Malam Pertama

Sebelum cerita tentang malam pertama, aku ingin menyapa para sobat dan penggemar KCH yang cantik dan ganteng, serta kak John yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung *sotoy nih, kayak tahu saja, tapi semoga memang seperti itu ya *hehe. Serta terima kasih kembali untuk Sezgina atau Gina, seingatku Gina seorang penulis ya? Aku dan teman-teman yang lain suka dengan ceritamu, dan cerita dari sobat KCH semuanya, kalian memang luar binasa *eh biasa.

Cerita kalian sukses membuat bulu kuduk berdiri *hehe. Awalnya, aku tak percaya dengan namanya hantu yang bisa mengganggu. Selama 16 tahun aku tidak pernah merasa terganggu atau merasakan kehadiran mereka seperti ala-ala film horor. Tapi saat aku menginjak umur 17 tahun, ada suatu hal yang membuat ketidakpercayaanku sirna, sesuatu ini akan aku ceritakan disini dengan judul malam pertama.

Ini bukan soal malam pertama pengantin atau honey moon *hehe, aku kan belum menikah *hihi. Tapi malam pertama waktu dimana aku terganggu dengan kehadiran mereka, diwaktu malam, dan pertama kali aku mengalaminya. Ok yuk *capcus kita kecerita. Simak baik-baik ya, nanti akan ada kuis dan yang bisa menjawabnya akan memperoleh hadiah, hadiahnya Umroh! hore! Pemenangnya akan menemuiku ditanah suci nanti *hah! Umroh masing-masing *donk! *gubrak. Gak usah ngomong kalau kayak gitu *dih sewot. Memang ini Yain kebiasaan bikin orang kesel.

Ya sudah itu gak penting, ayo kita simak ceritaku. Dinginnya angin malam membuat rasa kantuk melanda, aku lirik 12 deretan angka di dinding, jarum jam telah menunjukkan angka 9. Meskipun jendela kehidupan mulai ingin menutup hari untuk melepas penat seharian, menunggu mama, papa dan adik pulang membuatku mengurung niat untuk tidur. Aku sibukkan diriku menonton televisi acara komedi, yang membuatku tertawa hingga suara menggema diruangan itu.

Tak lama kemudian ada suara “tok, tok, tok! Tok, tok, tok! Tok, tok, tok”. Aku bergegas membuka pintu (televisi berada diruang keluarga, jika menuju kekamar tamu harus melewati kamar tengah, pintu dari kamar tamu kekamar tengah hanya dibatasi tirai merah atau gorden yang panjangnya sekitar 4 meter). Aku membuka pintu *clingak clinguk, tak ada siapapun. Aku memanggil “Ma! Pa!” menunggu dan berharap kalau mereka yang datang. Ternyata tidak ada siapa-siapa, dengan penuh kecewa aku pun mengunci pintu kembali dan menonton televisi lagi.

Tak lama kemudian, ada suara, ya, suara dering ponselku. Ternyata papa menelepon. “Assalamualaikum, Pa kapan pulang?” Aku langsung menjawab, tak lama ekspresiku langsung berubah, manyun. Ternyata mereka belum bisa pulang malam ini. Orang tuaku dipercaya menjadi tim sukses pasangan calon (paslon) Bupati saat itu, hal ini membuat mereka jarang ada dirumah dan meninggalkanku sendirian apalagi malam hari.

loading...

Tak lama kemudian “tok, tok, tok! Tok, tok, tok! Tok, tok, tok”. Aku langsung melirik jam, pukul 22.00! Siapa yang ingin bertamu malam hari seperti ini? Aku segera menuju ke kamar tamu, berusaha berpikir positif. Kali ini aku tak akan membuka pintu sebelum mengintip dari jendela, mencari tahu siapa yang ada diluar sana. *Deg! Tak ada siapapun! Karena penasaran, aku tetap membuka pintu, melirik kanan kiri, siapa tau ada orang yang iseng lalu sembunyi disamping, atau dibalik pohon (depan rumahku terdapat pohon rambutan yang besar, akar akar pohonnya pun besar merambat dihalaman rumah).

Ketika itu, aku merasakan hembusan angin bertiup dari luar, saat mengunci pintu dan berbalik arah untuk kembali menonton, tiba-tiba aku melihat bayangan, ya, bayangan putih itu menembus gorden sehingga kain gorden pun berkibar seperti diterpa angin yang bertiup kearah kamar tengah. Aku terdiam, terpaku, membisu, tanpa berpikir panjang, aku pun berlari kecil ke kamar televisi untuk mematikan televisi, lalu menuju kamar (kamarku berada disamping kamar tengah) semua lampu aku matikan kecuali kamar tengah yang cahaya lampunya tidak begitu terang.

Berusaha kupejamkan mataku, berharap untuk cepat pagi. Tapi apa daya, aku tak bisa tidur. Karena bunyi-bunyi bising yang berada dikamar tidur sebelah, terdengar seperti meja yang di seret seret, dan dengkuran yang lembut namun jelas. Lalu suara dari dapur, seperti suara kompor gas yang dinyalakan, lalu suara piring kaca dan panci yang seolah olah ditaruh dilantai. Aku pun berusaha menutup mataku rapat rapat agar cepat terlelap, semakin aku menutup rapat mata ini semakin tidak bisa tidur, akupun tidur dengan kegelisahan.

Tiba-tiba “*bruk!” suara dari depan televisi. Hah, apaan tuh? Kok suaranya gede banget! Kayak orang jatuh! Jangan-jangan maling! Ah bodo amat lah! Yang penting aku cepat tidur dan melek sudah pagi, gumamku dalam hati. Aku pun akhirnya tertidur, tak lama terlelap, aku kembali terbangun. Gara-gara ada suara aneh, bunyinya seperti antara suara manusia dengan suara kayu yang dipukul, “pok, pok, pok, pok, pok, pok, pok” begitu seterusnya tidak berhenti, aku pun kesal karena terbangun gara-gara suara itu, apalagi suara itu berasal dari luar, dekat jendela kamarku, dan tempat tidurku menempel ketembok yang ada jendelanya itu.

*Waduh! Brisik banget si, Aku melihat ponselku untuk mengecek jam, astaga, masih jam 00.05 pagi! Ya ampun, lama sekali untuk menunggu mentari pagi. Aku kembali menutup mata, dan menutup telinga karena asli, suara itu ganggu banget. Akhirnya, aku pun tertidur. Saat bangun, adzan subuh telah berkumandang kutengok kamar mama dan papa, ternyata mama, papa dan adekku sudah berada dirumah. Alhamdulillah, akhirnya, setelah pulang sekolah, aku cerita ke mama mengenai kejadian semalam, lalu mama terkejut. Sambung dicerita malam pertama part 2 ya!

Yain Bidadari Angkot

Fitri Yain Anrola

MALAIKAT BAYANGAN konsultasi mengenai ghaib jarak jauh dengan Pak Dul.informasi lebih lanjut kunjungi Blog : Pemusnah Ilmu Ghaib http://pusat1lmu.blogspot.co.id/2014/10/pemusnah-ilmu-ghaib-pengobatan.html?m=1facebook : Yain wa : 081280410615 makasih sudah baca ceritaku

All post by:

Fitri Yain Anrola has write 34 posts