Makhluk Bengsi

Makhluk Bengsi merupakan sosok makhluk menakutkan yang tinggal di hutan dan mengincar orang-orang yang masuk ke dalamnya. Bengsi merupakan legenda dari cerita rakyat Tuana Tuha di Kalimantan Timur. Menurut cerita, Bengsi merupakan makhluk jahat yang tinggal di hutan-hutan yang ada di Tuana Tuha. Bengsi konon suka menyelinap di antara pepohonan untuk kemudian menyergap korbannya secara tiba-tiba.

Sosok Bengsi menurut orang-orang yang pernah melihatnya, berwujud perempuan dan membawa seorang bayi yang tali pusarnya masih menempel di rahimnya. Kemunculannya juga sering ditandai dengan tawa cekikikan, atau sebuah jeritan yang melengking tajam. Konon, ketika mengejar orang yang masuk ke dalam hutan, Bengsi akan melemparkan bayinya ke tubuh orang itu. Ketika bayi itu menempel di tubuh korbannya, dia akan mencengkeram dengan erat sehingga Bengsi bisa menarik tali pusar milk bayi itu untuk membawa korbannya lebih dekat.

Setelah mendapatkan korbannya, Bengsi akan mencabik-cabik tubuh korbannya dan mengisap darahnya. Bahkan, ketika hari masih terang, Bengsi suka menampakkan diri kepada orang yang ada dalam hutan. Menurut beberapa cerita, orang-orang yang biasanya merupakan korban makhluk jahat Bengsi, adalah orang­orang yang bernasib sial atau kesannya angkuh seperti menantang atau melanggar pantangan yang ada di daerah tersebut.

Menurut cerita, ketika kamu masuk ke dalam sebuah hutan di daerah Tuana Tuha dan melihat ada tetesan darah di atas dedaunan kering atau tanah, kemungkinan Bengsi ada di sekitar hutan itu. Layaknya wanita yang baru saja melahirkan, Bengsi terus meneteskan darahnya di mana dia berpijak karena tali pusar yang masih menyambung dengan bayi yang selalu dibawanya. Konon, Bengsi sangat malu ketika seseorang tak sengaja melihat tetesan darah itu.

Karena dari cerita-cerita orang zaman dulu, ketika melihat darah yang ada di atas daun-daun kering dalam hutan, tutuplah tetesan darah itu dengan daun-daun. Kalau tidak, maka Bengsi akan muncul di hadapanmu dan melahap dirimu. Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari teror Bengsi yang menghuni hutan-hutan.

loading...

Mitosnya, untuk menghindari amukan Bengsi ketika masuk ke dalam hutan, sebaiknya bawalah korek api. Konon, Bengsi sangat takut dengan api. Ketika melihat ada orang yang sedang membawa api, maka dipercaya Bengsi akan lari menjauh, karena merasa orang itu sedang memakan api. Mitos lainnya mengatakan, lemparlah buah kemiri ketika kamu dikejar oleh Bengsi, maka makhluk jahat itu akan berhenti mengejarmu.

Sebaliknya, dia akan mencari buah kemiri itu dan ketika menemukannya dia akan bermain­main dengannya. Buah kemiri menurut kepercayaan orang-orang di sana, disukai oleh Bengsi karena menyerupai buah zakar laki-laki. Maka, di saat perhatiannya teralihkan, saat itulah kesempatan untuk melarikan diri sejauh mungkin. Ada sebuah kisah yang diceritakan turun-temurun tentang seseorang yang bertemu Bengsi ketika dia mencari kayu rotan di dalam hutan.

Saat masuk jauh ke dalam hutan, tak sengaja dia melihat kucuran darah membekas di daun-daun kering yang ada di tanah. Namun, dia mengabaikan daun-daun yang penuh darah itu. Tak lama kemudian, terdengar suara cekikikan yang melengking. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tiba-tiba muncul sosok wanita menyeramkan yang membawa bayi. Terkejut sekaligus ketakutan dengan penampakan yang dilihatnya, orang itu langsung melarikan diri dari tempat itu.

Di saat yang sama, Bengsi telah melemparkan bayi miliknya ke arah orang tersebut. Beruntung lemparannya mengenai keranjang rotan orang itu. Tarik-menarik pun terjadi setelah itu, tetapi karena tidak kuat lagi menahan, orang itu kemudian melepaskannya. Bengsi yang menarik tali pusar yang tersambung dari rahim hingga bayinya, lantas terpental dan tercebur ke sebuah sungai yang ada di sana. Bersama rotan itu, makhluk jahat beserta bayinya kemudian tenggelam.

Walau begitu, perempuan jahat itu berhasil naik ke permukaan dan berusaha menarik bayinya yang hanyut dari tali pusarnya. Terlambat, bayi itu telah mati tenggelam. Tidak lama kemudian, Bengsi pun ikut mati. Dari cerita sebelumnya, Bengsi akhirnya diketahui bersenyawa dengan bayi yang selalu dibawanya. Bila bayi itu mati, maka Bengsi pun demikian.

Menurut cerita dari orang yang tinggal di Tuana Tuha, Bengsi merupakan manusia biasa, tetapi ketika meninggal dia dikuburkan dalam keadaan hamil. Setelah itu, makhluk menyeramkan tersebut bangkit dari kuburnya dan menyerang orang-orang yang ditemuinya. Tidak semua perempuan hamil yang dikuburkan bisa menjadi Bengsi. Konon, hanya perempuan hamil yang dikuburkan di dalam hutan oleh suku-suku primitif yang tinggal di hutan terpencil. biasanya kuburan tersebut tidak memiliki batu nisannya.

Share This: