Manusia Gunung Part 3

Sebelumnya manusia gunung part 2.

“Kok pagi-pagi sudah main sepeda?” tanyaku heran ketika sudah tiba.
“Main? Aku habis ngantar sayur-sayuran ke pasar” jawabnya sambil tertawa.
“Oh. Maaf. Aku kirain kamu memang main sepeda dari pagi sampai sore”.
“Jalan-jalan yuk!” ajaknya tanpa basa-basi.

Tawaran yang bagus. Tapi, bagaimana dengan pesan mama? *Em, aku ijin saja sama pak Johan.

“Pak aku keliling-keliling sebentar ya nggak lama kok” aku berteriak memberi tahu pak Johan. Beliau hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
“Kita mau kemana?” tanyaku pada Dyllan saat kami sudah beberapa meter menjauh dari villa.
“Kamu rugi kalau kesini tapi nggak tahu apa yang istimewa ditempat ini” hanya itu jawabannya, dan tambah semangat mengayuh sepeda.

“Jangan laju-laju *dong. Aku kan jalan kaki” teriakku saat tertinggal jauh darinya. Aku khawatir juga kalau sampai kehilangan jejak, karena kami memasuki gang-gang kecil. Dyllan spontan menghentikan sepedanya dan menungguku.

“Dari tadi aku yang enak. Kamu deh, yang naik sepeda. Gantian” Dyllan langsung turun dari sepeda ketika aku berhasil menyusulnya. Dengan senang hati aku naik dan berniat balas dendam.
“Dadah Dyllan aku duluan” aku mengayuh sepeda gunung itu dengan kencang dan sekuat tenaga sehingga Dyllan tertinggal jauh dibelakang.

“Zizi” Dyllan berteriak memanggilku. Barangkali capek.
“Capek ya? Kamu kan laki-laki. Lari *dong. Masa gitu saja nyerah” aku malah menggodainya.
“Bukannya gitu. Harusnya kamu belok sini” Dyllan menunjuk tikungan disampingnya.

Oh aku lupa kalau aku sama sekali tidak tahu jalan. Dyllan membawaku ketempat yang benar-benar indah. Sebuah sungai yang jernih dan dangkal. Ini baru petualangan namanya. Kami duduk diatas bebatuan besar ditepi sungai itu. Suara aliran arus sungai membuat suasana jadi romantis.

“Kapan kamu balik ke Riau?” tanya Dyllan. Aku yang tengah menikmati alam sedikit kaget.
“Lusa mungkin. Kok tahu aku dari Riau?”.

*Em, kira-kira sudah sejauh apa ya Dyllan tahu tentang aku? Diam-diam ternyata dia menyelidiki juga. Atau mungkin dia tanya-tanya sama pak Johan tentang aku. Aduh kok jadi GR gini ya?

“Oh. Ya tahulah. Plat mobil kamu”.

Gubrak! Ternyata dari situ. Ternyata memang aku yang ke-GR-an.

“Iya, ya. Ngomong-ngomong, rumah kamu dimana Lan?” aku berusaha menutupi rasa maluku.
“Nggak jauh dari sini kok. Kapan-kapan aku ajakin deh”

Setelah itu dia mengajak aku bermain air di sungai. Awalnya aku takut. Nanti kalau mama pulang duluan dan melihat aku basah-basahan, malah disangka ngapa-ngapain. Tapi rugi juga kalau tidak mencoba air sejuk ini. Mungkin besok aku tidak punya waktu lagi.

“Aduh dingin banget airnya” baru memasukkan satu kaki kedalam air, rasanya seluruh tubuhku beku.
“Nanti juga terbiasa. Kenapa sih, takut-takut gitu?”.
“Mama, dia ngelarang aku keluar sebenarnya” ujarku kaku. Malu karena membuka kartu kalau sudah melanggar janji.

“Kok nggak bilang dari tadi?” Dyllan terlihat agak kecewa.
“Maaf. Aku cuma bosan dirumah” ujarku penuh penyesalan.
“Ya sudah nggak apa-apa. Pulang yuk. Entar malah keburu pulang mama kamu”.

Kami pun pulang dan terus bercengkrama sepanjang perjalanan.

“Kok segitunya mama kamu ngelarang keluar rumah?” tanya Dyllan setiba kami digerbang villa. Sepertinya pak Johan sedang istirahat dan kembali kerumahnya.
“Alasan-alasannya kurang logis. Takut aku kena flu lah, takut aku kesasar lah, takut ada manusia gunung lah, macam-macam deh pokoknya”.

“*Haha. Wajarlah mama khawatir sama anaknya. Manusia gunung? Cerita itu memang terkenal disini. Kamu tahu kan? Mereka yang mati saat mendaki gunung Talang, ada yang tersesat, ada yang kelaparan dan kedinginan. Konon, sewaktu-waktu mereka berkeliaran disekitar kita mencari seorang teman”.

Mendengar cerita itu kembali, membuat takutku datang lagi.

“Jadi cerita itu benar? Kata mama cuma fiktif aku sampai malu karena mengira pak Johan itu manusia gunung”.
“Terserah kamu. Boleh percaya atau tidak. Tapi aku sarankan hati-hati. Terkadang dia terlihat tidak mencurigakan. Tapi dibalik itu, dia menyimpan sesuatu”.

Pernyataan terakhir Dyllan membuat aku bergidik ngeri. Bayangan pak Johan menghantui kepalaku. Hingga malam ini aku jadi sulit tidur. Besok aku berencana ikut mama. Aku tidak mau lagi ditinggal dengan orang yang belum jelas alias pak Johan. Akibat tidur terlalu larut, aku jadi bangun agak kesiangan. Di tambah lagi pagi ini cahaya matahari tidak sampai menembus jendela kamar.

loading...

Kabut pekat menyelimuti kecamatan gunung Talang yang menyebabkan mataku susah membedakan antara jam 6 pagi dan 9 pagi. Aku berniat ingin ikut mama hari ini. Aku berjalan mendekati kamar mama yang ternyata sudah kosong. Aku berlari kedapur, ternyata juga kosong. Aku lihat jendela depan, mobil mama sudah lenyap.

Aku ditinggal sendiri lagi! Segera aku mandi dan memakai jaket yang paling tebal. Aku keluar dan aku kunci pintu rumah. Aku mau menunggu Dyllan saja. Aku tidak mau tinggal dirumah bersama pak Johan. Bersambung ke manusia gunung part 4.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 78 posts