Makeup Jenazah

Berwajah cantik lalu mandiri dan serta ramah itulah modal yang aku punya sebagai seorang makeup artis dan biayaku juga tidak terlalu mahal. Makanya tidak heran, kalo aku seorang makeup artis yang terkenal di kota Bandung ini. Aku bekerja tidak sendirian, aku ditemani seorang guide ku yang sering aku panggil dengan Mar.

“Halo mar”.
“ada job nih laura. Gue gak bisa ikutan soalnya sekarang gue lagi di jakarta”.
“Oke mar, gue tunggu ya”.

Begitulah kira-kira temanku, siang itu ketika aku sedang mandi. Aku mendengar suara dari telepon genggamku berbunyi. Aku sudah tau kalo itu SMS dari mar, aku tidak terburu-buru menyelesaikan mandiku. Tapi perasaanku mendadak tidak enak seperti ada sesuatu, aku mematikan shower dan keluar dari pintu kamar mandi. Lalu membaca sms dan benar ini sms dari mar, ketika inbox didalam pesan aku buka terlihat sebuah nomor telepon.

Aku mendial nomor telepon nya dan setelah beberapa kali telepon tidak ada jawaban. Akhirnya aku mengirimkan sms. “Mba, saya Laura teman margareth apa benar ada job make up untuk saya?” lalu aku klik send dan aku taruh telepon genggam di atas kasur, dan belum berapa detik aku menaruh handphoneku tiba-tiba ada sebuah sms masuk lalu kubaca isi sms nya.

Terlihat isi pesan itu, sekarang dan di komplek dago resort. Aku kembali membalas pesan itu “Oke, saya kesana sekarang”. Singkat cerita, setelah bertanya kepada seorang satpam di komplek dago resort itu. Akhirnya aku sampai di sebuah rumah besar dan ramai. Entah sedang ada pesta atau bukan, di halaman itu banyak sekali mobil terparkir dan lalu lalang manusia.

loading...

Tapi, semua orang yang masuk ke dalam rumah itu seperti berwajah sedih. Aku berjalan memasuki halaman rumah itu sambil membawa make up koper ku dan terdengar sebuah pesan masuk ke handphoneku. “Masuk aja lewat pintu garasi”. Langkahku mengikuti apa yang disebutkan didalam pesan itu, aku masuk ke dalam garasi itu.

Ternyata garasi itu sangat gelap, cahaya yang masuk hanya melewati pintu garasi. Aku berjalan meraba kanan dan kiri dengan sedikit bantuan cahaya dari ponsel aku melangkah pelan memasuki garasi itu. Tiba-tiba saja badanku menabrak sebuah benda yang sangat besar. Perlahan aku arahkan cahaya dari ponselku dan astaga, sebuah peti dengan seorang wanita bermuka pucat didalamnya.

Aku mundur perlahan dan ada yang menepuk pundak ku, aku menoleh ke belakang. Itu wanita didalam peti mati tadi dan “Mba Laura?, saya catherine. Saya yang mengundang mba laura datang kemari dan itu yang didalam peti mati adalah kembaran saya. Dia meninggal satu hari yang lalu, dan dia akan di makamkan hari ini lalu untuk itu saya minta tolong kepada mba untuk mendandani dia, acara akan dimulai sebentar lagi. Ya udah saya tinggalkan mba laura disini ya”.

Dan lampu tiba-tiba saja menyala, aku masih berdiri keheranan. Perempuan di peti mati itu punya kembaran yang masih hidup. Dan kembarannya itu menyuruhku untuk merias saudaranya yang telah meninggal dunia lalu membiarkanku bersamanya didalam garasi. Aku gemetar dan menelan ludah beberapa kali, tapi ini pekerjaanku. Dengan gemetar aku membuka koper make up, aku mengulaskannya pada perempuan didalam peti itu.

Setelah hampir satu jam, ketakutanku pun selesai, aku dengan cepat membereskan peralatan make up dan mengirimkan pesan singkat kepada Catherine. “Mba Cath, saya sudah selesai. Maaf saya langsung pamit karena saya ada urusan lain lagi, untuk biaya jasa bisa dikirim ke rek saya”. Dengan berlari, aku pun menuju ke arah mobil. Langit sore yang mendung disertai hujan rintik gerimis membuat sore itu sangat mencekam. Aku menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, dalam benak aku hanya ingin segera sampai dirumah.

Sekitar jam 7 malam, aku sudah memarkirkan kendaraanku di rumahku. Lampu rumah nampak masih gelap, aku tinggal sendiri dirumah itu. Wajar saja kalo belum ada yang menyalakan lampu, aku masuk dan menyalakan semua lampu dirumah. Rumah dalam keadaan sepi ketika aku masuk, dan koper make up aku taruh diruang tamu sebelah tv. Aku sangat lelah dan lemas, dengan lunglai aku jalan ke kamar atas. Kaki menapaki anak tangga satu persatu, tangga rumahku tidak seperti biasanya.

Seperti panjang dan jauh, setelah beberapa menit aku menapaki tangga di rumah. Aku mendapati kayu besar, kayu besar itu pintu menuju kamarku perlahan ku buka. Seakan beban tubuh aku tumpukan ke daun pintu kamarku, Aku masuk kamar. Dan kamarku masih gelap, aku meraba dinding mencari saklar lampu. Astaga lampu menyala dan ada seorang perempuan sedang duduk di meja riasku.

Dan nampaknya aku mengenal perempuan itu, astaga itu kan perempuan yang di peti mati tadi. Perempuan itu berambut panjang memakai gaun merah, gaun yang dikenakannya di peti mati. Aku berdiri kaku, badanku gemetar dan aku tidak percaya apa yang aku lihat. Kenapa dia bisa ada dikamarku, dia sudah mati. Perempuan itu terus menyisir rambutnya, dan dari mulutnya terdengar degungan-degungan aneh aku terperangah.

Bayangan yang ada di cermin itu sangat menyeramkan, wajahnya pucat dan senyumnya yang menyeringai. Dia menyisir dan menyisir sampai suatu titik dimana dia menarik kepalanya dari lehernya sendiri. Badan dan kepala itu pisah, sekarang dia menaruh kepalanya di atas meja. Kemudian dengan tangannya dia menyisir kepalanya yang tergeletak di meja rias. Lalu perempuan itu mengoleskan sesuatu di bibirnya dan ketika kuperhatikan.

Ternyata dia mengoleskan darah di bibirnya, aku berjalan perlahan mundur dan akhirnya punggungku menyenggol daun pintu. Aku berbalik perlahan membuka pintu dan aku terjatuh di tangga hingga tidak sadarkan diri. Beberapa hari telah berlalu, aku pun bertemu dengan margareth dan menceritakan semua kejadian itu.

Margareth pun terkejut mendengar ceritaku, setelah aku bercerita kepadanya. Margareth mengajak aku melayat ke makam perempuan itu dan mendoakannya. Sejak hari itu banyak pelanggan yang ingin di makeup berdatangan kepadaku, mungkin bisa dibilang hantu perempuan itu membawa keberuntungan kepadaku.

Share This: