Malam Kelam Persami (Perkemahan Sabtu Minggu)

Waktu itu usiaku masih menginjak 17 tahun, aku sekolah di sebuah SMU N 2 dibilangan Priyangan Timur tepatnya Kabupaten Ciamis. Untuk melengkapi persyaratan kelulusan kelas 3 para siswa-siswinya diharuskan memiliki beberapa sertifikat baik P4, Pesantren Kilat, maupun Ekskul kePramukaan. Karna aku adalah siswa pindahan dari sekolah di Jawa Tengah tentu saja aku tidak memegang salah satu dari sertifikat tersebut, karna disana tidak mengikut sertakan program pramuka.

Jadi mau tidak mau aku terpaksa ikut kegiatan kePramukaan yaitu Perkemahan sabtu dan minggu atau disebut Persami. Bukan hanya aku saja melainkan ada beberapa siswa dan siswi yang tidak punya sertifikat tersebut karena sama nasib dengan aku sebagai siswa pindahan. Ada 5 orang, 2 siswi dan 3 siswa dan kami pun belum saling mengenal. Keakraban kami terbina setelah adanya acara persami tersebut.

Persami diadakan disebuah kampung wilayah Ciamis Utara, sadananya nama daerahnya. Lokasinya berbukit-bukit dengan dihiasi hutan cemara. Siswa-siswi kelas 1 sudah mulai mendirikan tenda dibantu kakak pembina kelas 3. Karna kami juga peserta tapi kami kelas 3 jadi tidak ada jatah tenda, kami bikin tenda dari terpal ala tentara cukup terlindung panas dan hujan saja. Mereka mulai beraktivitas dengan regu masing-masing terkecuali regu kami, spesial regu tentunya karna kami kelas 3.

Semua berjalan lancar bahkan siswa-siswi baru begitu bahagia, bercanda ria di alam terbuka, menikmati sunyinya suasana. Tapi semua berubah setelah aktivitas api unggun, tepat tengah malam di acara renungan malam, acara berubah menjadi hal yang mengerikan. Pos penjagaan paling bawah nomor 1 tepat berada di wilayah hutan pinus, petugas ada yang kerasukan, dia menggeram dan gerak-geriknya layaknya seekor harimau.

Keributan di posko bawah mengundang perhatian kami. Aku mencoba menuruni tangga untuk melihat apa yang terjadi saat itu namun secara serentak terjadi kesurupan massal. Keributan membuat para pembina kewalahan bahkan mereka yang kesurupan menyerang siswa siswi lain. Untung saja datang kepala desa dan warga ikut membantu kami, dan diantara warga ada yang punya kelebihan untuk menolong mereka.

Alhamdulillah setelah 1 jam lebih semua bisa dikendalikan. Kepala desa bertanya kepada pembina apakah ada diantara kami yang melanggar pantangan diwilayah itu. Kami cuma geleng kepala karna tidak tahu apa yang jadi pantangan. Beliau menjelaskan bahwa hutan pinus ini dulunya itu sebagai tempat pembantaian di zaman jepang, banyak mayat berserakan di tempat itu (sambil menunjuk ke arah posko 1 ).

loading...

Harus banyak berdo’a jangan melamun. Kawasan sini masih sanget (angker) jadi jangan kosong pikiran. Setelah itu kami semua dievakuasi ke balai desa menunggu pagi baru kemas-kemas dan pulang. Sekian aja kisah dari saya, maaf kalau kurang serem, hehe salam aja buat japanesse troop sama Tati. JANGAN PERNAH BACA SENDIRIAN.

Share This: