Main Petak Umpet Lucu Tapi Horor

Assalamualaikum KCH, dan selamat pagi kak john, semoga sukses selalu. Kali ini dwi akan menghibur kalian, karena dwi juga sedang bosan dengan cerita horor biasa tapi kurang seram, *hehe. Cerita ini nyata namun lucu bagi kami yang menjalaninya. Kisah Aku dan 15 teman di area kampungku (laki-laki dan perempuan) seakan kompak untuk bermain.

Permainan ini di lakukan pada malam hari, kata orang sih di larang bermain permainan ini jika malam, tapi kami tidak menghiraukan itu. Ya namanya anak-anak dan masih nakal-nakalnya, *hehe. Oke mulai cerita ya. Sore itu selepas pulang mengaji, tiba-tiba. Desta “woi, nanti malam main petak umpet yo, yang gak datang cemen (penakut), besok sekolah tak jitak (pukul kepala). Sambil berlalu untuk pulang.

Sontak kami para cewek kaget,dan bergumam. Lalu tiba-tiba. Nasikin “oke, siapa takut, yang jaga ngendok (kalah) ojo nangis (jangan nangis) *haha, cewek juga harus ikut”. Desta “iya, biar lebih seru, kumpul habis isya ya, ojo lali (jangan lupa). Suara mereka dari jauh, yang lain hanya cengangas-cengingis (meringis), seolah setuju dan tidak setuju. Kami para cewek pun berdiskusi. Hana “aku ikutanlah, lagian bosan juga di rumah, nanti aku samperin juga kamu roh?!”. Saroh “ya ayo lho. Siapa takut, kamu wi, ka, fit, wat?”

“Huh seenak saja nih saroh, manggil nama cuma ujungnya doang, berasa gak enak di dengar, jika di bolak-balik dan di satukan berasa aneh, *hehe” gumam ku dalam hati. Lalu bersamaan menjawab. Aku, eka, fitri, wati “iya?!”. Malam pun tiba, sesuai dengan perjanjian, selesai sholat isya. Para laki-laki pada ngasih isyarat alias kode mata dan gerak tubuh. Tanda lekas kabur sebelum selesai bacaan wirid.

Kami perempuan hanya melirik dan mengernyitkan dahi (tanda heran), *hehe. Lalu hana, memberi kode alis di gerak-gerakan ke atas dan bawah pada kami para cewek (maklum alisnya kan tebal bergaris lurus, tapi cantik) *hehe. menandakan bertanya persetujuan dari kami. Kami mengangguk lalu cabut alias ikutan kabur.(maklum, belum pintar bikin bahasa tubuh) *hehe.

Di perjalana pulang, alias akan menuju tempat perjanjian. Sembari bercakap-cakap menghilangkan suasana hening. Hana “eh, aku pulang dulu ya, taruh mukena (alat shalat), soalnya risih kalau bawa-bawa barang”. (maklumlah cewek malas ribet alias rempong). Eka “aku juga *cuy, mau pulang dulu. Rumahku kan lebih dekat, *hehe” (sambil nyengir senang).

Saroh “aku jugalah, nanti aku di samper ya mba hana?” (dengan wajah memelas pada hana). Fitri “aku pulang jugalah, malas bawa-bawa mukena!”. Aku “saya enggak pulanglah, nanti kalau pulang dulu malah gak di bolehin pergi lagi, apalagi pergi main, nanti di marah sama babe (bapak)”. (sambil memasang wajah sedih). Eka “*haha, kasihan deh lho wi, makanya punya bapak, jangan galak-galak *haha”. (ledek eka, sembari ketawa senang). Ya mau gimana lagi, memangnya ada penukaran orang tua? *hehe.

Wati “wah, kalau gitu aku juga enggak pulanglah, daripada gak ada temannya, *hehe” (sambil nyengir, maklum dia kan penakut. Dan rumahnya searah denganku, tapi lebih jauh wati, *hihi). Hana “ya sudah aku dan saroh pulang duluan, kalian berdua ke rumah eka dan fitri” (sambil berjalan cepat). Aku, eka, fitri dan wati “oke, jangan lama-lama”. (sambil menuju rumah eka dengan santai). Eka “woi, jangan pakai putri solo ya?” (ejek eka sambil cengengesan/ketawa meledek).

loading...

Kami berempat menuju rumah eka dan rumah fitri, selanjutnya ke arah depan jalan lintas, menuju rumah david dan julaiha. Karena di situlah tempat yang di janjikan. Tidak lama kemudian, hana dan saroh muncul. Eka “weh, cepat juga kalian. Fitri “iya, akhirnya kita jadi bareng deh”. Hana “ya iyalah memangnya kami keong” (sambil senyum bangga). Akhirnya kami menuju area bersama-sama lagi. Ketika sudah sampai, kami kaget. Ternyata sudah pada kumpul, termasuk hayah (teman cewek juga).

Nasikin “nah itu cewek-cewek sudah pada datang, ayo kita mulai” (sambil memberi aba-aba). Ahmad “halah nanti anas nangis, jaga keong, *huhu wadol (bilang) ke mamaknya” (ledek ahmad ke anas, sambil tertawa dan menirukan gaya nangis anas). Anas “opo we (apa kamu), ya enggaklah, makanya sekarang tempat persembunyiannya jangan jauh-jauh” (pinta anas sambil ngeles).

Nurudin “yowes (oke), batas persembunyiannya sekarang dari wetan (timur) batas lapangan, elor (utara) sampai rumah mbah ikun, kulon (barat) sampai rumah desta, kidul (selatan) jangan lewatin jalan aspal ini. Pokoknya yang melanggar peraturan harus jaga” (sambil mengeraskan suara menjelaskan panjang lebar). Lalu yang lain “oke setuju!?”.

Desta “ya sudah, karena malam ini pesertanya lebih banyak, jadi yang berjaga 4 orang. Gimana? Setuju gak?” (sambil mengangkat tangan, dengan nada seperti pak kepala desa (kades) sedang pidato, *hehe). Nasikin “setuju, jaga pertama hasil undian, yang jaga selanjutnya hasil siapa dulu yang tertangkap, setuju gak cah?” (sambil ketawa menuju arah cewek berkumpul). Lalu yang lain “oke setuju!”.

Akhirnya setelah kompak, kami semua melanjutkan acara undian kacang panjang (semacam hom-pim-pah) ala desa kami, karena pesertanya lebih dari 10 orang. Semua peserta menyanyikan ritual atau lagu kacang panjang. Para peserta “kacang panjang, yang panjang jaga!”. Bersambung ke main petak umpet lucu tapi horor part 2.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya… :D
by:
penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts

Please vote Main Petak Umpet Lucu Tapi Horor
Main Petak Umpet Lucu Tapi Horor
Rate this post