Makhluk Jadi-jadian

Assalamualaikum wr, wbkt dan salam sejahtera. Nama saya Wahid (bukan nama samaran) ini kisah saya ketika berumur 18 tahun waktu itu saya masih SMA. Kebetulan malam itu saya dengan kawan-kawana berencana untuk berjaga di rumah pak Kumi’ yang sedang sakit. Maklum saya anak kampung jadi kami percaya bahwa ketika ada orang sakit pasti ada sosok makhluk jadi-jadian yang datang ke rumah orang sakit itu dengan tujuan menakut-nakutinya. Makhluk jadi-jadian itu seorang manusia yang melakukan kerja sama dengan jin *hehe, itu pemahaman saya sendiri sih.

Makhluk jadi-jadian yang ada di kampung saya itu bermacam-macam, ada yang berubah jadi anjing, ada yang berubah menjadi kucing, ada juga yang berubah menjadi kerbau atau sapi. Tapi kata orang-orang pintar yang ada di kampung saya kebanyakan makhluk jadi-jadian itu berbentuk kucing.

Jam menunjukkan pukul 01:00 di sinilah kami mulai berkonsentrasi atau lebih fokus untuk berjaga tiba-tiba saja pak Kumi’ berteriak, kami yang sedang melakukan penjagaan sontak berlari menuju ke sumber suara. Pas kami masuk ke dalam kamar pak Kumi’ istri dan anak-anaknya pada menangis melihat kondisi pak kumi’ waktu itu. Semua kerabat keluarga pada panik tiba-tiba pak Kumi’ bilang “ada orang di bawah kolong rumah”.

Karena kebetulan di kampung kami itu kebanyakan menggunakan rumah panggung. Mendengar embel-embel dari pak Kumi’ (ada orang di kolong rumah) kami yang berjaga langsung bergegas menuju ke bawah kolong rumah, dan benar adanya, ada seekor kucing yang telah berdiri di tiang tengah rumah sambil mencakar-cakar papan rumah tersebut.

Saya mengambil batu kemudian melemparkannya kepada kucing itu “*prakh” kepala kucing itu kena dan berlari ke belakang rumah kami yang berjaga di rumah pak Kumi’ nggak mau menghilangkan momen-momen yang sangat indah ini *hehe. Saya dan penjaga lainnya bernama Anto berlari mengejar kucing itu ke belakang rumah, Anto yang berlari dari samping kanan rumah itu dan saya berlari dari samping kiri rumah itu dalam keadaan yang sangat gelap dengan kecepatan berlari sekitar 30 km per/jam Alhamdulillah! “Gubrak”.

loading...

Kami berdua bertabrakan *hehe. Dan ironisnya kami beruntung jatuh ke dalam sumur yang terbuat dari batu kerang sungai dan kerikil dalamnya sekitar 7 meter. Saya menertawakan anto karena kebodohannya dan anto juga pun tertawa karena kebodohan yang saya punya jadi intinya kami berdua saling menertawakan *hehe.

Akhirnya kami keluar dari sumur itu dan berjalan menuju cahaya lampu dengan tujuan memeriksa apa ada yang terluka atau tidak, saya periksa tangan saya alhamdulillah nggak ada luka, saya lihat tangan anto juga alhamdulillah nggak ada. Pas saya ngelihat betis Anto “wow” itulah kata yang pantas saya gambarkan untuk menjelaskan kejadian pada waktu itu.

Saya terpukau serta takjub dengan luka yang ada di betis anto warnanya putih ke coklat-coklatan, lama-kelamaan saya lihat lagi kok jadi merah ya? Oh, ternyata itu tadi daging anto yang terkelupas, *hehe. Sejak saat itu kami lebih konsentrasi menjaga pak Kumi’ dari gangguan makhluk jadi-jadian, pokoknya ada kucing yang lewat kita hantam. Kucing jadi-jadian lewat kita hantam, kucing pak RT lewat kita hantam (antisipasi *coy) bahkan kucing pak Kumi’ juga kita musnahkan *hehe.

Anak bungsu pak Kumi’ yang cewek namanya Angjeli menangis-nangis karena itu salah satu kucing kesayangannya *hehe “maaf ya dek Angjeli, kami nggak tahu kalau itu kucing kesayanganmu”. Perlu di catat bahwa kisah di atas adalah fakta bukan fiktif belaka yang nggak di kurangi maupun di lebih-lebihkan karena ini adalah kisah lucu saya yang berbau mistis. Jadi bagaimana kisah anda? Sekian.