aku: “lho, sudah ada 4 orang yang kena, ah keluar dari sembunyianlah, dari pada aku di tinggal sendiri”. (Pikirku dalam hati, sambil keluar dari sembunyian).
Eka: “lho wi, kamu kemana saja? Kok malah menghilang, kirain sudah kena lu. (Sambil cengengesan menghampiriku).
Aku: “heh, enak saja, kalian di suruh nungguin aku malah main ninggalin, gak pada setia kawan lu pada. (jawabku sedikit kesal, maklum karena takut, *hehe).

Eka: “sory cuy, kita pikir you sudah nyamperin kami, jadi dari pada ketahuan ya kami nungguin sambil lari, tapi pelan-pelan kok. (Sembari merayu, supaya aku tidak marah).
Aku: “ya, ya, ku maafin, eh tapi ku kira kalian sembunyi disini, lha dari tadi aku ngomong ternyata gak ada jawaban”. (Sambil nyengir malu, *hehe).
Saroh: “enggak tuh, kita orang pada sembunyi di belakang”. (Sambil menunjuk tempatnya).

Eka: “*haha kasihan deh lho, ngomong sendirian, jangan-jangan ngomong sama?” (Sambil meledek menakut-nakutiku).
Fitri: “eh, kok kayaknya namamu belum di panggil, kamu sudah kena belum sih?” (Dengan nada heran padaku, mengalihkan).
Aku: “belum, *hehe”.
Saroh: “lho, belum kok malah keluar, sana sembunyi lagi!” (Sambil memegang bahuku).

Eka: “iya sono-sono sembunyi, woi kak ahmad. Dwi disini!” (Sambil teriak dan mendorongku untuk sembunyi).
Aku: “*ogah ah, nanti malah di tinggal kalian lagi, lagian kan sudah 4 orang yang kena”. (Sambil tersenyum menang).
Fitri: “waduh iya, aku pula yang di panggil pertama. (Sambil pasang muka sedih dan cemas).

Eka: “wah iya. Aku juga”. (sambil menyesal)
aku: “eh kayaknya bukan kalian deh, tadi aku dengar sudah ada yang duluan kena”. (Sambil menghibur yang lain).
Lalu mereka lega sembari berjalan menuju markas penjaga. Setelah sampai di markas, salah 1 peserta ada yang geger alias ketakutan. Bersambung ke main petak umpet lucu tapi horor part 3.