Manusia Gunung Part 2

Sebelumnya manusia gunung. Halaman villa ini sangat luas. Hanya kurang perawatan saja. Rumput ilalang tumbuh dimana-mana. Sebagian pagar kayunya sudah berlumut dan lapuk. Sangat jelas terlihat villa ini tidak diurus pemiliknya. Ya, semenjak nenek meninggal, sudah jarang kami berkunjung kesini. Tukang bersih-bersih hanya datang seminggu sekali. Kadang-kadang tetangga yang akrab sama nenek dulu, dengan suka rela membersihkan halaman ini.

Jalan didepan villa bukanlah jalan aspal. Tapi jalan tanah liat berkerikil. Jarang ada motor apalagi mobil yang lalu-lalang. Keseringan sepeda. Baik itu sepeda onta ataupun sepeda gunung. Siang yang cukup terang, meski hawa tetap dingin, pemuda-pemuda yang tinggal disekitar daerah ini asyik berkeliling bolak-balik dengan sepeda gunung mereka. Saat melihat aku keluar mobil setelah mengambil nasi, salah seorang dari mereka melihat kearahku dan tersenyum.

Aku balas dengan senyum yang lebih manis. Dia malah mengayuh sepedanya memasuki pekarangan villa. Agak gelagapan aku berusaha tenang. Ternyata laki-laki ini manis sekali. Tubuhnya agak kurus, kulitnya putih pasi, senyumnya manis karena gigi-giginya berjejer rapi dan bersih. Dia hanya menggunakan celana jeans oblong, kaos tipis dan jaket.

“Baru pindah ya?” tanyanya sopan, masih duduk diatas sepeda gunungnya. Aku menggeleng dan tersenyum semanis mungkin alias tebar pesona.
“Nggak. Cuma stay beberapa hari saja” jawabku sesingkat mungkin supaya tidak ketahuan kalau lagi grogi.
“Oh. Aku Dyllan” dia mengulurkan tangannya dan langsung aku sambut.

“Zizi” aku pun memperkenalkan namaku. Dia sedikit lama menggenggam tanganku, membuatku panas dingin.
“Bukannya udara disini dingin ya?” pertanyaan aneh menurut telingaku. Tapi tetap aku jawab sopan.
“Iya, dingin banget”.
“Tapi kok tangan kamu keringatan? Nggak lagi sakit, kan?” ternyata itu maksud pertanyaan Dyllan tadi. Aku gelapan tapi berusaha tenang.

“Nggak. Aku nggak sakit. Cuma *em, itu, baju aku ketebalan” jawabku asal. Belum sempat Dyllan menanggapi jawabanku, aku siap-siap menjauh.
“Aku masuk dulu ya. Mau makan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Dah, Dyllan”.

Aku langsung masuk kedalam tanpa berniat melihat ekspresi Dyllan. Lebih lagi ketika sadar ternyata aku hanya menggunakan dress tipis selutut. *Tok! Tok! Tok, baru saja aku menghabiskan suapan terakhir, pintu rumah diketuk. Mungkin relasi mama. Setelah cuci tangan, setengah berlari aku membuka pintu. OMG! Lelaki itu lagi. Bukan si manis Dyllan. Tapi manusia gunung! Kali ini wajahnya benar-benar tepat dihadapanku.

Keningnya keriput, berkumis dan berjenggot tebal yang sudah mulai beruban. Badannya agak berisi dan tidak terlalu tinggi. Kulitnya pucat pasi. Tatapannya tajam. Dia membawa ransel lusuh, menggunakan sepatu boot kumuh dan jaket kusam. “Mama!” aku berlari sekencang yang aku bisa sambil beteriak memanggil mama. Aku mendengar langkah kaki mendekat dari kamar mama. Aku peluk mama ketika bertemu sosoknya.

“Ada anu ma, manusia gunung!”.
“Zizi! Jangan bercanda *dong” mama malah menanggapiku santai dan berjalan mendekati ruang tamu. Aku mengikuti mama dari belakang. Lelaki itu masih berdiri diluar! Aku harus pastikan bukan hanya aku yang bisa melihatnya.

“Mama bisa lihat laki-laki itu kan?” bisikku.
“Ya bisalah! Selamat siang pak Johan” dengan ramah mama menyapa lelaki itu. Dia membalas sapaan mama dengan senyuman manis, bukan seram seperti di televisi.

“Maaf ya pak. Anak saya ini suka menghayal yang nggak-nggak”.
“*Indak ba’a do buk. Muko ambo seram condo hantu tu takuik anak ibuk” pak Johan tertawa renyah.
“Tadi ambo kasiko, anak ibuk jo nan buko pintu. Dek takuiknyo, ambo tunggu sajo ibuk pulang karojo” (tadi saya kesini, anak ibu juga yang buka pintu. Karena takut dia, saya tunggu saja ibu pulang kerja).

“Maaf sekali lagi pak. Anak saya nggak tahu. Bapak bisa mulai kerja hari ini” lagi-lagi mama minta maaf karena kebodohanku. Kemudian pak Johan berlalu.
“Jadi?”.
“Iya. Pak Johan tukang kebun yang mama hubungi kemarin. Kamu sih jadi malu sendiri, kan?”.

Syukurlah kalau manusia gunung itu hanya cerita khayalan mama saja. Aku bisa lega tinggal di villa sendirian kalau mama kerja. Pagi ini aku juga memilih tinggal di villa, lebih lagi setelah tahu ternyata “manusia gunung” itu hanya cerita fiktif.

loading...

“Jangan kemana-mana ya Zi. Sebentar lagi pak Johan kesini, kerjaannya belum selesai kemarin. Dari pada nggak ada kerjaan, mendingan entar kamu ikut bantuin saja. Mama pergi dulu”. Setelah Mama pergi, aku segera mandi dan berpakaian rapi. Bukan bermaksud melanggar pesan mama, aku hanya ingin keliling pekarangan villa saja. Aku lihat ada ayunan didepan bagian kiri.

Di sini aku duduk dengan jaket tebal. Menikmati sejuknya udara pedesaan. Di depan villa terhampar hutan pinus yang luasnya berhektar-hektar. Di samping kiri dan kanan memang tidak ada rumah penduduk. Namun beberapa meter saja berjalan, sudah terlihat permukiman penduduk yang tidak terlalu padat. Termasuk rumah pak Johan diantaranya.

Pagi-pagi begini, jalan tanah didepan vila sudah lumayan ramai. Ada tukang sayur dengan sepedanya. Ada juga petani dengan kerbaunya. Pemuda-pemuda kemarin siang juga lalu lalang. Ada Dyllan diantara mereka. Dyllan menghentikan sepedanya didepan gerbang villa. Dia memandangku. Sepertinya kali ini dia yang ingin dihampiri. Bersambung ke manusia gunung part 3.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 96 posts

loading...