Makhluk Penunggu Tonjong Ciamis

Assalamualaikum wr.wb. Halo masih bersama dengan saya vicky satria lindy dengan yang di janjikan saya kemarin bahwa kali ini akan mengupdate kembali tentang kisah nyata yang pernah sering terjadi kecelakaan di tonjong ciamis, penasaran? Ayo kita baca selengkapnya.

Sore mendung, hujan rintik-rintik membasahi setiap sudut jalan, sementara laki-laki separuh baya tidak surut tetap melangkah sambil membawa karung lusuh kosong menyusuri jalan, dipinggiran tampak pohon-pohon rimbun seperti belum terjamah manusia, tidak tampak orang yang lewat jalan itu mungkin karena sore telah menjelang malam.

Entah sudah seberapa jauh laki-laki itu berjalan dan sudah berapa banyak perkampungan yang dilaluinya, memang sulit mencari rambut sisa yang sudah tidak terpakai yang bagi sebagian orang setelah rambutnya dipotong mungkin dibuang tidak mempunyai nilai, berbeda bagi pak maman baginya rambut-rambut sisa itu bisa menjadi pundi-pundi rupiah sebagai mata pencaharian untuk menghidupi anak istrinya di desa sebrang.

Kala itu sekitar tahun 1975 banyak orang yang berprofesi sebagai pencari rambut, namun salon-salon tempat cukur jarang bisa ditemui, hal itu karena biasanya orang-orang yang hidup di desa akan memotong rambutnya bergiliran dengan sanak saudara atau tetangga bahkan bisa mencukurnya sendiri, kemudian para pencari rambut akan datang membelinya, entah dibuat untuk bahan baku wig atau apa?.

Sekian lama dia berjalan belum kunjung menemukan perkampungan, pak maman tidak akan pulang sebelum karungnya terisi penuh oleh rambut, hari semakin gelap “wah saya harus cepat-cepat menemukan tempat beristirahat jangan sampai kemalaman di jalan” bisiknya dalam hati.

Saat itu dia tidak tau berada di daerah mana sebab memang sudah biasa baginya menyusuri perkampungan-perkampungan yang asing demi mendapatkan rambut. Samar-samar dia melihat sebuah gubuk bambu yang terletak beberapa meter dari jalan yang sedang dilaluinya, pak maman segera bergegas mempercepat langkah menuju gubuk bambu tersebut.

Tidak tampak orang dari luar hanya terlihat cahaya lampu lilin di dalam, melalui celah dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu, maklum listrik saat itu belum masuk desa. “Sampurasun, permisi” sapa pak maman sambil mengetuk pintu, tidak kunjung ada suara di dalam. “Sampurasun, permisi , ada orang di dalam?” ulang pak maman.

Perlahan terdengar suara langkah disusul suara pintu terbuka, “Rampes, siapa?” seorang nenek tua keriput dengan rambut panjang membukakan pintu, pak maman agak terkaget melihatnya namun dia berusaha menguasai diri “Ma.. maaf saya menggangu mau ikut berteduh dulu disini saya kemalaman di jalan”.

“Oh, silahkan mangga masuk kedalam” jawab perempuan tua itu sambil mempersilahkan masuk. Rupanya sang nenek tinggal bersama suaminya pasangan kakek dan nenek yang setelah mengobrol bernama nenek dan kakek rumbai, “ai ujang dari mana, terus mau kemana sampe bisa kemalaman” tanya sang nenek, kemudian pak maman menjelaskan tentang profesinya sebagai pencari rambut yang keluar masuk perkampungan sehingga dia sering kali kemalaman di jalan.

“aih tukang nyari rambut ujang te? atu ari rambut mah disini banyak jang, tuh lihat dekat pintu tengah” kata nenek itu sambil menunjuk ke arah ruang tengah. Pak maman agak keheranan meskipun dia terbiasa ikut bermalam di rumah-rumah warga namun dia merasa suasana malam ini agak aneh dan mencekam. Selain karena dipinggir gubuk itu ada sungai besar hujan yang rintik-rintik di luar membuat bulu kuduk berdiri ditambah banyak rambut panjang yang menumpuk seperti sengaja dikumpulkan.

“Sok aja ambil semaunya jang, gak usah sungkan-sungkan da disini juga enggak terpakai”. Suara nenek itu menyadarkan rasa takutnya yang membuat pak maman heran adalah kakek tua suami nenek itu dari semenjak dia datang tidak pernah bicara atau sekedar menyapanya, lelaki tua itu hanya duduk sambil menundukan wajahnya di depan lampu lilin sehingga pak maman tidak begitu jelas melihat wajahnya.

Namun rasa takut pak maman sedikit terusir oleh rasa bahagia karena mendapatkan rambut yang banyak sehingga karungnya terisi penuh. “Wah besok saya bisa langsung pulang nih” ujar maman dalam hati. “ujang pasti laparnya?” kata nenek itu sambil menyuguhkan butiran-butiran.

loading...

Pin BBM: 5F07281C

Share This: